9.18.2008

Panduan Menggapai Lailatul Qodr

I. Muqoddimah
Sesudah disyariatkannya ibadah shaum, dan agar umat Islam dapat merealisasikan nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan
memberikan adanya "Lailat al qodr". Allah berfirman : " Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada " Lailat al qodr". Tahukah kalian apakah " Lailat al qodr" ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan" (QS. Al Qodr : 1-3)

II. Keutamaan Lailat al Qodr
Ayat yang dikutip di atas jelas menunjukkan nilai utama dari " Lailat al qodr". Mengomentari ayat di atas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang
dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur'an, dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat al qodr sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan " Lailat al qodr" untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.

Sementara berkenaan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadinya lailat al qodr,
para malaikat turun kebumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyam al lail, atau melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam
kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya yang bertaubat.

Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , "barangsiapa
melakukan qiyam ( shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya".

Demikian banyaknya keutamaan lailat al qodr, sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya : " Saya tidak
pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ' Lailat al qodr', karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan".

III. Hukum "Menggapai" Lailat al Qodr.
Memperhatikan pada arahan (taujih) Rasulullah SAW, serta contoh yang beliau tampilkan dalam upaya "menggapai" lailat al qodr, dalam hal ini
misalnya Umar pernah menyampaikan sabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam
kedua puluh tujuh" (HR. Ahmad). Maka para ulama' berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah.

IV. Kapankah terjadinya Lailat al Qodr
Sesuai dengan firman Allah pada awal surat Al Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para ulama' bersepakat bahwa " Lailat al qodr" terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, lailat al qodr bukannya sekali terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, malainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat.

Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya lailat al qodr, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut dibawah ini :
1. Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur'an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair
ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).
2. Lailat al qodr terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW:
"Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan" (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)
3. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.
4. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.
5. Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi
pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian
menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).
6. Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkan lailat al qodr pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

V. Tanda-tanda terjadinya Lailat al qodr
Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: " Pada saat terjadinya lailat al qodr
itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang
benderang tanpa tertutup sesuatu awan".

VI. Apa yang perlu dilakukan pada lailat al qodr dan agar dapat menggapai lailat al qodr
1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.
2. Melakukan i'tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
3. Melakukan qiyamu al lail berjama'ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.
4. Memperbanyak do'a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal : "Allahumma innaka 'afuwun tuhibul afwa fa'fu 'anni".

Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya : ' wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al
qodr, apa yang mesti aku ucapkan"? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

VII. Menggapai " Lailat al qodr" bagi Muslimah
Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka mudah disimpulkan bahwa kaum muslimah-pun disyari'atkan dan diperbolehkan menggapai lailat al qodr . Dengan melakukan maksimalisasi ibadah yang memang diperbolehkan untuk dilakukan seorang muslimah.

VIII. Khotimah
Demikian panduan ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan kita meraih " Lailat al qodr", malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu.

9.17.2008

Isteri Bidadari Dalam Rumah Tangga

Posisi Kaum Pria
Lelaki adalah pemimpin wanita, pernyataan ini termaktub dalam Al Quran, harap kaum lelaki tidak besar kepala, karena pernyataan tadi baru koma; lanjutan kalimatnya menjelaskan syarat kepemimpinan laki-laki atas wanita;
"Laki-laki adalah pemimpin perempuan, oleh karena itu Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) lebih dari sebagian yang lain (wanita), dan karena kaum lelaki menafkahkan harta mereka …." QS. An Nisa (4) : 34.
Syarat kepemimpinan lelaki adalah [1] Fadhilah dan [2] Nafkah. Lelaki harus memiliki nilai lebih, baik di bidang ilmu, akhlaq, kreativitas, kemampuan mengendalikan diri sehingga rumah tangga jelas arahnya. Di samping itu kaum lelaki harus memiliki kemampuan untuk memberi nafkah sehingga arah yang harus ditempuh bahtera rumah tangga didukung dengan dana yang memadai.
Jatuhnya posisi kepemimpinan laki-laki, seringkali disebabkan karena hilangnya salah satu faktor tersebut di atas apalagi dua duanya. Seorang suami yang berpenghasilan tinggi tapi memiliki kualitas moral dan emosional yang lebih rendah, maka dana perjalanan rumah tangga akan terhambur, tak jelas arahnya. Sebaliknya suami yang memiliki kualitas kepribadian yang lebih baik, tapi tidak mampu memberi nafkah, arah yang jelas tadi menjadi tersendat, sebab tidak cukup dana untuk merealisasikannya.
Orang sering mempertanyakan, lantas bagaimana dengan Nabi Muhammad? Beliau paling tinggi kualitas kepribadiannya, tapi beliau tidak punya penghasilan? Jangan lupa, Investasi Rosulullah selama 15 tahun lebih, dari semenjak menjadi pegawai Khadijah dalam bisnis ekspor-impor, yang terus ditekuninya sampai beliau diangkat jadi Nabi di usia 40 tahun. Telah menjadi saham yang lebih dari cukup dalam bisnis keluarga beliau.

