5.25.2010

Penerapan al-Qudus Untuk Meraih Hidup Sukses

Oleh: Bambang Marhiyanto

Al-Quddus adalah salah satu dari 99 asmaul husna. Al-Qudus artinya Maha Suci atau Maha Bersih dari segala kekurangan. Dia menamakan diriNya dengan al-Quddus karena Dia bersih dari segala sifat ‘kesempurnaan’ yang duga oleh banyak makhluk. Kesucian Allah tidak menerima perubahan, tidak disentuh oleh kekotoran, dan terus menerus terpuji.

Dialah Allah Yang tiada Ilah selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. QS. al-Hasyr 23.

Allah adalah Dzat Yang Maha Suci. Ini dapatlah dipahami bahwa Dia memiliki Kesucian yang mutlak. Suci karuniaNya. Suci pemeliharaanNya. Suci keagunganNya, suci keputusanNya, suci takdirNya, suci segala yang menjadi sifatNya. KesucianNya tidak dinodai oleh apa pun. Oleh karena itu, sebagai hambaNya yang beriman, kita hendaknya bertasbih kepadaNya.

Dan tasbihkanlah Dia (Allah) pada tiap-tiap pagi dan petang. QS. al-Ahzab 43.

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maka Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. al-Jumah 1.

Tasbih adalah mengakui kesucian Allah dari segala yang tidak layak bagiNya dan mengakui kesucian Allah dari segala kekurangan.
Ketika meniupkan roh ke dalam diri manusia (yang masih berupa bakal janin) ditaburkan pula sebagian kecil asma Allah –al-Quddus–. Sehingga keadaan manusia di saat itu suci dan bersih. Taburan sifat quddus tersebut melekat di dalam ruh dan di hati nurani.

Ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang menjijikkan dan jorok, apa yang terlintas di hati kita? Ada dua tempat. Satunya kotor dan lainnya bersih. Manakah yang kita pilih? Secara nurani, kita akan condong pada sesuatu yang bersih dan membenci sesuatu yang kotor. Ini merupakan bukti bahwa di dalam diri kita ada potensi untuk menyintai kebersihan dan kesucian. Hanya saja karena pengaruh lingkungan ketika kita dibesarkan atau pengaruh pergaulan sehingga sifat fitrah qudus itu diabaikan. Manakala kita dihadapan sesuatu yang sesungguhnya “kotor” namun karena ada dorongan nafsu dan keinginan sehingga menyukainya, maka tolakan nurani tidak kita pedulikan.

Pada umumnya, setiap orang menyukai sesuatu yang bersih dan suci. Sebaliknya mereka membenci dan menghindari yang kotor.

Pengamalan sifat quddus ini dapat dimulai dari diri sendiri. Pertama sekali hendaknya kita biasakan memasang niat yang suci, bersih dan terpuji. Jadilah manusia yang berjiwa besar dan selalu berpikir positif. Jika kita membiasakan yang demikian ini, dalam waktu dekat akan dapat merasakan perubahan yang lebih baik dalam diri kita. Bahkan kita akan menjadi terkejut terhadap perubahan dan sukses yang luar biasa.

Segala amal perbuatan itu bergantung niat. Niat berada di dalam hati. Ketika kita memiliki niat buruk, pasti hati nurani kita akan memperingatkan dengan memunculkan pikiran berbagai dampak dan resiko apabila hal itu dilaksanakan. Misalnya, kita merencanakan niat buruk untuk membunuh seseorang. Pasti kita akan merasakan bisikan nurani yang mencegah perbuatan itu. Bisikan itu bisa jadi sebuah pertimbangan dari resiko dan konsekwensi perbuatan itu. Jika kita mau mendengarkan bisikan hati nurani maka niat yang buruk (tidak suci) itu tidak jadi dilakukan. Tetapi jika yang kita dengar adalah hawa nafsu dan bisikan setan, maka bisikan hati kita abaikan.

Hal ini menunjukkan bahwa pancaran al-quddus telah melekat dalam sifat fitrah manusia. Secara nurani kita menyukai kesucian, baik wujud nyata maupun wujud absrak. Wujud abstrak termasuk niat tadi. Oleh karena itu sebuah keputusan akan mendapatkan dampak positif apabila diawali oleh niat yang baik dan mendengarkan bisikan nurani.

Seorang pimpinan sebuah perusahaan atau kepala bagian personalia hendak berniat memecat salah satu karyawannya. Sebenarnya alasan untuk mem-PHK karyawan itu tidak terlalu krusial namun lebih dipengaruhi oleh emosi. Ketika hendak mengambil keputusan, hati nuraninya mulai berbicara. Banyak pertimbangan yang muncul. “Dia, pegawaiku itu sudah berpuluh tahun bekerja di tempat ini. Hidupnya menggantungkan gaji. Ia memiliki anak yang sedang sekolah dan butuh banyak biaya. Jika ia tidak bekerja bagaimana nasib mereka. Korban PHK bukan hanya untuk pegawai saja saja, tetapi berdampak pada anak dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Kesalahannya toh tidak terlalu parah. Masih bisa diperbaiki. Selama ini ia jujur dan ulet.”

Itulah bentuk bisikan nurani yang suci. Jika pimpinan tersebut mempertimbangan atas dasar niat baik dan bisikan hati yang dalam. Tentu niat buruknya akan diabaikan. Karyawannya tidak jadi dipecat.

Oleh sebab itu, niat menentukan sebuah amal perbuatan. Orang bijak dan berhasil dalam hidup senantiasa memiliki niat yang baik terhadap pekerjaannya, terhadap orang-orang di sekitarnya dan terhadap Robbnya. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu bergantung pada pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang diniatkannya.” HR. Bukhari.

Amalan yang pertama sekali untuk mewujudkan al-quddus dalam diri sendiri adalah membiasakan memasang niat suci. Karena Allah menyukai kesucian.
Setelah terbiasa memasang niat suci (bersih dan terpuji), selanjutnya dikembangkan untuk menjaga hati. Untuk hal ini, hendaknya kita yakini adanya sifat al-Quddus dan kita agungkan, bahwa sifat Allah adalah Maha Suci. Pahamilah makna al-Quddus, selanjutnya dihayati dan kemudian bangkitkan keinginan agar hati kita mendapatkan pancaran itu. Sesungguhnya orang yang mampu memelihara kebersihan hati, tingkah lakunya menjadi terpuji.

Agar dapat memelihara kebersihan hati, kita harus membiasakan berpikir positif. Mulai hari ini ubalah kebiasaan berpikir negatif, karena identik dengan sesuatu yang ‘kotor’, karena kita ingin pancaran al-quddus menyirami jiwa kita.

Biasakanlah untuk berpikir positif dan berprasangka baik. Kebiasaan terpuji itu membuat mental dan jiwa kita sehat. Keadaan tersebut mempengaruhi pula keadaan jasmani. Fisik kita pun menjadi tidak mudah terkena penyakit.

Dalam hidup ini, sesuatu yang baik tetapi kita pandang buruk, akhirnya berdampak buruk pula bagi pribadi kita. Seseorang yang sukses selalu berprasangka baik dan berpikir positif. Karena sikap dan kebiasaan tersebut ia selalu meraih keberhasilan. Cara mereka berpikir dan berprasangka baik itu mendorong jiwa dan semangatnya untuk mencapai cita-cita.
Berprasangka baik dan berpikir positif merupakan pengamalan dari al-quddus. Yakni berjiwa bersih, berpikir bersih dari prasangka buruk, dan berniat baik.

Terbiasa berprasangka baik akan menjadikan jiwa tenang. Hati menjadi lembut kepada setiap orang. Sejak saat ini cobalah untuk mengawal hati dan senantiasa memandang semua teman-teman dan orang disekitar kita dengan prasangka baik. Dalam waktu yang tidak lama hati kita merasa damai dan tenang menjalani hidup.

Di samping berprasangka baik kepada sesama, yang juga lebih penting adalah berprasangka baik kepada Allah. Tanamkanlah sebuah keyakinan bahwa selamanya Allah senantiasa berkehendak baik kepada hambaNya. Keadaan buruk semisal musibah, bencana, sakit, kemiskinan hanyalah cara pandang dan cara berpikir manusia. Sesungguhnya di balik sesuatu yang terkesan ‘tidak menyenangkan’ itu mengandung sebuah kebaikan.

Suatu misal, kita sedang mendapatkan cobaan berupa sakit. Jika mental kita dipengaruhi oleh hawa nafsu, tentu tidak akan dapat merasakan pancaran al-quddus. Artinya, kondisi sakit itu kita hadapi dan kita rasakan sebagai malapetaka yang menyiksa. Kita merasa bahwa Allah memberikan cobaan yang sangat berat. Atau mungkin justru menggerutu. Keadaan yang demikian ini membuat hati kita tidak sabar. Ketidaksabaran menjadikan jiwa kita menghambat kesembuhan penyakit tersebut.

Namun jika kita terbiasa berpikir positif dan berprsangkan baik kepada Allah, mungkin di sela-sela menghadapi penderitaan kita berkata, “Alhamdulillah, Allah masih sayang kepadaku. Penyakit ini merupakan hikmah. Jika tidak sakit, tentu diriku tidak bisa menikmati sehat. Barangkali penyakit ini membuatku semakin bersyukur kepada Allah ketika telah sehat dan merasakan bahwa sehat itu mahal harganya.”

Begitu pula seandainya keadaan hidup kita masih belum beruntung, cobalah untuk merenung dan bersabar. Katakan pada diri sendiri, “Saat ini aku masih belum mendapatkan kejayaan. Semua itu Allah Yang mengatur karena Dia tahu. Siapa tahu jika aku diberi kejayaan dan harta melimpah kemudian menjadi lupa diri.”

Segala sesuatu jika dipikir secara positif dan selalu berprasangka baik kepada Allah, maka hidup kita menjadi nyaman dan indah.

Pengamalan al-Quddus lainnya secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari ialah menjaga kebersihan lingkungan. Biasakanlah untuk hidup bersih, misalnya membersihkan rumah dan kantor di pagi hari. Pekerjaan ini bisa dalam bentuk menyapu lantai, merapikan perabot dan mengelap debu dengan dilakukan secaar teratur. Suasana rumah dan tempat kerja yang bersih mempengaruhi cara berpikir dan aktivitas untuk lebih produktif.

