4.30.2009

Generasi Rasulullah Saw Bagaimana Meneruskan Risalahnya

Oleh: ABU RIZQI NH

Hai Nabi, cukuplah Alloh (menjadi pelindung-Mu) dan bagi orang-orang mu’min yang mengikutimu”. (QS. An-anfal :64).

Semua orang yakin bahwa Alloh SWT itu sangat bijaksana, yang Maha besar santun dan kasih sayangnya. Hanya kadar atau bobot sebuah keyakinan itu, yang sampai hari ini perlunya diasah ketajamanya. Terbukti mengapa ummat belum merasakan ketajaman itu ?.
Masih sering buruk sangka kepada Alloh, kenapa …. ? sebab ada yang merasa berbuat baik ternyata dalam pandangan Alloh semua itu sia-sia.

Ayat diatas jelas tegas, bahwa orang-orang mu’min punya tugas dan kerja keras, penyambung tugas lanjut Rasul SAW, jika mau nantinya diakui sebagai ummat Nabi saw. Tidak gampang mengaku menyandang gelar sebagai ummat penyambung risalah hingga qiamat, nggak mudah menghayati firman Alloh “Jika Muhammad itu wafat apakah kamu akan murtad … ? (lihat QS. Ali-Imron “144).

Tidak cukup hanya dengan tangisan membaca sholawat nabi, meneluk keteladaan beliau sambil menari diiringi musik agar nampak islami, tidak cukup .. !!! Entah sudah beribu tahun yang lalu kita yakin islam itu paling mulia disisi Alloh SWT, bagaimana disisi kita, jangan-jangan hanya tinggal sejarah yang cukup dikenang dan diperingati pada hari-harinya. Merasa paling banyak berbuat dalam islam manakala bermegah-megahan menjadi penyelenggara panitia peringatan-peringatan tersebut. Kita renungi :

Dialah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan Dien yang haq agar dimenangkannya terhadap semua Dien. Dan cukuplah Alloh sebagai saksi” (QS.Al-Faath:28).

Itulah bukti kebenaran dari Alloh dimana tugas yang baik adalah bagaimana kelanjutan meneruskan Risalah, manakalah Nabi dan Rasul meninggalkan kita. Betapa rasa takutnya kita dulu, waktu dapat pekerjaan rumah dari sekolahan, patuh dan taat kepada guru-guru, besar rasa bersalah pekerjaan itu tertunda mengerjakannya, bahkan siap dihukum lari keliling lapangan aula sekolah, bahkan merasa bangga jika dapat nilai baik sepertinya kitalah yang apling pintar nggak tahunya itu hasil nyontek !!!. lagi-lagi sanksinya cukup tinggi juga ketahuanya hasil conteknya. Berikut ini petiknya ayat Al-Qur’an :

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dab rahibnya-rahibnya sebagai Rabb selain Alloh, dan (juga mereka mengilahkan) Al masih putra maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Maha Esa, tidak ada Ilah selain Dia. Maha suci Alloh dari apa yang mereka mempersekutukan”. (QS. At-Taubah :31).

Inilah bukti tegas dimana hasil nyontek yang tidak bertanggung jawab, dimana manusia suka yang ringan-ringan cara berpola berpikir, yang penting menguntungkan diri pribadi, nggak perlu repot-repot dan ruwet. Nabi Muhammad SAW yang disanjung dan diakui sebagai pembawa Risalah akhir tinggal kenangan.

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al-Maidah”50).

Pengikut Nabi Muhammad SAW, orang-orang mu’min sebagai peserta aktif tugas risalah, adalah dosa besar jika cara kerjanya rujukan dan pedomannya milik orang lain. Dia hanya sudi melakukan yang kamusnya dating dari yang menciptakan alam semesta ini, dimana manusia juga diperintahkan untuk tunduk takluk atas kehendak-Nya yaitu Alloh yang maha perkasa.

Pengikut Muhammad SAW secara bersama-sama dalam menunaikan tugas suci dari Alloh, saling mengisi kekurangan-kekurangannya demi tegaknya hukum Alloh. Keyakinan yang diberikan Alloh kepada generasi awal semangkin mempertebal rasa tanggung jawabnya selaku pemakmur bumi yang harus diselamatkan, walaupun ada yang tidak suka.

Mereka ingin menghendaki memadamkan cahaya (Dien) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan alloh tetap menyempurnakan cahaya-Nya. Meskipun orang-orang kafir benci" (QS. Ash-Shaaf:8).
Propaganda sesat yang terus digembar gemborkan, cukup membuat penerus risalah Bumi Alloh tak patah semangat. Dengan modal kekuataan Alloh, bantuan Alloh, kemuliaan Alloh, kerja amal ini terus berlanjut sampai akhir jaman, sampai Alloh menentukan keputusanya.
Tetapi (ikuilah Alloh), allohlah pelindung-Mu. Dan Dialah sebaik-baik penolong” (QS. Ali Imron:150).

Firman Alloh :
Ya Rabb kami, janganlah engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, Ya Rabb kami. Sesungguhnya engkau, Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana” (Al-Mumtahanah:5).

4.19.2009

Anjuran Untuk menutup Kekurangan kaum Muslimin Dan Larangan Dari Mencari-cari Kekurangan Mereka

1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "tidaklah seorang hamba menutupi aurat ( kekurangan/aib ) orang lain di dunia kecuali Allah menutupi auratnya ( aibnya ) di akhirat " HR. Muslim

2. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : muslim ( orang Islam ) adalah saudara bagi orang Islam lainnya, dia tidak menganiayanya dan tidak pula menyerahkannya kepada musuhnya ( tidak juga meninggalkannya tanpa pertolongan ), barangsiapa menolong saudaranya untuk memenuhi hajatnya, maka Allah bersamanya dalam memenuhi hajatnya, dan barangsiapa melapangkan suatu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah akan melapangkan baginya suatu kesusuhan dari kesusahan di hari qiamat, dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi aibnya di hari qiamat. HR. Muslim.

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik ke atas mimbar, lalu memanggil dengan suara yang tinggi : wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke hati mereka, janganlah menyakiti orang-orang yang beriman, janganlah mencela mereka, dan janganlah mencari-cari aurat ( aib ) mereka, karena barangsiapa mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka Allah membuka aibnya dan memalukannya walaupun dia berada di dalam rumahnya. HR. Tirmidzi.
Keterangan

Allah 'Azza wa Jalla cinta untuk menutupi aib makhluk-Nya, dan memerintahkannya ( menutupi aib orang lain ), oleh karena itu Allah mengharamkan tindakan mata-mata dan melarangnya, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa siapa saja yang menutupi aib seseorang, maka Allah menutupi aibnya di hari kiamat, dan melarang mencari-cari aib kaum muslimin dan tindakan memata-matai mereka tentang pekerjaan yang mereka sembunyikan.

Kandungan hadits-hadits di atas :

1. Keutamaan menutupi aib kaum muslimin, dan hal itu adalah salah satu sebab agar Allah menutupi kekurangannya di hari kiamat.
2. Larangan untuk mencari-cari aib kaum muslimin dan memata-matai mereka.
3. Sangsi bagi mereka yang melakukan hal tersebut ( mencari-cari aib orang lain ), bahwa Alllalh akan memalukannya dan menampakkan bagi manusia aibnya yang dia tutup-tutupi.


( diterjemahkan dari buku Durus Yaumiyyah, Rasyid bin Husain al-Abd Al-Karim, hlm. 351-352)