Arti “Lebih” seorang Pria
Karena itu, pria mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dan lebih sulit. Kaum prialah yang -dengan kebijaksanaanya- dapat menanggung keluarga dan mempersiapkan segalanya demi kebahagiaan keluarga. Suamilah yang dapat mengubah rumahnya menjadi surga dan istri sebagai bidadarinya.
Dalam The Noble Quran, Qowwamuna diterjemahkan sebagai protector and maintainer, melindungi, memberikan keamanan serta menjaga agar tetap dalam keadaan baik. Dan memang inilah fungsi seorang pemimpin.
Seorang pria yang bertanggung jawab terhadap istrinya harus mengetahui bahwa wanita juga manusia seperti layaknya pria. Menikahi wanita tidak sama dengan mengupah seorang pembantu; Sebab pernikahan merupakan pemilihan bebas dari masing-masing untuk membangun ikatan yang bertanggung jawab.
Isteri adalah sebagai pasangan dan teman yang dapat diajak untuk hidup bersama sepanjang waktu yang tersisa dalam hidup ini. Pria harus peduli dengan diri isteri serta keinginan-keinginannya (bukan sekedar peduli dengan ‘tubuhnya’). Pria bukan pemilik istrinya dan sebenarnya wanita mempunyai hak-hak tertentu terhadap suaminya. "Dan para wanita mempunyat hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkat kelebihan daripada istrinya..." (QS 2:228).
Hak dan kewajiban berlaku timbal baik. Pada suami ada kewajiban lebih, yakni menjadi penggalang dana. Inilah yang dimaksud dengan satu tingkat kelebihan tadi.

Meng 'upgrade' isteri jadi bidadari dalam keluarga
Rahasia kesejahteraan keluarga adalah bagaimana seorang suami merawat istrinya, dan ini merupakan perbuatan mulia seorang suami. - seperti juga tugas seorang wanita terhadap suaminya disamakan dengan jihad .. Tetapi pria yang sudah menikah harus mempelajari bagaimana memperlakukan istrinya hingga sang istri berubah bagaikan bidadari. Dalam kenyataannya, pepatah ini mewakili kebenaran umum : "You don't love a woman because she is beautiful, she is beautiful because you love her" Bukan karena dia cantik lantas kamu mencintainya, justru dia terlihat cantik, karena kamu mencintainya.
Kecantikan kulit dibatas waktu, tapi memandangnya indah karena anda mencintainya, bisa menjadikan kecantikan itu abadi. Inilah yang dimaksud kecantikan dari dalam, baik dari dalam diri yang dicintai, maupun dari dalam diri sipecinta itu sendiri.

Resep agar Isteri Tetap Menarik
Seorang wanita adalah pusat segala kebaikan yang dikuasai penuh oleh perasaan. Keberadaannya tergantung pada cinta dan kasih sayang. Ia ingin dicintai oleh orang lain dan makin banyak yang mencintai makin baik. Ia sangat mengorbankan dirinya agar disukai. Sifat ini sangat kuat dalam diri wanita sehingga bila ia menyadari bahwa tak seorang pun mencintainya, ia akan menganggap dirinya gagal. Ia akan kecewa terhadap dirinya dan merasa terbuang. Pada saat itu ia tidak akan memperhatikan dirinya lagi.
Karena itu, rahasia kebahagiaan pria, keberhasilan dalam kehidupan perkawinannya amat ditentukan oleh besarnya perhatian dan rasa cinta terhadap istrinya. Untuk itu, seorang pria harus memahami tingkah laku istri dan keinginan-keinginannya.
Ia harus mengatur cara hidupnya sesuai dengan keinginan-keinginan istri dan hak-haknya yang sah.
Lewat sifat dan sikap yang baik tadi tadi, seorang suami, dapat mempengaruhi istrinya untuk menjadi yang terbaik untuk dirinya sendiri, untuk suaminya dan untuk anak-anaknya. Sebaliknya, isteri yang frustasi, ia tidak akan mempedulikan keindahan lagi.