Kebersihan diri juga termasuk pengamalan sifat al-Quddus ini. Biasakanlah untuk menjaga kebersihan badan dengan mandi dan menjaga dari najis. Misalnya mandi minimal dua hari sekali dan menggosok gigi. Mengenakan pakaian yang bersih dan rapi. Penampilan ini mempengaruhi keberhasilan kita dalam berusaha. Orang yang memandang merasa senang terhadap kita.

Sesungguhnya pengamalan “kesucian/kebersihan” tersebut dapat kita kembangkan dalam berbagai hal. Inilah yang dimaksud dengan perwujudan dzikir dengan al-Quddus. NEXT

5.17.2010

Penerapan "AL-MALIK" untuk Mencapai Keberuntungan

Oleh: Bambang Marhiyanto


Al-Malik mengandung makna raja atau penguasa. Namun sifat ini tidak boleh disamakan dengan raja-raja atau penguasa di dunia. Memang Allah menyebut dirinya sebagai al-Malik (raja/penguasa). Kedudukan raja bagi Allah dimaknai sebagai Dzat yang berkuasa dan tidak butuh kepada segala sesuatu. Dia memiliki segala sesuatu. Apa yang dimilikiNya diciptakanNya sendiri, bersumber dariNya. Segala sesuatu menjadi milikNya. Dia berhak melakukan apa saja terhadap milikNya.

Berbeda dengan raja-raja di muka bumi. Mereka memang berkuasa, tetapi butuh kepada rakyatnya. Tidak ada rakyat, ia tidak bisa berkuasa. Terhadap sesuatu mereka berusaha memiliki dengan jerih payah. Mereka tidak bisa menciptakannya sendiri. Lagi pula kekuasaannya sangat terbatas. Oleh sebab itu Allah disebut sebagai Maha Raja yang menguasai raja-raja.

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” QS. Thaha 114.

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya tidak ada Illah (yang berhak disembah) selain Dia, Robb (Yang mempunyai) Arsy Yang Mulia. QS. al-Mukminun 116.

Ada yang berpendapat bahwa al-Malik mengandung makna Yang memiliki segala-galanya, tidak membutuhkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. Bahkan wujud segala sesuatu bersumber dariNya atau dari sesuatu yang dariNya. Maka segala sesuatu selainNya menjadi milikNya dalam zat dan sifatnya dan membutuhkanNya. Itulah Raja yang mutlak.

Allah al-Malik berarti Maha Raja. Berarti pula memiliki kerajaan yang Dia buat sendiri. Kerajaan yang dimaksudkan adalah kekuasaan yang tiada terbatas. Bahkan Dia memberikan kerajaan-kerajaan kepada orang yang Dia kehendaki. Kemudian Dia juga mencabut kerajaan-kerajaan dari tangan orang yang dikehendakiNya.

Kerajaan artinya kekuasaan. Maha Raja berarti Maha Menguasai atau Maha Kuasa. Oleh sebab itu jika kita memiliki kedudukan dan kekuasaan, sebesar apa pun bentuk kekuasaan itu hendaknya diingat bahwa kita berada dalam genggaman Allah. Seorang pemimpin organisasi dianggap memiliki kekuasaan kepada anggotanya, seorang manajer merupakan penguasa atas bawahannya, seorang direktur, kepala sekolah, bahkan kepala rumah tangga, mereka adalah penguasa atas kelompoknya. Janganlah kiranya kita berbuat dzalim, ingatlah bahwa kerajaan (kekuasaan) Allah lebih hebat dan mampu mencabut kekuasaan kita.

Mengamalkan al-Malik Untuk Meraih Keberuntungan
Ada yang berpendapat, berdzikir dengan asma al-Malik secara terarur dan istiqamah, niscaya engkau akan dianugerahi oleh Allah kekayaan yang berlimpah, kekuasaan dan dihormati orang lain di tengah-tengah masyarakat.
Pendapat ini tidak jelas sumbernya, namun jika dicermati mengandung pesan yang tersembunyi dan perlu penjabaran. Barangkali berdzikir yang dimaksudkan bukan sekedar untuk mengucapkan kata al-Malik. Namun lebih dari itu, kita perlu menghayati, memahami dan menerapkan dalam sikap dan perilaku. Jika demikian, maka kita akan dapat merasakan perubahan pada diri sendiri dan pada kehidupan kita secara luar biasa.

Pertama sekali kita harus beriman bahwa Allah memiliki nama indah, yaitu al-Malik. Dia Maha Kuasa atas segala-galanya. Dia Maha raja atas raja-raja. Dia memiliki segala yang ada. Karena Allah adalah Maha Raja, siapa pun raja di dunia ini adalah hambaNya, tak terkecuali kita. Artinya, dalam segala hal dan kebutuhan, kita bergantung kepadaNya. Bukan bergantung kepada selainNya.

Setelah itu kita bangkitkan kesadaran dari dalam diri kita dengan sesadar-sadarnya bahwa kita tidaklah mampu melakukan apa pun kecuali kekuasaan dan kehendak Allah swt.

Jika kita telah mengaku sebagai orang beriman, maka hendaknya mampu memaknai sifat al-Malik asma Allah ini. Artinya kita haruslah menyadari bahwa kekuasaan dan kedudukan duniawi hanyalah sebuah permainan di dalam sandiwara. Ia bersifat sementara. Kekuasaan hakiki semata milik Allah. Jika manusia tergila-gila dengan kedudukan dan jabatan, apalagi untuk mencapainya dengan cara yang tidak terpuji, maka orang semacam ini benar-benar tertipu.

Manusia memang dibekali Allah sifat fitrah ‘malik’ ini, yaitu cenderung menguasai. Sifat fitrah tersebut berupa keinginan yang senantiasa baik dan terpuji. Sebuah keinginan yang dapat menguntungkan diri sendiri tetapi tidak merugikan orang lain. Namun sejalan dengan berkembangnya usia, sifat fitrah itu perlahan-lahan dikalahkan oleh hawa nafsu. Sehingga keinginan yang mendorong semangat sering karena hawa nafsu.

Agar sifat malik (raja/menguasai) itu tetap sejalan dengan fitrah dan bermanfaat bagi kita, maka al-Malik haruslah diwujudkan dalam amalan; sikap dan perilaku. Pertama sekali, kita harus menjadi penguasa yang tegas dan bijaksana terhadap diri dan nafsu kita sendiri.

Menguasai diri menjadi begitu penting. Menguasai diri sama dengan mengendalikan hawa nafsu. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Orang gagah itu bukanlah karena kekuatan fisiknya. Orang gagah adalah yang mampu menguasai dirinya saat ia marah.” HR. Bukhari.
Marah merupakan keadaan yang timbul atas dorongan hawa nafsu.

Sedangkan menguasai diri adalah sebuah kesadaran yang mulia dan terpuji. Ia merupakan pancaran dari al-Malik tersebut.

Dalam keseharian, jika kita mampu menguasai diri (menjadi raja untuk diri sendiri), insya Allah akan selamat. Perhatikanlah orang-orang bijak dan berhasil dalam kariernya, mereka selalu dapat menguasai diri ketika sedang mengambil keputusan, ketika sedang berhadapan dengan orang lain dan sebagainya.

Seorang penjual, ia tidak akan sukses menjual barangnya jika ia tidak mampu menguasai diri ketika berhadapan dengan calon pembeli. Pada umumnya calon pembeli akan bersikap defensif (menutup diri) . Mereka suka menjatuhkan kwalitas barang yang ditawarkan kepadanya dengan harapan mendapatkan harga murah. Posisi penjual di sini adalah melayani dengan sabar. Ia harus bisa menghadapi sikap pembeli. Jika penjual dapat menguasai diri dan mampu menahan emosinya, ia justru akan dapat menguasai diri calon pembeli. Ia akhirnya sukses menjual barang.

Mulai hari ini cobalah untuk belajar menguasai diri dan mengalahkan hawa nafsu. Hidup akan terasa nyaman, indah dan tanpa beban jika seseorang mampu menguasai dirinya dari dorongan hawa nafsu.

Seorang penguasa jika tidak dapat menguasai dirinya, justru kekuasaannya akan jatuh. Seorang pimpinan jika tidak dapat menguasai diri dalam menyikapi permasalahan terhadap anak buahnya, maka kebijaksanaannya tidak akan dapat diwujudkan karena tidak mendapat dukungan. Orang kaya yang terlena dengan kekayaannya dan memanjakan diri dalam bermewah-mewahan, berarti tidak dapat menguasai diri. Ia dikendalikan oleh hawa nafsunya. Hartanya digunakan untuk memenuhi kesenangan. Padahal kesenangan duniawi itu bersifat sementara. Jika menuruti hawa nafsu dan tidak dapat menguasai diri, tentunya akan dipermainan dengan kesenangan duniawi. Padahal kesenangan duniawi itu tiada batas. Satu tercapai, muncul keinginan baru. Begitu seterusnya.

Jika orang kaya mampu mengendalikan diri (menjadi raja untuk dirinya sendiri) tentu bisa menyederhanakan keinginan. Ia manfaatkan hartanya dengan disertai rasa syukur. Ia hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai insan yang bermanfaat. Suka menolong, bersedekah dan menginfaqkan sebagian kekayaannya untuk kepentingan terpuji.

Agar dapat menguasai diri, hendaknya kita banyak-banyak bersyukur pada setiap keadaan. Ingatlah hanya Allah Yang Berkuasa memberi rejeki dan kenikmatan. Jangan terlena dengan harta kekayaan dan kemampuan yang kita miliki. Tanpa kehendakNya, kita tidak berarti apa-apa.

Kita telah menyatakan beriman (yakin) terhadap Allah dan asmaNya yang indah (99 asmaul husna) maka kita harus bertakwa. Di dalam takwa terdapat sabar dan syukur. Syukur merupakan perwujudan pengakuan bahwa Allah jua yang memberi rejeki dan kenikmatan. Untuk bisa bersyukur, perlu kita mengendalikan diri.

Sekali lagi, jadilah penguasa atas diri sendiri dan hawa nafsu. Jangan sampai dikuasai hawa nafsu. Bentuk-bentuk perbuatan yang didorong oleh hawa nafsu itu misalnya sombong, pamer, mencuri, menipu, korupsi, berzina, menghasud, membenci, curang dalam menjual, licik dan sebagainya.
Jika kita beriman dan meyakini Allah sebagai Raja dan Maha Penguasa atas segala sesuatu, maka sesungguhnya di dunia ini tiada yang ditakuti kecuali Allah.