Jangan sia-siakan harapannya
Sebelum menikah, seorang wanita sangat menikmati cinta dan kasih sayang orangtuanya. Kini, setelah ia menyetujui perkawinan dengan anda, setelah ia memilih untuk hidup bersama anda, ia mengharapkan anda untuk memenuhi keinginan-keinginannya dalam cinta dan kasib sayang. Ia mengharapkan anda untuk menunjukkan cinta yang lebih daripada yang diterimanya dari orangtua dan sahabat-sahabatnya. Ia telah begitu mempercayai anda dan itulah sebabnya maka ia memilih anda untuk seluruh sisa hidupnya.
Rahasia perkawinan yang bahagia adalah pengungkapan cinta kepada istri anda. Rasa suka melihat isteri bahagia, adalah jati diri seorang suami. Dalam hubungan sex misalnya, harga diri seorang suami, meningkat, justru ketika ia sanggup bertahan sampai isterinya puas. Seorang suami akan terpukul, bila ia mencapai kepuasan secara dini. Melihat isteri kecewa adalah pukulan bathin, ia merasa kualitas dirinya sebagai suami terancam. Sebenarnya bukan hanya dalam hubungan sex, dalam keseharian pun, kepuasan menjadi suami, adalah dengan melihat isteri bahagia.

Agar Isteri menjadi Penurut
Bila anda ingin mendapatkan hatinya, bila anda ingin agar ia mematuhi permintaan-permintaan anda, bila anda ingintali kasih semakin kokoh, buatlah agar ia mencintai anda, setialah kepadanya, anda harus selalu menunjukkan kasih sayang dan jangan pernah bosan untuk selalu mengungkapkan cinta anda kepadanya. Nabi Muhammad bersabda: “bila engkau mencintai seseorang di jalan Allah, maka ucapkanlah rasa cinta itu kepadanya”, mengagumkan, redaksi hasits ini bisa anda temukan dalam Riyadush Sholihin. Sayangnya, justru orang kafir, yang lebih sering mengatakan “I love you” pada isterinya.

Bila Isteri Kecewa
Bila isteri tidak lagi merasa disayangi, maka ia tidak lagi peduli dengan keindahan rumahnya, keceriaan anak-anak. Bahkan ia tidak lagi mempedulikan penampilannya di depan anda. Rumah anda akan selalu dalam keadaan berantakan. Ia tidak akan sudi melakukan usaha untuk seseorang yang tidak mencintainya. Sebuah rumah tanpa kasih sayang akan mirip dengan neraka yang menyala, walaupun rumah itu tampak sangat rapi dan penuh dengan barang-barang
Istri anda mungkin akan menjadi sakit atau mengalami kekacauan mental. Ia mungkin akan mencari kesenangan dengan orang lain bila anda tidak memberinya kepuasan. Ia mungkin akan bersikap dingin terhadap anda dan rumah tangga sehingga ia akan menghendaki perceraian.

Hayati Seni Mencinta
Seni mencintai dan dicintai, bahkan seni bercinta, harus diperbaharui setiap saat. Harus ada proses kreatif dalam membina “tangga menuju rumah” syurgawi. Dalam Al Quran pernikahan adalah ayat bagi kaum yang berfikir. Cinta yang tidak diperbaharui terus menerus, akan menjadi kebiasaan dan perbudakan.
Persahabatan dan cinta dalam keluarga lebih berharga daripada apa pun dan karena itulah Allah telah menjadikannya tanda-tanda kekuasaan dan berkah yang luar biasa yang telah dikaruniakan kepada manusia.
Al-Quran menyatakan : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS 30:21)
Rosulullah saw bersabda: “Bila dua orang saling mencinta, maka yang paling dekat di sisi Allah adalah orang yang paling besar cintanya diantara mereka”. Bahkan budaya mengucapkan cinta, adalah sunnah. Rosulullah saw bersabda: "Apabila kamu mencintai seseorang, maka hendaklah ia nyatakan kecintaaannya itu.1"
Dewasa ini kita beranggapan bahwa ungkapan "I love you" adalah budaya barat, padahal itu budaya sunnah. Sayangnya banyak suami muslim yang tidak pernah lagi mengatakan "aku cinta padamu" terhadap isterinya. Padahal kata-kata “Aku sangat mencintaimu” adalah ‘musik’ yang paling ditunggu-tunggu isterinya. Bila setelah tiga tahun anda menikah, dan tidak satu kalipun anda mengatakan bahwa “anda mencintainya”. Isteri anda akan resah dan bertanya tanya: “Benarkah ia masih mencintaiku? Atau hanya sekedar terikat kewajiban saja?” Keresahan ini akan memudarkan cahaya wajahnya.
Cinta dan kasih sayang tentu saja harus tulus agar dapat mencapai hati seseorang, dengan menunjukkan perasaan anda lewat kata-kata dan perbuatan, maka cinta anda akan dibalas dan hati anda pun akan semakin terikat serta terawat dalam cinta yang indah bersamanya.