Oleh karena itu jangan takut kecuali kepada Allah. Sandarkan harapan kepadaNya. Jika Allah berhekendak, maka segala sesuatu akan dapat terwujudkan. Namun jangan lupa kita harus berikhtiar dan bekerja keras dengan disertai harapan baik kepadaNya.

Jadilah orang beriman yang percaya diri. Jangan takut tampil didepan. Di dunia ini tidak perlu ada yang ditakuti. Jika kita tampil di depan, maka akan terlebih dahulu meraih sukses. Jangan takut gagal dalam berikhtiar. Lakukanlah dengan disertai hati-hati dalam mengambil keputusan. Selama kita tidak diperbudak nafsu dan emosi, keputusan kita akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Orang mukmin tidak takut membela kebenaran. Tegakkanlah kebenaran dengan cara yang baik dan simpati di hadapan mereka. Sikap ini merupakan pengembangan diri sehingga kita akan dihargai dan menjadi mulia di mata mereka.

Jika kita telah sepakat untuk dapat menguasai diri, maka buanglah rasa malas. Jangan mau dikuasai oleh rasa malas, sebab kebiasaan itu tidak akan mendukung keberhasilan hidup. Rasa malas justru mempercepat kita menuju jurang kemiskinan. Hendaknya kita bekerja keras dengan disertai sifat sabar, tawakal dan berharap kepada Allah.

Inilah bentuk pengamalan asma Allah “al-Malik” secara nyata. Inti dari pesan ini adalah menjadi penguasa atas diri sendiri agar jangan sampai dikuasai oleh hawa nafsu dan sifat-sifat burung yang merugikan

5.16.2010

Pengamalan Ar - Rahim dalam Keseharian

oleh: Bambang Marhiyanto

Ar-Rahim artinya menyayangi. Jika nama itu melekat pada Allah akan sekaligus menjadi sifatNya Yang Maha Penyayang. Ada yang berpendapat bahwa kata ‘rahim’ disamakan dengan ‘kandungan ibu’. Di mana ketika ibu mengandung, ia akan menyayangi bayinya itu dengan sepenuh hati. Kasih sayang seorang ibu yang tulus sehingga demi anaknya yang dikandung ia rela mengorbankan jiwa dan raga.

Ada pula yang berpendapat bahwa ar-Rahim memiliki akar kata yang sama dengan ar-Rahman. Namun ar-Rahman hanya layak disandang oleh Allah sedangkan sifat ar-Rahim dapat juka dimiliki oleh makhluk (manusia).
Menurut Buya Hamka, ar-Rahman dan ar-Rahim ada perbedaan meskipun tidak signifikan. Ar-Rahman mengandung arti yang Dia memberikan rahmat kepada seluruh makhlukNya dengan tidak tebang pilih, tidak membedakan antara makhluk yang berakal atau tidak, antara makhlukNya manusia yang baik dan yang jahat, yang iman atau yang kafir. Tetapi rahmat yang diberikan itu merupakan rahmat-rahmat kecul, yang rendah, misalnya kehidupan, susunan tubuh, makanan dan minuman, istri, anak-keturunan, kesehatan, kekayaan dan lain sebagainya. Rahmat tersebut berupa rejeki yang berkaitan dengan kehidupan di dunia sana.

Sedangkan ar-Rahim –menurut Hamka– adalah rahmat Allah yang dicurahkan kepada makhlukNya dengan tiada dapat dinilai besarnya. Rahmat yang tidak sebanding dengan seluruh harta dan kekayaan. Namun berupa ramat yang kekal dan abadi. Rahmat yang bukan sekedar berkaitan rejeki dan kehidupan di dunia, bukan sekedar susunan tubuh, bukan sekedar kesehatan dan kekayaan, namun rahmat yang agung. Buya Hamka memahami ar-Rahim tersebut berupa rahmat jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa ar-Rahim merupakan rahmat yang hanya dicurahkan kepada orang-orang beriman.
Rahmat Allah berupa kasih sayang yang terkandung di dalam ar-Rahim lebih besar, mencakup dunia akhirat bagi orang yang beriman. Ketika seorang beriman bertaubat, maka curahan ar-Rahman akan didapatkannya. Allah membuka pintu taubat atas dosa-dosa hambanya. Pengampunan adalah sebuah rahmat yang luar biasa. Orang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak hanya di dunia, tetapi di akhirat.

Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. al-Muzamil 20.

Pada ayat tersebut kalimat Allah Maha Pengampun tidak dapat dipisahkan dengan Maha Penyayang. Artinya, Allah itu Pemurah dan Maha Bijaksana. Ia tidak pernah dendam kepada hambaNya yang durhaka jika sang hamba itu kemudian kembali kepadaNya memohon ampun. Allah pasti menyayanginya. Jika Allah telah menyayanginya, maka seseorang akan mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat.

Untuk mendapatkan limpahan curahan kasih sayang dari Allah, kita hendaknya bersegera untuk bertaubat. Bagaimana pun kita memiliki kekhilafan. Apa pun bentuknya, besar atau kecil, yang pasti kita pernah berdosa kepada Allah. Dia memberikan harapan yang luar biasa dengan membuka pintu ampunanNya.

Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. an-Nisa 110.

Perhatikanlah ayat tersebut, betapa Allah telah memberi harapan melalui curahan kasih sayangnya dengan memberi ampunan kepada orang yang mau bertaubat.

Bentuk kasih sayang kepada hambaNya terwujud melalui beberapa tahapan yakni proses penciptaan, proses petunjuk hidayah meraih iman dan sebab-sebab kebahagiaan, proses pemberian kebahagiaan ukhrawi yang dinikmati kelak di akhirat, serta proses kenikmatan memandang ‘wajahNya’ di hari Kiamat. Demikian menurut pendapat Imam al-Ghazali.
Kita diciptakan Allah swt. merupakan sebuah anugerah rahmat dan rasa sayangNya kepada kita. Seandainya Allah tidak menciptakan kita, tiada mungkin hari ini kita bisa menghirup udara di dunia. Rahmat Allah lainnya adalah Dia menciptakan jagad raya yang dilengkapi dengan segala sesuatunya sehingga memenuhi kebutuhan makhluk.

Sucikanlah nama Robbmu Yang Maha Tinggi, Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). QS. al-A’la 1-2

Allah swt. menciptakan dan menyempurnakan ciptaanNya. Manusia sebagai makhluk ciptaanNya kemudian diberi rahmat berupa kesempurnaan. Dilengkapinya dengan akal pikiran, iman dan rasa kasih sayang.

Kemudian bentuk kasih sayang Allah setelah penciptaan adalah Dia memberikan hidayah kepada hambaNya sehingga dapat meraih iman sebagai sebab-sebab kebahagiaan. Ini terwujud dalam pengampunan dan pembuka hati sehingga seseorang dapat menempuh hidup di jalan yang benar. Jalan kebenaran inilah yang mengantar seseorang meraih sukses dan bahagia, di dunia maupun di akhirat. Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

Allah swt. adalah sebaik-baik penyayang di antara para penyayang. Oleh karena itu hendaknya kita berdoa, “Ya Robbku, berilah aku ampunan dan kasih sayang, dan Engkau adalah Pemberi kasih sayang yang paling baik.”

Mengamalkan ar-Rahim Untuk Meraih Keberuntungan
Ar-Rahim tidak bisa dilepaskan dengan ar-Rahman. Keduanya memiliki arti kasih-sayang. Mengamalkan asmaul husna, disambing menyebut dala dzikir dan doa, seyogyanya diaplikasikan dalam sikap dan mental agar mendapatkan dampak positif yang luar biasa. Dampak positif itu langsung dapat dirasakan bagi keberuntungan hidup.

Apa yang kita kembangkan dari sifat kasih sayang ini? Tentunya penerapannya adalah terhadap diri sendiri dan sesama makhluk hidup. Kita berupaya untuk menaburkan sifat Allah ini dalam wujud sikap yang nyata.
Pertama kali yang harus kita beri kasih sayang adalah diri sendiri.

Menyayangi diri sendiri itu begitu penting. Bagaimana pun seseorang, pasti memiliki sifat dan perasaan untuk menyayangi diri sendiri. Namun sifat rahman dan rahim yang merupakan fitrah itu seringkali terkalahkan oleh hawa nafsu. Seorang peminum minuman keras, sekali waktu ia sadar bahwa kebiasaannya itu merusak mental dan kesehatannya. Hal itu muncul karena peringatan dari hati nurani yang memiliki rahman dan rahim (kasih sayang) terhadap diri sendiri. Namun nafsunya (keinginan dan hobi)nya itu begitu kuat sehingga bisikan nurani itu diabaikan. Seorang perokok, ia sadar jika merokok merugikan kesehatannya. Namun kesenangannya itu mengabaikan bisikan suci dari nuraninya. Begitu pula penjudi, penzina dan tukang maksiat lainnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengaplikasikan rahman dan rahim ini terhadap diri sendiri. Sayangilah diri kita. Rawatlah dengan baik. Jaga kondisi kesehatan. Makanlah makanan yang tidak merugikan. Terutama makanan yang halal.

Menyayangi diri sendiri tidak terbatas untuk kepentingan hidup di dunia. Namun hendaknya kita juga menengok kehidupan kita di akhirat kelak. Jika kita merasa sayang terhadap diri sendiri, hendaknya mempersiapkan segala sesuatunya sehingga kelak dalam kehidupan baru yang kekal tidak menderita. Bentuk kasih sayang ini adalah taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Menyayangi diri sendiri janganlah menggiring kita untuk bersikap egois dan tidak mempedulikan orang lain. Di samping menyayang diri sendiri, kita pun hendaknya menebar kasih sayang kepada orang lain.
Menebar kasih sayang kepada orang lain (kepada sesama) tidak cukup mengelus dada atau menyatakan keprihatinan terhadap mereka yang terkena musibah. Tidak hanya merasa bersedih terhadap orang lain yang bernasib buruk. Itu tidaklah cukup.

Bukanlah dianggap mengamalkan kasih sayang terhadap sesama jika kita mendengar atau menyaksikan tayangan korban tsunami Aceh, korban gempa Yogyakarta, korban banjir dan kebekaran tetapi hanya menyatakan prihatin.
Terhadap sesuatu yang demikian, idealnya ialah kita menyatakan cinta kasih berupa kepedulian. Adapun kepedulian bisa diwujudkan dengan amalan konkret sesuai potensi yang kita miliki. Misalnya kita memiliki materi (harta), bisa merealisasikan kepedulian dengan memberikan sumbangan bagi mereka. Umpamanya kita punya keahlian di bidang SAR, bisa membantu untuk mengevakuasi mereka, dan sebagainya.

Kasih sayang dapat pula diwujudkan adanya saling menghormati dan saling membantu. Laksanakanlah kebiasaan kasih sayang ini di lingkungan kita tinggal. Berbaik-baiklah dengan tetangga, peduli kepada mereka, suka menolong, suka datang jika diundang dan menampakkan sikap yang simpati, niscaya kita menjadi manusia yang dirindukan oleh mereka. Namun sayangnya, kadang-kadang rahman dan rahim dalam jiwa kita terkalahkan oleh sikap egois dan mempertahankan harga diri. Sifat menyayangi dan mengasihi menjadi terpendam ketika di dalam hati kita terdapat kesombongan. Sifat-sifat semacam ini sudah harus dikikis dengan membangkitkan energi kasih sayang setiap saat kepada sesama.

Kita sepakat bahwa perbuatan baik disukai orang lain. Sikap peduli dan senantiasa menyayangi dan mengasihi terhadap sesama akan memancarkan aura. Karena sikap yang simpati, pribadi yang mempesona dan tulus, maka dampak positif akan segera kita rasakan. Ada timbal balik dari mereka.
Terkadang sesuatu yang tampaknya sepele ini sulit untuk kita laksanakan. Mulailah dari sekarang dengan yang ringan-ringan, misalnya selalu menebar senyum, menganggukkan kepala setiap kali berpapasan dengan orang lain.
Setiap pagi hari awali hidup ini dengan tersenyum dan berprasangka baik kepada orang lain. Mulailah dari keluarga sendiri. Seandainya kita seorang ayah, jadilah ayah yang baik, menyayangi istri dan anak-anak. Seandainya kita menjadi ibu, jadilah ibu yang baik dan selalu lemah lembut, peduli dan menyayangi anggota keluarga. Misalnya jika kita sebagai ketua RT atau RW, maka cobalah untuk bersikap mengasihi dan menyayangi terhadap warga. Kita seorang pedagang di pasar, maka belajarlah untuk berkasih sayang terhadap relasi. Begitu seterusnya. Siapa pun kita, jika senantiasa belajar menaruh kasih sayang kepada sesama, maka mereka akan peduli kepada kita. Mereka akan menolong jika kita menemui kesulitan, sekecil apa pun. Maka inilah yang dimaksudkan jalan menuju sukses. Jalan yang harus kita buka dan kita lalui.

Jika kita bersosial dan mampu mengamalkan rahman-rahim, pastilah orang lain akan membalas dengan sikap yang sama. Rasulullah saw. adalah manusia yang kita teladani, karena ia memiliki sifat dan sikap rahman-rahim. Keberhasilannya di bidang perdagangan dan politik, juga karena didukung oleh sikap mengasihi dan menyayangi sesama.
Sikap menyayangi tidak sebatas untuk diri sendiri atau orang lain, namun juga terhadap makhluk lain. Terhadap binatang, hendaknya kita menyayangi. Perlakukanlah binatang piaraan dengan baik. Jika disembelih lakukanlah sesuai syariat. Sesungguhnya Islam telah mengajarkan agar kita menyembelih dengan pisau yang tajam di urat nadinya agar cepat mati sehingga mempersingkat rasa sakit. Ajaran ini menganding amalan kasih sayang.

Terhadap lingkungan, kita pun wajib menyayangi. Tebarkanlah ar-rahim ini di muka bumi. Sebab kita adalah khalifah di muka bumi, yang diberi hak untuk mengelola dan memelihara. Membuang limbah ke sungai merupakan perilaku yang bertentangan dengan sifat ar-rahim. Menebang pohon secara sembarangan juga bertentangan dengan sifat menyayangi alam. Seharusnya kita melestarikannya agar bumi menjadi subur.

Di dalam sebuah perusahaan tempat kita bekerja, hendaknya sifat menyayangi ini terus dikembangkan. Buanglah jauh-jauh sifat yang berlawanan dengan ar-rahim, misalnya iri hati, menghasut, memfitnah, tidak mau bekerja sama, tidak mau menolong dan tidak mau peduli.

Kesimpulannya, jika kita mengamalkan asmaul husna, yakni ar-rahim dalam setiap aspek kehidupan dan diwujudkan dalam perilaku terhadap sesama manusia, maka setiap langkah akan dimudahkan Allah. Hidup kita menjadi nyaman dan indah karena setiap orang menjadi saudara. Bahkan lebih dari saudara

5.15.2010

"Ar - Rahman" Sebagai Sumber Inspirasi Sukses

Oleh: Bambang Marhiyanto

Ar-Rahman mengandung makna bahwa Allah memberikan rahmat kepada seluruh makhlukNya dengan tidak tebang pilih. Siapa saja berhak mendapat rahmatNya. Rahman artinya menyayangi dan mengasihi.

Setiap individu mendapat kasih dan sayang dari Allah. Tidak peduli apakah hamba itu taat atau durhaka, berprilaku baik atau jahat. Semuanya mendapat kasih sayang dariNya. Allah tidak membeda-bedakan antara manusia yang iman maupun yang kafir. Mereka mendapat rahmat sesuai dengan qadha dan qadarNya. Rahmat yang telah ditentukan semenjak ruh ditiupkan. Hanya saja rahmat untuk orang kafir berbeda dengan rahmat orang mukmin.

eorang yang durhaka kepada Allah, suka berbuat maksiat, tidak menghiraukan perintahNya dan gemar melakukan laranganNya, tetapi ternyata ia tetap bisa hidup. Ia mendapatkan rejeki. Ia mendapatkan istri dan anak. Bahkan karena sifatNya yang Rahman, Allah masih membuka kesempatan untuknya bertaubat. Jika orang durhaka itu bertaubat dengan sungguh-sungguh, Allah pun mengampuni dosa-dosanya. Ini adalah bukti bahwa rahmat Allah, itu tidak tebang pilih. Allah mengasihi dan menyayangi seluruh makhlukNya. Karena itu diserukan dalam al-Quran:

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hambaNya. Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. QS. al-Furqan 58-59.

Dalam ayat tersebut dikatakan, “Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hambaNya.” Kalimat ini merupakan jaminan bahwa Allah itu ar-Rahman kepada hambaNya. Meskipun hamba terlanjur berdosa, jika bersungguh-sungguh mohon ampunan, Allah pun mengampuninya.

Kata ar-Rahman dapat dijumpai dalam al-Quran. Ar-Rahman disebut hingga sebanyak 57 kali. Bahkan dalam kitab-kitab terdahulu juga disebutkan tentang asma Allah ini. Sayangnya pada masa itu orang-orang jahiliyah belum menyadari bahwa ar-Rahman merupakan salah satu dari sekian asma Allah.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kami sekalian kepada ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Mereka menjawab, “Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami (bersujud kepadaNya)?” Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” QS. al-Furqan 60.

Kita sekarang bukan berada di era jahiliyah. Kabar dan ajaran kebenaran tentang keimanan telah disampaikan oleh Rasulullah saw. dan sampai pula ke telinga kita. Kita diberi petunjuk sehingga bertakwa kepada Allah. Kita dikenalkan dengan nama-namaNya yang terindah. Salah satu dari sekian nama itu adalah ar-Rahman. Oleh sebab itu, hendaknya kita berusaha memahami dan menghayati asma Allah yang juga merupakan sifatNya itu.

Selanjutnya diaplikasikan dalam sikap dan perilaku. Bagaimana bentuknya?
Penerapan itu dimulai dengan sebuah pertanyaan kepada diri sendiri dengan kalimat demikian, “Allah saja mengasihi hambaNya meskipun didurhakai, mengapa aku tidak mengasihi orang lain?”

Pertanyaan yang sangat sederhana tetapi mengandung makna yang cukup dalam jika kita renungkan. Sikap kasih sayang sebagai pencerminan dari ar-Rahman yang sudah ada di dalam diri kita hendaknya dibangkitkan dan dikembangkan.

Agama mana pun di dunia ini mengajarkan dan mengembangkan kasih sayang. Apa pun diri seseorang dan dari mana ia berasal, sesungguhnya di dalam dirinya sudah dilengkapi dengan sifat penyayang.

Ketika kita menyaksikan korban bencana alam bergelimpangan dengan begitu mengenaskan, tentu hati kita menjadi terenyuh dan berbelas kasihan kepada mereka. Kegusaran itu karena rasa tidak tega terhadap mereka.

Ketidaktegaan itu dikarenakan di dalam diri kita terdapat sifat penyayang.
Contoh lain, misalnya seorang cacat fisik sedang meminta-minta di perempatan lampu merah. Tiba-tiba salah satu ban mobil melindas kakinya. Orang itu berteriak-teriak. Seorang pengendara mobil keluar dari mobilnya dan menghampiri orang tersebut. Ia tidak minta maaf, tetapi malah mencaci-maki dan menyalahkannya.

Kira-kira apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut? Tentu hampir semuanya memihak kepada orang yang kakinya terlindas mobil, bukan memihak si sopir yang tidak minta maaf tetapi justru dengan arogannya ia mencaci maki.

Ini sebuah bukti bahwa manusia telah dibekali oleh rasa dan sifat menyayangi terhadap sesama. Setiap orang secara fitrah menyukai sifat terpuji dan membenci sifat buruk.

Ar-Rahman merupakan salah satu dari sekian deretan asmaul husna, nama-nama Allah yang indah dan terbaik. Ar-Rahman sekaligus menunjukkan sifatNya. Barangsiapa yang menyeru dengan menyebut namaNya itu, berarti ia telah memuji dan mengagungkanNya. “Katakanlah: Serulah Allah atau ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)...”

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. QS. al-Fatihah 2-3.