Ekspresikan cinta anda
Berterus-teranglah dan jangan segan-segan mengungkapkan rasa cinta kepada istri anda. Baik di belakangnya maupun di hadapannya, jangan segan-segan untuk selalu memberikan pujian kepadanya. Pergoki dia ketika berbuat baik dan pujilah dengan tulus, cium keningnya dengan hangat. Jangan hanya memergokinya ketika berbuat salah dan memarahinya.
Terlalu sering diabaikan ketika berbuat baik, salah sedikit langsung dimarah, akan membuat isteri frustasi, akhirnya ia tak mengerti lagi, mengapa harus berbuat baik.
Kirimilah surat kepadanya ketika anda sedang keluar kota dan katakan bahwa anda merindukannya. Sekali-sekali belilah sesuatu untuknya. TeIeponlah ia ketika anda sedang bekerja dan tanyakan bagaimana keadaannya.
Salah satu hal penting dalam pikiran seorang wanita adalah pengungkapan cinta semacam ini. Seorang ahli psikologis, mengatakan bahwa G-spot2 seorang wanita adalah pada telinganya, diakan merasakan kenikmatan puncak, manakala dibuai dengan kata-kata.

Hormatilah Istri Anda
Seorang wanita bangga akan dirinya, seperti juga seorang pria. Ia ingin dihormati oleh orang lain. Ia akan tersinggung bila ia dihina atau diremehkan. Ia merasa senang bila dihormati dan akan merasa benci dengan orang-orang yang menghinakannya. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa: "lelaki yang mulia adalah pria yang memuliakan isterinya, dan lelaki yang hina adalah pria yang menghinakan isterinya”. Setiap Istri mengharapkan agar suami lebih menghormatinya daripada orang lain.
Seorang isteri akan rela bekerja demi kesenangan anda dan anak-anak dan karena itulah ia mengharapkan anda untuk menghargai dan menghormatinya. Menghormatinya tidak akan membuat anda rendah tetapi sebenarnya ini justru akan membuktikan cinta dan kasih sayang anda kepadanya. Karena itu, hormatilah ia lebih daripada orang lain dan berkatalah dengan sopan kepadanya. Jangan memotong pembicaraannya atau berteriak kepadanya. Panggillah ia dengan nama yang terhormat dan baik. Tunjukkan rasa hormat anda bila ia hendak duduk. Bila anda memasuki rumah dan ia lupa mengucapkan salam, maka ucapkanlah salam kepadanya.
Jangan katakan "selamat tinggal" bila anda pergi. Ucapkan dengan penuh cinta "Semoga segera berjumpa lagi dalam keadaan selamat". Jangan putus hubungan dengannya bila anda bepergian atau berada jauh dan rumah. Tilpun atau berkirim suratlah kepadanya.
Tunjukkanlah rasa hormat anda kepadanya bila anda berdua menghadiri suatu pertemuan. Bersungguh-sungguhlah dalam menghindari segala jenis penghinaan dan hal-hal yang menyinggung perasaan. Jangan sekali kali memarahinya di depan orang lain, walaupun dalam bentuk sindiran, atau tatapan mata tajam. Jangan berpikir bahwa karena anda berdua terlalu akrab dengannya maka ia tidak keberatan anda memperolok-oloknya. Sebaliknya, ia akan membenci sikap yang demikian itu tetapi tidak mau mengungkapkannya.
Seorang wanita bangsawan, yang berusia sekitar 35 tahun, mengatakan tentang permintaan cerainya: “Sudah 12 tahun saya menikah. Suami saya adalah orang baik-baik dan banyak sifat baik dan terpuji dalam dirinya. Tetapi ia tidak pernah mau menyadari bahwa saya adalah istrinya dan ibu dari kedua orang anaknya. Ia pikir ia adalah orang yang disukai dalam perkumpulan-perkumpulan, tetapi ia selalu mengadakan pertunjukan dengan cara menggoda saya dan menghina saya. Anda mungkin tidak percaya sampai di mana saya telah dihinanya. Jiwa saya telah banyak terganggu