Sejalan dengan sifatNya, Allah Maha Pemurah dan Penyayang. Jika kita memujiNya, Allah pun mendengar pujian itu. Dia melimpahkan kasih sayangNya yang tiada terhingga. Hal ini sejalan dengan sebuah hadis yang menerangkan, “Sesungguhnya seorang hamba yang membaca ‘Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,’ maka Allah akan berkata, ‘HambaKu telah memujiKu.” dan jika doa membaca ‘Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,” maka Allah berkata, ‘HambaKu telah memujiKu.”
Kata ar-Rahman, karena dimiliki oleh Allah, maka mengandung makna paling atau ‘ter’. Dia menyayangi setiap makhluk tanpa tebang pilih karena kasih sayangnya tiada terbatas dan tiada terhingga. Bukankah Allah berfirman:

RahmatKu meliputi segala sesuatu. QS. al-A’raf 156.

Oleh karena itu curahan kasih sayang Allah kepada makhlukNya itu tiada terhingga. Hal ini dapat dipahami pula sebagai pesan bahwa kita sebagai hambaNya yang beriman berusaha agar sikap dan perilaku kita memiliki pancaran kasih sayangNya. Yang mana kasih sayangNya itu dapat kita terapkan dan kita pancarkan kepada sesama makhluk. Secara sederhana, kita berusaha menjadi manusia yang memiliki sifat dan sikap pengasih kepada sesama. Hendaknya kita menjadikan hidup ini menjadi manfaat terhadap orang lain. Dan modal untuk menjadi manfaat ialah membekali hati dan perilaku kita untuk mengasihi sesama.

Pancaran ar-Rahman telah membias pada setiap hati orang beriman. Ini harus dikembangkan dan potensinya digali terus-menerus. Sebab tujuan Allah memancarkan ar-Rahman kepada makhluk agar terjadi kehidupan yang harmonis di muka bumi ini.

Allah memiliki seratus rahmat. Satu bagian dicurahkan kepada makhluknya di dunia. Sedangkan sisanya masih disimpan. Hal ini pernah diterangkan dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah bersabda, “Allah swt. menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisiNya sebmbilan puluh sembilan dan diturunkanNya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagikan ke seluruh makhluk, (yaitu tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkat kaki dari anaknya, terdorong dari rahmat kasih sayang, khawatir jangan sampai menyakitinya.”
Binatang tidak memiliki akal tetapi mampu mengaplikasikan asmaul husna, terutama ar-rahman (mengasihi). Ia diberi sifat rahman kepada anak-anaknya. Ketika ia menyusui anaknya, diangkatlah salah satu kaki belakang agar anaknya tidak terinjak.

Kita sering mendengar kalimat bijak, “Sebuas-buasnya singa tak akan pernah memangsa anaknya.” Binatang buas sekalipun pasti ia dibekali Allah untuk mengasihi anaknya. Ini merupakan rahmat Allah yang hanya satu bagian, yang diturunkan ke bumi dan dipancarkan kepada makhlukNya. Hanya melalui rahmat Allah, harimau tidak akan memakan anaknya sendiri meskipun ia lapar. Bahkan –karena dibekali oleh fitrah rasa menyayangi– ia merawat dan melindungi anaknya dari bahaya. Ia mengajari anaknya dengan sabar ketika mereka mulai dewasa. Melatih bagaimana melindungi diri dari musuh. Semua itu dilakukan oleh induknya dengan sifat rahman.

Seperti halnya kita, terhadap orang tua renta dan terhadap anak-anak tentu merasa mengasihi. Kita melihat seorang bocah yang masih kecil ditinggal mati kedua orangtuanya, saat itu kita timbul rasa kasihan. Inilah rahmat Allah yang –hanya sebagian kecil– dicurahkan kepada kita. Dengan curahan rahmatNya, kehidupan makhluk di dunia ini berlangsung dengan baik. Maka tepatlah kiranya jika kita menyeru dan menyembah Allah dengan mengagungkan asmaNya, yaitu ar-Rahman.

Ar-Rahman Sebagai Sumber Inspirasi Sukses
Ar-Rahman artinya mengasihi. Allah memiliki asmaul husna dan sifat mengasihi bukan hanya untuk kita ketahui, untuk dihafal dan untuk disebut. Lebih dari itu, tujuan Allah adalah agar manusia setidak-tidaknya berusaha memiliki rasa berbelas kasihan terhadap sesamanya.

Memang sifat ar-Rahman hanya berhak dimiliki oleh Allah swt. dan layak melekat pada Allah. Tetapi hendaknya dipahami dengan sungguh-sungguh agar kita turut ‘menebarkan’ sifat Allah ini dalam kehidupan sehari-hari.
Betapa energi dan aura akan muncul dan kita menjadi manusia yang luar biasa apabila dalam setiap perilaku dan sikap senantiasa diwarnai mengasihi terhadap sesama. Bentuklah pribadi kita dengan membiasakan diri dalam membangkitkan rasa kasih.

Dampak positif dari sifat ini jika telah benar-benar kita terapkan adalah mendukung kesuksesan hidup. Kita akan dapat menjalani hidup dengan tanpa ada masalah. Bila kebetulan kita mendapatkan masalah, dengan tanpa diminta orang lain akan membantu. Mereka pun menaruh rasa kasihan dan terdorong untuk menolong.

Jadilah manusia yang memiliki kepribadian lemah lembut, sebagaimana Rasulullah memberi contoh kepada umatnya. Betapa Rasulullah selalu menyayangi dan mengasihi setiap manusia, terutama anak-anak yatim.
Kepribadian ini akan membangkitkan pesona yang luar biasa. Setiap orang akan kagum dan suka kepada kita. Karena setiap orang suka dan bersimpati, maka hidup terasa nyaman dan mudah untuk dijalani. Setiap apa yang kita rencanakan akan mendapat dukungan dari orang-orang di sekitar kita

Mengimani Asma'ul Husna

Oleh: Bambang Marhiyanto
Asma'ul Husna Sebagai Pembentukan Karakter

Iman artinya percaya atau yakin. Terhadap asmaul husna kita wajib meyakini. Sikap tersebut merupakan pilar keimanan kepada Allah swt. Kalbu kita tidak bisa mantab dalam menyembah Allah swt. tanpa mengetahui dan meyakini asmaul husna (nama-namaNya yang terbaik). Tetapi jika kita mengetahui, memahami dan menghayati nama-namaNya sejalan dengan sifat-sifatNya, terbukalah mata hati saat kita menyembah kepadaNya.

Seseorang belum dikatakan mewujudkan ketauhidan secara sempurna jika ia tidak mengetahui dan memahami asmaul husna. Sesungguhnya meyakini asmaul husna termasuk bagian dari tauhid. Dalam memahami nama-nama dan sifat-sifatNya hendaklah secara totalitas. Tidak boleh ditafsirkan menurut cara pandang pribadi. Tidak boleh mengubah lafal, mengingkari seluruh atau sebagian sifat DzatNya, tidak boleh menanyakan bagaimana wujud fisik Allah swt dan jangan menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. QS. asy-Syura 11

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut namaNya itu. QS. al-A’raf 180

Keyakinan adanya Allah tidak perlu dipertanyakan. Namun keyakinan terhadap pemahaman asmaul husna ini perlu ditajamkan. Karena banyak orang yang beriman kepada Allah tetapi tidak mengetahui seluk-beluk asmaul husna. Banyak orang yang hafal asmaul husna tetapi tidak tepat dalam mengaplikasikan. Sehingga seringkali kita –secara tidak sadar– menganalogkan antara sifat Allah dengan sifat makhluk. Misalnya Allah mempunyai sifat Maha Pengampun, lalu disamakan dengan orang yang mengampuni temannya. Sesungguhnya anolgi yang demikian itu kurang tepat. Yang benar adalah Allah Maha Pengampun, sedangkan manusia jika memiliki sifat pemaaf berarti menerapkan ajaran Allah yang dipancarkan melalui sifat-sifatNya. Manusia pemaaf dengan Allah Maha Pengampun tidaklah sama. Karakter pemaaf memang realisasinya sejalan tetapi kedudukan Allah dengan makhluk haruslah dibedakan.

Menerapkan asmaul husna dalam sikap dan perbuatan merupakan sebuah bentuk usaha kita untuk menjadi manusia mulia dan terpuji. Meskipun mustahil kita dapat menerapkan asmaul husnah secara sempurna. Asmaul husna yang sempurna hanyalah milik Allah. Kita sebagai makhluk diperintahkan untuk mengaplikasikan sebagian kecilnya saja.

Dalam ayat di atas diperintahkan, “Bermohonlah kepada Allah dengan menyebut namaNya (asmaul husna).” Kalimat ini haruslah dipahami secara mendalam. Sebagian ulama menafsiri bahwa yang dimaksud “menyebut” tidak hanya terbatas pada dzikir secara lisan. Karena dzikir secara lisan tidak mampu mengubah sikap dan perilaku jika apa yang diucapkan itu tidak dihayati dengan sungguh-sungguh. Idealnya, asmaul husna dihafal, disebut, dipahami dan diamalkan sebagai pembentukan karakter.

Asmaul husna adalah nama Allah yang terbaik. Bisa dikatakan pula sebagai asma Allah yang terindah. Ia merupakan puncak keindahan karena di dalamnya terdapat makna terpuji dan termulia. Nama-nama yang terindah itu mengandung pengertian kehidupan yang sempurna, yang tidak didahului dengan ketiadaan, dan tidak diikuti dengan kesirnaan. Tidak berawal dan tidak berakhir.

Al-Alim artinya Maha Mengetahui. Nama tersebut hanya disandang Allah swt. Artinya Allah mempunyai pengetahuan yang sangat sempurna. Berbeda dengan pengetahuan yang dimiliki manusia, diawali dengan kebodohan dan dikekang oleh keterbatasan.

Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” QS. Thaha 52.

Agar tidak tersesat dalam mengamalkan secara benar maka hendaknya asmaul husna dipahami sebagai sifat milik Allah yang sempurna. Sempurna bagi Allah. Allah Maha Mengetahui, berarti ilmu Allah Maha Luas, meliputi segala sesuatu, baik secara umum maupun terperinci. Baik berkenaan dengan perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhlukNya.

Bandingkan dengan al-ilmu yang dimiliki manusia. Ilmu pengetahuan manusia masih terbatas dan tidak bisa dikatakan memenuhi kesempurnaan. Allah memiliki ilmu dan mengetahui segala sesuatu, yang nyata dan yang gaib. Sedangkan manusia memiliki keterbatasan ilmu, tidak mampu mengetahui yang gaib.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam keadaan kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. QS. al-An’am 59.