hingga saya pergi kepada seorang psikiater untuk dirawat. Saya telah membicarakannya kepada suami saya berkali-kali. Saya telah memohon kepadanya untuk tidak memperlakukan saya dengan cara begitu. Saya telah mengingatkannya bahwa saya adalah istrinya, dan membicarakan umur saya serta bercanda mengenai diri saya di hadapan khalayak ramai sehingga mereka tertawa dan bersenang-senang adalah hal yang tidak layak. Saya merasa malu di depan orang banyak karena saya bukan orang yang pandai melucu. Saya tidak dapat mengikutinya. Karena permohonan saya tidak diterima oleh suami saya, maka saya memilih untuk berpisah dengannya. Saya mengerti bahwa saya tidak akan berbahagia hidup sendiri, tetapi saya tidak dapat hidup dengan seseorang yang terus menerus menghina saya.”
Semua wanita mengharapkan suaminya untuk menghormati mereka dan mereka semua tidak suka dihina. Bila seorang wanita tetap diam setelah dihina oleh suami mereka, ini bukan berarti mereka suka.
Bila anda menghormati istri anda, ia akan melakukan hal yang sama terhadap anda, dan karenanya hubungan anda akan makin erat. Anda pun akan dihormati oleh orang lain. Bila anda memperlakukannya secara salah dan ia merasa sakit hati, maka sekali lagi ini adalah kesalahan anda.
Menikah tidak sama dengan mempunyai budak belian. Anda tidak dapat memperlakukan orang yang merdeka sebagai budak. Istri anda telah menikah dengan anda dengan tujuan untuk hidup bersama anda dan untuk berbagi dalam kehidupan dengan laki-laki yang dicintainya. Ia mengharapkan hal yang sama dari anda seperti juga anda mengharapkan darinya. Karena itu, perlakukanlah ia dengan cara yang anda pun menyukainya. Rosulullah SAW bersabda : "Tidak beriman salah seorang kamu, sehingga ia menyukai sesuatu terjadi pada saudaranya seiman, seperti ia suka hal demikian terjadi pada dirinya sendiri”

Syetan dan Bulan Ramadhan


كَـانَ رَسُـوْلُ اللَّـهِ r يُـبَـشِّـرُ أَصْـحَـبَـهُ يَـقُـوْلُ قَــدْ جَـاءَكُـم شَهْـرٌ رَمَضَـانَ, شَهْـرٌ مُـبَـارَكٌ, كَتَبَ اللَّـهُ عَـلَـيكُـمْ صِـيَـا مَـهُ, فِـيْـهِ تُـفْـتَـهُ اَبْـوَابُ الجَـنَّـةِ, وَتُـغْـلَـقُ فِـيْـهِ اَبْـوَابُ الْـجَـحِـيْـمِ, وَتُـغَـلُّ فِـيْـهِ الشَّـيَاطِـيْـنِ, فِـيْـهِ لَـيْـلَةٌ خَـيْـرٌ مِـنْ أَلْـفٍ شَهْـرٍ, مَـنْ حُـرِمَ خَـيْـرَهَـا فَـقَـدْ حُـرِمَ
Adalah Rosulullah r biasa memberi kabar gembira kepada para shahabatnya, beliau bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Di dalamnya Allah mewajibkan kepadamu ‘Ibadah Shiyam; pada bulan ini dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dan diikat syetan-syetan; juga terdapat pada bulan ini satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang tidak memperoleh kebaikan pada bulan Ramadhan sungguh dia terhalang dari kebaikan” (H.R. Ahmad)
Syetan itu ada dua jenis : [1] dari golongan Jin dan [2] dari golongan Manusia (lihat Q.S 6 : 112 dan Q.S. 114 : 4 – 6). Pada bulan Ramadhan jenis syetan yang diikat adalah syetan dari jenis Jin:
... وَتُــصـْـفَـدُ فِيـهِ مَرَدَ ةُ الْـجِـنَّ فَلاَ يَـخْلُـصُـونَ فِـيـهِ إِلَى مَـا كَا نُـوْا يَـخْلُـصُـونَ إِلَـيـهِ فِى غَـيْـرِهِ
“… Pada bulan (Ramadhan) ini para jin yang jahat diikat maka mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya …” (H.R. Ahmad) Hadits ini dha’if, namun diantara bagian-bagiannya ada nash-nash lain yang memperkuatnya, termasuk digunakan untuk menjelaskan hadits shohih di atasnya, sebagai tambahan keterangan tentang, syetan jenis mana yang diikat pada bulan Ramadhan itu.

Diantara cara syetan jin menggoda adalah : [1] diperdayanya manusia hingga tidak lagi mengenal Allah (S.25:60), bila tidak bisa, [2] dibiarkannya mengenal Allah, tapi diajak untuk menolak perintahNya, seperti iblis sendiri berbuat demikian (S.7:12, iblis dengan logikanya sendiri, merasa tidak pantas untuk sujud pada yang dicipta dari tanah S.17:61), bila ini juga gagal [3] maka didorongnya manusia untuk melakukan segala peribadatan kepada Allah, namun hatinya dibisiki dengan kesombongan, merasa diri suci sehingga melecehkan manusia lain, padahal dengan kesombongan seberat zarrah saja manusia sudah terlarang masuk syurga (S.53:32, janganlah kamu menyatakan dirimu suci! Karena S.24:21, lihat sababun Nuzul S.4 :49). Jika digoda dengan kesombongan, tidak bisa, maka [4] dianjurkannya manusia itu untuk tenggelam dalam hal-hal yang sifatnya tathowwu, keutamaan sunat-sunnat, hingga waktunya habis di situ dan melalaikan tanggung jawab sosialnya, dengan demikian syetan berhasil menjeratnya pada banyak ‘hutang-dakwah’ lihat S.7:164-165, seperti orang yahudi yang mementingkan menyuruh anak-anaknya sholat dan berkurban, dan menganggap dengan ‘amalan itu ia bebas dari segala kesalahan dan dosa (sababun Nuzul S.4:49 berisi teguran Allah terhadap orang yang merasa bebas dari dosa dengan jalan seperti itu). Bila dengan cara ini pun tidak bisa, maka [5] iblis mengerahkan manusia yang telah dipihaknya untuk memerangi orang yang hanif tadi. Lihat S.8:48, S.3:175, S.4:76.
Adapun Pekerjaan Syetan dari jenis manusia :
1. Membuat hiruk pikuk yang membuat manusia berpaling dari Al Quran (S. 41 : 26)
2. Membuat cerita-cerita rekaan, nyanyian yang menyesatkan (S. 31 : 6 – 7)
3. Mengolok-olok orang yang beriman, untuk menjatuhkan mental muslimin (S. 83 : 29 – 36)
4. Menyebarkan berita keji di kalangan orang-orang yang beriman (S. 24 : 19)
5. Membuat tipu daya untuk menyakiti orang-orang beriman (S. 33 : 57 – 58)
6. Mencelakakan orang-orang yang beriman (S. 8 : 30, S. 3 : 21 – 22)

اَلْحَـمْـدُ لِـلَّـهِ رَبِّ الْعَـلَـمِـيْـنَ

Indahnya Ramadhan

Saat buletin ini sampai di tangan para pembaca yang budiman, Ramadhan tengah memasuki akhir minggu kedua. Itu artinya, hampir separuh puasa Ramadhan telah kita lalui. Dengan demikian, Ramadhan tinggal separuh lagi. Orang yang memahami indahnya bulan Ramadhan tentu akan merasa sangat bersedih, betapa hari-hari puasa seakan cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita memulai, tak terasa, sekarang sudah berjalan separuh. Tentu sebentar lagi pula, Ramadhan dengan segenap keindahan, keberkahan, dan kemuliaannya akan meninggalkan kita. Bila umur kita panjang, tahun depan atau 11 bulan lagi kita baru akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan.

Ramadhan Bulan Ampunan
Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah Allah SWT membuka peluang lebar-lebar bagi kita untuk membersihkan dosa dan kesalahan yang selama ini dilakukan asal kita melaksanakan puasa Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas serta tidak melakukan dosa-dosa besar. Tentang hal ini, Nabi menyatakan:
«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ اْحتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan landasan iman dan ikhlas akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Ahmad).

«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ»
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan menghapus dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR Muslim).