Nyatalah bahwa tiada sesuatu di jagat raya ini terlepas dari ilmu Allah swt. Yang Maha Luas dan tak terbatas. Hal demikian ini sebagai bukti kesempurnaan nama-nama terindah dari sifat Allah swt. (Bersambung)

5.14.2010

Secret of Asmaul Husna

Oleh: Bambang Marhiyanto

1. Mengamalkan Asma'ul Husna Secara Benar dan Bermanfaat

Agaknya istilah “asmaul husna” sangatlah akrab di telinga kita. Bahkan konon asmaul husna memiliki khasiat yang luar biasa. Sebagian yang lain berpendapat bahwa asmaul husna mengandung energi yang hebat jika diamalkan. Kita sering mendengar demikian.
Lalu kita berusaha menghafalkan asmaul husna dan menjadikannya sebagai wirid. Namun energi yang hebat dan dahsyat itu belum merasuk dan berimbas bagi pembentukan kepribadian. Adakah yang kurang tepat?
Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini dibutuhkan uraian dan kajian yang panjang. Bab demi bab pada buku ini akan mengantarkan kita sehingga menemukan jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi di balik asmaul husna.

Asmaul Husna Bukan Sekedar Nama Allah
Asmaul husna adalah nama-nama Allah yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Nama-nama indah sesuai dengan sifatNya. Namun sesungguhnya jika dikaji secara mendalam asmaul husna tidak sekedar nama Allah. Lebih dari itu, asmaul husna merupakan sebuah media untuk mendekatkan hamba kepada Robbnya.

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna... QS. al-A’raf 180.

Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, karena Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang terbaik)... QS. al-Isra’ 110.
Asmaul husna haruslah diyakini secara benar dan diamalkan secara tepat. Sebagai orang beriman kita memang wajib meyakini bahwa nama-nama itu merupakan milik Allah swt. Asma berasal dari bahasa Arab yang artinya nama-nama. Ada yang menyebutnya sebagai tanda. Bukankah nama atau sebutan itu merupakan ‘tanda’. Dan asma bagi Allah adalah sesuatu tanda yang perlu dijunjung tinggi. Adapun husna adalah bentuk muannats dari kata ahsan yang artinya terbaik.

Secara kebahasaan, asmaul husna merupakan nama-nama yang baik. Makna dari nama-nama yang baik itu mengandung sifat-sifat mulia dan terpuji. Namun haruslah dipahami asmaul husna –sifat yang dimiliki Allah swt. itu– bukanlah sifat yang sama dengan dimiliki oleh manusia (makhluk). Hanya saja yang perlu ditekankan, bahwa manusia berupaya untuk mendekati sifat-sifat terpuji tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tidak akan dapat menguasai asmaul husna secara sempurna, karena sifat itu hanya milik Allah. Tetapi, setidak-tidaknya mendapatkan pancaran dari sifat-sifat itu.
Jadi, asmaul husna bukanlah sekedar nama-nama indah yang dimiliki Allah. Tetapi di balik itu mengandung sebuah pesan agar kita berusaha untuk mengimplemantasikan sifat terpuji itu dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap tingkah laku, dan untuk menata qalbu.
Sifat-sifat baik dan akhlak terpuji yang kita miliki merupakan cerminan dari sifat asmaul husna. Pada dasarnya kita menyukai yang baik-baik. Orang yang memiliki sifat baik, tentu diterima dalam pergaulan dan mudah mencapai sukses (keberuntungan hidup).
“Membaca” asmaul husna mengandung arti yang sangat luas. Tidak hanya sedekar membaca dan menjadikan sebagai wirid. Namun sesungguhnya konteks membaca yang dimaksudkan bisa bermakna menghayati, memaknai dan menerapkan untuk diri sendiri maupun orang lain.
Allah memiliki nama ar-Rahim, artinya Yang Maha Penyayang. Nama ini memang milik Allah. Tetapi hendaknya manusia berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menerapkan ar-rahim, yaitu sifat penyayang. Orang yang cerdas dan ingin menjadi sukses di bidang apa saja senantiasa berusaha menempatkan akhlaknya menjadi manusia penyayang terhadap sesama. Dengan begitu, penghayatan terhadap asmaul husna tidaklah sia-sia. Ia akan memiliki aura (cahaya) teduh bagi sesamanya. Aura kasih itu terpancar melalui setiap perilaku dan keputusannya.
Sifat-sifat yang harus dikembangkan pada pembentukan karakter adalah sifat yang mencerminkan asmaul husna, misalnya pemurah, penyayang, suci, damai, yakin, dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut merupakan sifat terpuji (akhlak mulia). Sesuatu yang baik akan mendatangkan kebaikan. Jika kita menerapkan sifat-sifat itu dalam kehidupan sehari-hari, pastilah selalu mendapat kemudahan dalam menjalani hidup ini.

Allah Meniupkan Asmaul Husna Ke Roh Manusia
Secara fitrah manusia telah dibekali sifat-sifat baik dan terpuji; sifat-sifat yang merupakan pancaran dari asmaul husna. Sayangnya, sejalan dengan perkembangan dan pengaruh lingkungan, sifat-sifat fitrah itu perlahan-lahan lemah, menjadi terkalahkan.
Sejak lahir manusia telah dilengkapi oleh hati yang fitrah (bersih). Hati itu telah merekam sifat-sifat Allah. Jika ia mampu memeliharanya hingga dewasa, maka pancaran asmaul husna akan membuat dirinya mulia. Namun jika sifat fitrah itu terkontaminasi dengan sesuatu yang buruk (lawan dari asmaul husna), tentu akan melunak. Kekuatan sifat-sifat Allah akhirnya dibelenggu oleh emosi diri, oleh prasangka negatif, dan pengaruh-pengaruh luar yang tidak menguntungkan.
Meskipun misalnya seseorang memiliki sifat fitrah yang melunak. Dengan kata lain, sifatnya yang terpuji dikalahkan oleh sifat-sifat tercela, tetapi pada hakikatnya ia tetap memilih sesuatu yang baik. Orang sekalipun ia jahat, tetapi masih menyukai sifat-sifat terpuji. Jika disodorkan kepadanya dua orang yang berbeda sifatnya. Misalnya si A sifatnya pemarah dan B sifatnya lembut penyabar, tentu ia cenderung kepada si B.
Sebagai gambaran, suatu ketika tampak seorang hamil tua sedang meyeberang jalan. Tiba-tiba pengendara sepeda motor menabraknya hingga perempuan itu terjatuh. Ulah pengemudi yang ceroboh dan ugal-ugalan itu menimbulkan rasa tidak simpati. Tetapi terhadap korban, mereka merasa kasihan dan melakukan pertolongan. Ini menandakan bahwa setiap jiwa manusia memiliki sifat-sifat terpuji asmaul husna berupa perasaan sayang dan menyukai kebenaran.
Sifat fitrah yang dimiliki manusia itu disebut suara hati. Ada yang mengistilahkan bisikan nurani. Ketika kita hendak melakukan perbuatan tercela, secara refleks hati nurani mencegahnya. Ia mengatakan, perbuatan yang hendak kita lakukan itu buruk. Hanya saja, kadang-kadang kita tidak lagi menghiraukan peringatan suara hati tersebut. Suara hati menjadi terkalahkan oleh emosi dan hawa nafsu.
Keinginan suara hati selalu baik, karena memang ia adalah pancaran dari sifat Allah. Kita mempunyai keinginan untuk menyayangi, ini merupakan pencerminan dari sifat ar-Rahman. Kita ingin berkarya (menciptakan) sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Keinginan ini pencerminan dari sifat al-Khaliq. Kita ingin mendapatkan keadilan dan ingin berbuat adil terhadap orang lain. Sifat fitrah ini merupakan pengaruh dari sifat al-Adli. Sederetan nama-nama indah (asmaul husna) yang merupakan sifat Allah tersebut sudah ditiupkan kepada kita semenjak awal penciptaan, yaitu saat dalam kandungan (bersambung)

Ikhlas Sebagai Penolong dari Musibah

Oleh: Bambang Marhiyanto

Setiap orang tidak ingin mendapati musibah meski sekecil apa pun. Tetapi keinginan itu merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Tugas manusia bukanlah menghindari dari musibah, tetapi bagaimana caranya menghadapi musibah itu sebagai sesuatu yang tidak menyakitkan. Kadang-kadang orang memandang musibah yang menimpanya adalah sebuah kiamat sehingga seolah-olah ia tak bisa hidup lagi. Sementara yang lain menerimanya dengan ikhlas, sehingga musibah terasa ringan dan alamiah. Karena itulah maka hanya dengan ikhlas, kita dapat menghadapi musibah dengan lapang dada. Dan musibah menjadi lebih ringan dari yang dibayangkan kebanyakan orang.

Makna Ikhlas

Makna ikhlas tidak banyak dipahami oleh sebagian di antara kita. Namun kata ini sesungguhnya sangat berguna bagi mereka yang telah lama mentaati Allah swt., berinteraksi denganNya dalam menjalankan ibadah dan menikmati kelezatan karuniaNya. Mereka selalu menghadapkan wajah kepada Allah dan telah berpengalaman memerangi setan sekian lamanya. Merekalah yang mampu mengambil manfaat dari sifat ikhlas.

Ada tiga makna yang terkandung dalam kata “ikhlas”. Pertama, mengkhususkan tujuan semua perbuatan kepada Allah semata. Pengkhususan ini mengharuskan perbuatan itu hanya untukNya, tiada untuk yang lain.

Kedua, bermakna melupakan pujian manusia, sehingga seseorang hanya “melihat” Sang Pencipta saja. Orang yang menangis karena takut kepada Allah, memberikan infak, atau mengerjakan shalat di tengah ribuan —bahkan jutaan— orang akan tetap ikhlas, karena ia tidak menghiraukan pandangan manusia. Ibadahnya hanya untuk Allah.

Ketiga, bermakna bahwa ibadah yang dilakukan itu tidak berharap untuk disaksikan (dilihat) orang lain. Kita tidak butuh orang lain menyaksikan shalat, zakat, tangis, haji kita. Cukuplah untuk Allah dan hanya Allah yang menjadi saksi.