Saking bersihnya kita dari dosa, sekeluar kita dari Ramadhan, kuta digambarkan bagaikan baru dilahirkan kembali oleh ibu kita.
«فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَ اْحتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
Siapa saja yang berpuasa dan shalat malam (tarawih) karena iman dan ikhlas akan keluar dari dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya. (HR Ibn Majah dan al-Baihaqi).

Begitu mudahkah Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita? Jawabnya, ya. Yakinlah, Allah SWT pasti akan menerima tobat kita.
«إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ»
Sesungguhnya Allah pasti menerima tobat hamba-Nya selama belum mengalami sakratulmaut. (HR at-Tirmidzi).

Bahkan dalam hadis yang lain dijelaskan bahwa Allah SWT sesungguhnya sangat bergembira menyaksikan hambanya yang—meski berlumuran dosa—datang untuk bertobat lebih bergembira dibandingkan dengan orang yang dalam perjalanan di padang pasir menemukan kembali ontanya yang penuh perbekalan, yang sebelumnya hilang.
Muslim yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, karena itu tidak mungkin. Sudah menjadi tabiat manusia melakukan kesalahan dan kekhilafan. Di samping dorongan hawa nafsu dan tarikan lingkungan juga karena memang setan telah berjanji akan terus menggoda manusia. Akan tetapi, kata Nabi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bersegera bertobat.
«كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»
Setiap manusia berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat. (HR Ad-Darimi).

Jadi, sudahkan Anda bertobat? Alhamdulillah bila sudah. Salah satu syarat tobat kita diterima Allah adalah, seperti dalam ayat di atas, kita berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Di sinilah peran penting puasa yang disebut Nabi bagaikan benteng untuk kita tidak melakukan kesalahan.

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ»
Puasa bagaikan benteng (yang mencegah perbuatan keji dan mungkar). (HR al-Bukhari).

Kemuliaan Ramadhan
Ramadhan memang bulan mulia. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dalam bulan Ramadhan pula diturunkan al-Quran sebagai petunjuk hidup manusia, penjelas dan pembeda antara yang haq dan yang batil.

]شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ[
Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelas dari petunjuk itu, dan pembeda. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Begitu banyak pujian Allah untuk bulan Ramadhan dan keistimewaan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang berpuasa. Berbeda dengan ibadah yang lain, puasa dinyatakan untuk Allah sendiri:
«كُلُّ عَمَلِ اْبنِ أَدَمِ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَ أَنَا اَجْزِى بِهِ»
Setiap amal manusia untuknya kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membelasnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan dikatakan, bau mulut orang yang berpuasa (dan itu wajar karena seharian tidak kemasukan makanan atau minuman) ternyata pada sisi Allah lebih harum daripada bau minyak kesturi.
«فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ»
Sungguh, demi Zat yang jiwa Muhammad berada dal;am genggaman-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada Hari Kiamat darpada wangi minyak kesturi. (HR Muslim).

Dalam bulan Ramadhan, Allah yang Maha Pemurah menjadi lebih pemurah lagi. Dilipatkangandakan-Nya perhitungan pahala orang yang berbuat kebajikan. Siapa saja yang melakukan ibadah sunnah dihitung melakukan kewajiban dan yang melakukan kewajiban dilipatkangandakan pahalanya 70 kali dibandingkan dengan melakukan kewajiban di luar bulan Ramadhan.
«مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِكَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْهِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ»
Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan kebajikan (sunnah), dinilai sama melakukan fardhu di bulan lain. Siapa saja yang melakukan fardhu, dinilai 70 kali melakukan fardhu di bulan lain. (HR Ibn Khuzaimah).

Bahkan Allah juga akan menambah rezeki orang-orang beriman di bulan puasa ini.
«قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ وَشَهْرٌ يُزَادُ فِى رِزْقِ الْمُؤْمِنِ فِيْهِ»
Sesungguhnya engkau akan dinaungi bulan yang senantiasa besar lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ramadhan adalah bulan sabar dan sabar pahalanya surga. Ramadhan adalah bulan pemberian pertolongan dan bulan Allah menambah rezeki orang Mukmin. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dikatakan juga bahwa puasa memberikan kebahagiaan kepada yang melakukan, yakni ketika berbuka dan ketika bertemu Allah SWT kelak.
«وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ»
Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: ketika berbuka, ia senang dengan bukanya; ketika berjumpa dengan Allah kelak, ia senang dengan puasanya. (HR Muslim).