Kita tidak bisa mengetahui seseorang itu beramal dengan ikhlas atau tidak. Sebab ikhlas itu berurusan dengan hati.Semua amal shalih tidak akan ada artinya tidak dilandasi dengan niat ikhlas.

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan, dania mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesanganNya. QS. an-Nisa 125.

Allah menerima amalan baik kita jika disertai ikhlas. Tiada hati yang dicintai kecuali hati yang senantiasa ikhlas dalam melakukan sesuatu. Sesungguhnya jika kita selalu ikhlas, maka kebaikan memiliki gudang harta yang melimpah; kekayaan yang luar biasa besarnya. Dengan ikhlas, maka tak ada belenggu jiwa. Hati senantiasa merasa puas terhadap apa yang kita lakukan. Kita tidak pernah mengeluh dan mengungkit-ungkit amal baik yang pernah dilakukan.
Ikhlas Meringankan Musibah

Sadarilah, sesungguhnya tidak ada yang menolong kita dari musibah dunia kecuali keikhlasan. Diterangkan dalam sebuah hadis bahwa tersebutlah tiga pemuda yang terjebak dalam musibah. Ketika hujan lebat, mereka bermaksud berteduh dalam sebuah goa. Namun tiba-tiba pintu goa tertutup oleh sebuah batu besar. Menurut perhitungan akal, mereka tak akan berhasil keluar dari dalam goa tersebut.

Salah seorang dari ketiganya tiba-tiba mempunyai ide, “Sebaiknya kita berdoa kepada Allah dengan menyebut amal shalih yang pernah kita lakukan. Barangkali dengan itu, Allah menyelamatkan kita.”

Salah seorang kemudian berdoa, “Ya Allah, aku memiliki dua orangtua yang sudah tua dan juga keluarga. Aku memerah susuh. Dan aku tidak akan memberi anak-anakku sampai bapak dan ibuku minum. Di suatu malam, aku terlambat memeras susu, dan saat aku pergi untuk memberikannya kepada orangtuaku, mereka telah terlelap tidur. Aku tetap duduk di samping mereka dan tidak mau membangunkan mereka hingga pagi pun tiba. Sedangkan ketika itu anak-anakku menangis meminta minum. Aku tak mau memberikan minum anak-anakku sebelum orangtuaku meminumnya. Ketika pagi tiba, mereka pun meminumnya. Ya Allah aku melakukan itu karena mencari ridhaMu, maka lapangkanlah kami dari kesulitan ini.”

Sesaat setelah itu, batu yang menutup goa tersebut pun sedikit terbuka.
Pemuda kedua juga berdoa, “Aku memiliki saudara kemenakan dari pamanku. Aku sangat menyintainya, dan aku merayunya, tetapi ia menolak. Ketika ia tertimpa kesulitan, kekurangan bahan makanan dan kefakiran, dia datang kepadaku dan berkata, ‘Pinjamilah aku uang!’ Aku pun menjawab, ‘Aku akan memberimu seratus dua puluh dinar dengan syarat kau mau kutiduri.’ Ia tampak agak berat menerima syarat itu. Ketika aku bisa menguasainya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, bertawakallah kepadaNya. Aku tidak halal bagimu.’ Maka aku langsung bangkit dan berbalik seraya berkata, ‘Ambillah semua harta ini dan pergilah!’ Ya Allah, jika aku telah melakukan perkataan itu karena mencari ridhaMu, maka lapangkanlah kami dari kesulitan ini!” Dan batu yang menutup goa tersebut bergeser lebih lebar dari sebelumnya.

Pemuda ketiga pun berdoa, “Ya Allah, aku dulu mempekerjakan banyak orang dan selalu memberikan gaji mereka, kecuali satu orang yang pergi dan belum sempat mengambil gajinya. Gajinya lalu kuinvestasikan hingga suatu hari ia datang dan meminta gajinya. Kutunjukkan bahwa gajinya sudah berkembang menjadi binatang ternak dalam jumlah cukup banyak. Lalu semua harta itu kuberikan tanpa tersisah sedikit pun. Ya Allah, aku melakukan itu karena ikhlas. Jika engkau meridhainya, maka tolonglah kami dari kesulitan ini.” Dan batu yang menutup pintu itu bergesar sehingga pintu goa benar-benar terbuka.

Inilah buah dari amal shalih yang ikhlas. Ketiga pemuda tersebut berhasil selamat dari musibah. Ikhlas memiliki energi yang luar biasa.
Rahasia Kita dan Allah

Kata al-Junaid, “Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hambaNya. Ia tiada diketahui malaikat, sehingga ia tiada kuasa menuliskannya. Tiada pula diketahui oleh setan, sehingga ia tidak kuasa merusaknya.”
Ikhlas merupakan rahasia yang hanya diketahui pemiliknya dan Allah swt. semata. Maka, ketika hamba merasa ingin menangis, dan hatinya berdetak kencang ingin melakukan ketaatan, itulah detik-detik munculnya ikhlas.
Imam al-Ghazali pun berkata, “Semua manusia itu celaka kecuali orang yang berilmu. Dan semua orang yang berilmu itu celaka kecuali orang yang beramal. Dan semua yang beramal itu akan celaka kecuali yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas selalu dibayangi bahaya yang besar.”

Seorang ulama berkata, “Tidaklah seorang hamba itu ikhlas selama empat puluh hari, kecuali akan terpancar hikmah dari wajah dan lisannya.”
Energi yang ditimbulkan oleh hati ikhlas memang luar biasa. Karenanya, jika ingin membuktikan, cobalah kita selalu berniat ikhlas dalam setiap perbuatan baik, maka tentu kita terheran-heran pada perubahan yang ada.

Jika tersenyum maka senyumlah dengan tulus dan ikhlas. Jika menolong, lakukan dengan ikhlas. Jika beramal ibadah khususnya shalat, lakukan dengan ikhlas. Berilah sedekah dengan ikhlas. Pokoknya semuanya dilandasi dengan ikhlas. Maka akan terjadi perubahan yang menakjubkan dalam kehidupan kita.

Betapa wajah kita bukanlah sekedar wajah, tetapi memancarkan aura. Orang lain yang melihatnya menjadi senang dan tenang hatinya. Wajah kita teduh dan menyejukkan. Lisan kita pun bukan sembarang lisan. Setiap apa yang kita sampaikan selalu mengandung kebaikan dan orang lain mendengarkannya. Kita menjadi manusia yang dihargai kawan dan disegani lawan

5.13.2010

Bertakwalah, Kamu Akan Kaya

Oleh: Bambang Marhiyanto

Apabila seseorang mendambakan hidup berkah, sukses dan bahagia, maka bertakwalah dengan cara yang benar. Mengapa “dengan cara yang benar?” Karena tidak sedikit di antara kita mengaku bertakwa, tetapi tidak takut terhadap dosa, haram, dan syubhat. Padahal takwa mengandung makna bahwa seseorang mempunyai rasa takut kepada Allah sehingga ia menghindari segala yang diharamkan oleh Allah. Bahkan ia menghindari syubhat. Kemudian taat menjalankan semua perintahNya.

Menurut sebagian ulama, bahwa takwa adalah senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Ada pula yang berpendapat bahwa takwa itu adalah sikap hati-hati seperti di saat seseorang melewati jalan yang penuh duri. Berhati-hati dalam setiap tindakan, ucapan dan pikiran. Karena, sedikit saja lalai, bisa jadi membuat kita tergelincir.

... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. al-Hujarat 13.

Itulah makna takwa yang benar. Orang tak akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki dalam kehidupannya jika tidak bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya mereka yang tidak bertakwa, meskipun bergelimang harta dan berhiaskan jabatan, tetapi hatinya tidaklah bahagia. Bukankah dunia ini adalah kehidupan yang menipu. Mereka sering tertipu karena tidak mempunyai landasan hidup yang benar.

Diceritakan oleh Abu Said al-Khudri bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang menemui Rasulullah saw. dan meminta nasihat, “Wahai Rasulullah, wasiatilah aku!” Rasulullah saw. kemudian memberi nasihat, “Wajib atasmu bertakwa kepada Allah swt. karena takwa merupakan kumpulan segala kebajikan; wajib atasmu tetap berjuang karena berjuang adalah ibadah yang Islam; dan wajib atasmu tetap ingat kepada Allah swt. karena mengingat Dia merupakan cahaya bagimu.”

Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda, “Takwa merupakan kumpulan perbuatan baik, sedang esensinya selalu taat kepada Allah swt. agar terhindar dari siksaNya.”

Perbuatan baik adalah modal utama untuk menempuh hidup sukses. Di mana pun kita berada, jika selalu menampakkan sikap baik kepada sesama tentu mereka akan menerima. Mereka akan mengulurkan tangan di saat kita membutuhkan bantuan.

Takwa, di samping kita beramal taat dan beribadah kepada Allah, juga berbuat baik kepada sesama dalam pergaulan hidup. Sikap ini merupakan bagian dari takwa. Inilah ajaran Islam yang sangat indah dan memberikan manfaat bagi pelakunya.

Perhatikanlah orang yang berperilaku buruk, misalnya kikir, sombong, dan selalu membuat orang lain tidak nyaman, pasti terkucil. Di tempat mana pun, di lingkungan kerja atau lingkungan tempat tinggal, ia tidak akan diterima.
Bahagiakah orang ini? Meskipun di lingkungan tempat tinggalnya ia paling kaya, tetapi ia tidak terhormat. Ia tidak disegani. Orang di sekitarnya menjadi tak mau tahu. Bahkan mereka mengucilkannya. Di tempat kerja pun demikian, ia tidak memiliki teman. Hanya sebuah kesepian yang dirasakannya. Ia berada di tempat ramai tetapi bagaikan di dalam hutan belantara yang tak pernah ada kehidupan.

Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak dapat dipisahkan dengan orang lain. Ia tidak akan bisa menjalani hidup sendirian. Sebab hidup kita tercipta karena dukungan dari orang lain. Sukses yang kita capai juga atas dukungan orang lain. Karena itu berakhlak baik demikian penting untuk dimiliki setiap orang.

Akhlak baik yang terkandung dalam takwa misalnya jujur, rendah hati, tidak sombong, mudah mengucapkan terima kasih kepada orang lain, suka menolong dalam bentuk materi atau nasihat yang berguna untuk memecahkan masalah, sabar, dermawan, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya.

Tetapi hendaknya diingat, berbuat baik saja belumlah cukup. Kebahagiaan yang hanya didapat dari berbuat baik kepada sesama tidaklah sempurna. Di sekitar kita banyak orang yang bersikap baik dan dermawan, tetapi tak sedikit pula di antara mereka yang tidak beriman. Jadi, berbuat baik saja tanpa dilandasi iman, maka belumlah dikatakan bertakwa.

Mereka memang bahagia, tetapi hanya sekejap. Kebahagiaan yang dirasakannya silih berganti dan pulang pergi. Namun jika seseorang beriman kepada Allah dan berakhlak baik kepada sesama, maka kebahagiaan di dalam hatinya tak pernah padam sepanjang masa.

Karenanya Islam memberi pilihan kepada manusia untuk menemukan kebahagiaan yang abadi. Jika manusia mau melakukannya, maka jiwanya selalu cerah dan bercahaya. Wajahnya selalu berseri-seri karena jauh dari rasa sedih

5.12.2010

Anda, Jadi Lalat atau Lebah

Oleh: Bambang Marhiyanto


Apakah yang dapat diambil pelajaran dari binatang lebah dan lalat? Dua jenis binatang itu sama-sama serangga tetapi ada yang berbeda. Dalam kehidupannya, lalat tidak selektif. Sedangkan lebah benar-benar binatang yang selektif. Oleh sebab itu, hendaknya dalam menjalani hidup sebaiknya kita mencontoh lebah.

Perhatikanlah bagaimana lebah membuat sarang dan mencari makan. Binatang ini sangat selektif dan berhati-hati dalam memilih tempat untuk sarangnya. Pasti memilih di dahan-tahan pohon tinggi atau di lubang-lubang pohon.

Memilih tempat untuk rumah saja sang lebah begitu selektif. Ia tidak ceroboh dan sembarangan karena menyangkut keselamatan dan kelangsungan hidup mereka. Bahan-bahan yang dipilih pun tidak sembarangan. Ia membuat dari media yang sangat bagus, berasal dari malam yang didapat dari bunga.
Membangun rumahnya pun tidak main-main. Untuk mempersiapkan anak-anaknya, lebah membuat bentuk persegi enam, tidak persegi empat atau persegi tiga. Ternyata menurut pakar teknologi arsitek, bentuk segi enam lebih kuat dibandingkan segi empat. Di samping itu tidak memakan banyak tempat. Jadi lebah membuat rumah sangat efisien.

Dalam hak mencari makan, lebah juga sangat selektif. Ia mencari makanan dari yang suci dan halal, dengan cara mengisap madu bunga-bunga.
Lebah adalah binatang yang suka bekerja keras dan rajin. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan terbang mencari makan. Meskipun letaknya jauh di bukit atau di lembah, ia akan tetap mencarinya hingga menemukan bunga. Selain madu bunga, lebah tak mau menyentuhnya.

Dalam surat An-Nahl diterangkan, yang artinya:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. QS. an-Nahl 68-69.

Kehidupan lebah sangat bermanfaat bagi makhluk lain. Ketika mengambil madu dari sebuah bunga, ia sama sekali tak merusak dan merugikannya. Bahkan sang bunga merasa diuntungkan. Karena kehadiran lebah dapat membantu penyerbukan sehingga bunga bisa berbuah dengan sempurna.
Begitu juga, lebah menghasilkan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan penyakit dan menyehatkan badan. Tidak hanya itu, menurut tabib atau ahli, bahwa sengatan lebah dapat menyembuhkan penyakit.

Bandingkan dengan lalat. Jenis binatang ini kemana-mana menyebar kemudharatan. Setiap makanan yang dihinggapi lalat, di situ ada bakteri penyakit yang ditinggalkan. Apa saja yang ada di depannya di makan, tak perduli buruk atau baik. Ketika bertemu bangkai atau kotoran manusia, ia hinggap di sana. Ketika menjumpai madu atau gula ia pun memakannya. Pokoknya apa saja dimakan lalat, tidak perduli najis atau tidak. Kehidupan lalat tidak serapi lebah. Serangga penyebar penyakit ini tidak memiliki rumah, sehingga hidup seenaknya.

Kita bisa mengambil pelajaran dari dua macam serangga tersebut. Lebah menempuh hidup dengan begitu terencana dan rapi. Mulai dari cara mencari rejeki hingga membuat tempat tinggalnya benar-benar selektif, sedangkan lalat tidak.

Begitulah seharusnya manusia yang ingin hidup barokah, sukses dan selalu bahagia. Hendaknya selalu selektif dalam mencari rejeki atau menjalin hubungan sosial. Selanjutnya jadilah orang yang bermanfaat bagi sesamanya. Ketika mencari rejeki tidak merugikan orang lain, tetapi justru
orang lain pun merasa diuntungkan.

Orang beriman dan tidak, memang berbeda. Dalam mencari rejeki orang beriman senantiasa pada jalur yang benar dengan sikap kehati-hatian. Ia hanya memungut yang dihalalkan dan menghindari rejeki yang diharamkan. Sedangkan orang tidak beriman, ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rejeki.

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. QS. al-Baqarah 267.

Jadikanlah hidup ini bagaikan lebah. Ketika mencari rejeki tidak merugikan orang lain, tetapi justru bermanfaat kepada sesama. Rejeki yang dipungut pun hendaknya dari cara yang halal. Sebagian dari rejeki tersebut hendaknya disisihkan untuk sedekah, infaq dan untuk kepentingan di jalan Allah.
Jangan ikut-ikutan orang yang tidak paham terhadap masalah rejeki halal. Mereka sering berpedoman, “Mencari rejeki haram saja susah apalagi yang halal.” Jauhilah kalimat ini. Sebab kalimat ini hanya pantas dipakai oleh orang-orang tidak beriman.

Tujuan hidup orang seperti itu hanyalah harta. Mereka mengira harta yang banyak membuat dirinya menjadi kaya. Jika mereka kaya tentu bisa melakukan apa saja dan bisa memenuhi setiap keinginannya. Sesungguhnya orang-orang semacam ini tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas dan tak tertata secara sistematis. Mereka bagaikan lalat yang ceroboh, jorok dan seringkali menimbulkan penyakit bagi makhluk lain.
Kita sering mengetahui betapa orang-orang kaya yang —yang tidak beriman— begitu mudah mencari harta. Sampai-sampai kita menjadi heran dan menggeleng-geleng kepala. Tetapi sesungguhnya cara yang mereka lakukan itu tidak lagi memperhatikan halal dan haram.

Mereka seperti lalat. Kehadirannya membuat kerusakan dan merugikan orang lain. Contohnya cukong kayu yang demikian mudahnya menumpuk kekayaan. Mereka bekerja dengan cara menebang pohon secara membabi buta. Habitat alam menjadi rusak. Lingkungan menjadi terganggu. Binatang-binatang kehilangan tempat tinggal. Jika musim penghujan terjadi banjir dan tanah longsor hingga manusia lain yang tidak ikut menikmati hasilnya justru menjadi korban. Jika musim kemarau, temperatur dunia menjadi naik dan setiap orang merasa gerah.

Banyak orang yang ingin kaya dan bahagia dengan menempuh jalan pintas dan merugikan orang lain. Lihatlah para pejabat yang korup, pasti dalam waktu yang tak lama membuat orang lain terkagum-kagum. Namun sesungguhnya setiap nurani akan berkata bahwa cara mencari rejeki yang demikian itu “amat buruk”, seperti lalat. Apa yang dilakukannya selalu membuat orang lain jadi susah.

Dalam setiap aspek kehidupan, dapat kita jumpai orang-orang yang mencari rejeki dengan cara sembarangan (tidak selektif). Pedagang yang tidak jujur, tentu yang menjadi tujuannya adalah keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kerugian orang lain. Apa pun profesi seseorang, jika tidak dilandasi dengan iman dan syariat, pastilah cenderung seperti lalat.
Sesungguhnya mencari rejeki halal dengan cara yang benar tidaklah sulit. Hanya saja orang yang menganggap sulit karena ia mempersulit hidupnya sendiri. Hatinya lebih cenderung kepada sesuatu yang haram. Memang, memungut rejeki haram tampaknya lebih mudah, tetapi pada akhirnya menyulitkan diri sendiri.

Bahagiakah mereka, orang yang kita lihat kaya raya tetapi harta yang dikumpulkan dari cara yang tidak dibenarkan? Kebahagiaan mereka terletak di mata orang lain yang memandangnya. Sesungguhnya jiwa mereka digerogoti oleh kecemasan-kecemasan. Atau, fisik mereka yang tak pernah sehat. Uang yang dikumpulkannya dengan susah payah hanya untuk biaya kesehatan dan membayar dokter. Atau, seringkali tersandung masalah sehingga uang yang disayang-sayang harus keluar untuk membayar mahal penasihat hukumnya. Mereka tidak bahagia. Mereka memilih sendiri hidup yang sulit.

Islam telah mengajarkan agar kita memungut rejeki halal. Jika harta halal itu sudah ada di tangan, kita belanjakan pada sesuatu yang baik dan bermanfaat. Rasulullah saw. juga mengajarkan kejujuran. Beliau memberikan contoh bagaimana berdagang secara jujur. Sebelum menikah dengan Khadijah, Rasulullah adalah seorang pedagang sukses. Kesuksesannnya berkat didikan pamannya, Abu Thalib.

Khadijah, seorang pedagang menjadi tetarik untuk mengangkatnya sebagai pegawai. Berkat kejujurannya, kesuksesan Rasulullah saw. semakin melejit. Berdagang dengan jujur, itulah yang diterapkan kepada setiap pelanggannya. Ia mampu menggaet pelanggan di negeri orang. Kekayaan Khadijah semakin melimpah. Akhirnya Rasulullah saw. menikah dengan wanita pengusaha tersebut.

Inilah bukti bahwa mencari rejeki yang halal itu tidak sulit. Sebagai orang beriman, tetaplah pada jalur yang benar dan dihalalkan. Memungut rejeki yang halal dengan cara yang halal pula. Rejeki yang didapat dengan cara itu akan memberikan keberkahan hidup, dan membuat kita dijauhkan dari permasalahan. Yang demikian ini disebut hidup dan ikhtiar secara selektif.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. QS. al-Baqarah 168.