Benar sekali. Sepanjang hidup kita, tak terhitung sudah kita makan berbagai makanan. Akan tetapi, mengapa setiap berbuka, kita merasakan sesuatu yang berbeda. Ada perasaan lega, syukur, nikmat dan bahagia yang tak terkatakan. Semua itu tentu hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjalankan puasa. Tidak aneh, saat berbuka adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh siapapun yang berpuasa.
Tentang kebahagiaan kedua, yakni saat bertemu dengan Allah, Nabi menyatakan bahwa puasa akan memberikan syafaat (pertolongan) kepada yang melakukannya dan menghindarkannya dari jilatan api neraka.
«اََلصِّيَامُ وَالْقُرْانُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ: اِيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَاوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ»
Puasa dan al-Quran akan memberi syafaat pada Hari Kiamat. Berkata Puasa, “Ya Tuhan, Engkau larang hamba-Mu makan dan memuaskan syahwat pada siang hari, dan sekarang ia meminta syafaat padaku karena itu.” (HR Ahmad).

»«مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Tidak berpuasa seorang manusia satu hari dalam jihad fi sabilillah kecuali dengan itu Allah menghindarkan dirinya dari neraka selama tujuh puluh tahun. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Tentang indahnya bulan Ramadhan, Nabi yang mulia mengatakan:
«لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيْ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّى سَنَّةً كُلَّهُ رَمَضَانَ»
Seandainya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. (HR Ibn Abi Dunya).

Bagaimana dengan kita, apakah juga mengharapkan sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan?


Dapat Apa?
Pertanyaan penting setelah kita melaksanakan puasa Ramadhan sekian hari lamanya adalah, apa yang sudah kita dapatkan dari puasa kali ini? Jawabannya tentu berpulang pada bagaimana kita memaknai puasa Ramadhan itu sendiri. Bila puasa dimaknai sekadar tidak makan dan minum serta tidak melakukan yang membatalkan puasa, tentu hanya itu pula yang bakal didapat. Puasa memang merupakan ibadah dalam bentuk tidak mengkonsumsi makanan dan minuman serta tidak melakukan hal yang membatalkan puasa pada siang hari Ramadhan. Itu betul. Akan tetapi, Nabi sendiri menyatakan:
«لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ»
Bukanlah puasa dari sekadar menahan makan dan minum tapi puasa yang sesungguhnya adalah menahan dari laghwu dan rafats. (HR Ibn Khuzaimah).

Itu menunjukkan bahwa ada makna yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Selama puasa, kita dilarang makan dan minum serta berhubungan seksual dengan istri atau suami kita. Padahal, makanan dan minuman itu halal, serta suami atau istri pun juga halal. Ternyata, dengan tekad dan kemauan yang besar, kita bisa. Nah, bila untuk menjauhi yang halal saja bisa, mestinya dengan tekad yang sama, semua perkara yang haram, lebih bisa lagi kita ditinggalkan.
Puasa Ramadhan memang adalah bulan riyâdhah (latihan) untuk meningkatkan kemauan kita untuk taat kepada aturan Allah. Bila berhasil, kelak di penghujung bulan Ramadhan kita benar-benar bisa disebut muttaqîn (orang yang bertakwa), yakni orang yang mempunyai kemauan yang kuat untuk senantiasa melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Artinya, semestinya pada bulan lain setelah Ramadhan, kita menjadi lebih taat kepada syariat-Nya.
Lalu, mengapa kenyataannya tidak demikian? Tetap saja, kemaksiatan terjadi di mana-mana. Karena negeri ini rakyatnya mayoritas Muslim, pelaku kejahatan juga tentu kebanyakan Muslim. Pelacuran dan perjudian marak di mana-mana; pornografi dan pornoaksi tetap saja terjadi; korupsi makin menjadi-jadi; dan sebagainya. Jika demikian, mana pengaruh puasa yang setiap tahun dilaksanakan?
Kita ternyata memang selama ini kurang peduli terhadap esensi ibadah. Shalat rajin, maksiat juga rajin. Haji ditunaikan, korupsi digalakkan. Bacaan al-Quran dilombakan, tetapi ajarannya dilecehkan. Benarlah kata Nabi:
«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ»
Betapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan betapa banyak orang yang menghidupkan malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadangnya saja. (HR Ibn Majah).
Mau sampai kapan kita begini terus? Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.