12.25.2008

Produktivitas Dalam Islam

Produktivitas berarti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu[1]. Islam sebagai pedoman hidup yang turun dari Sang Pencipta manusia, sangat menghargai bahkan amat mendorong produktivitas. Rosulullah saw. Bersabda:
عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤمِنَ الْمُحْتَـرِفَ
Dari Ibnu ‘Umar ra dari Nabi saw, ia berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang beriman yang berkarya (produktif menghasilkan berbagai kebaikan -pen)” H.R. Thabrani dalam Al Kabir, juga oleh Al Bayhaqi
عن عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ أمْسَى كَالاًّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أمْسَى مَـغْـفُوْرًا لَـهُ
Dan dai ‘Aisyah ra. Beliau berkata, telah berkarta Rosulullah saw “Barangsiapa yang disenjaharinya merasa letih karena bekerja (mencari nafkah) maka pada senja hari itu dia berada dalam ampunan Allah” H.R. At Thabrani dalam kitab Al Ausath.

Islam membenci pengangguran, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang shahabat Nabi saw, Ibnu Masud ra:
وعن ابن مسعود قال إني لأَكْرَهُ أنْ أرَى الرَّجُلَ فَارِغًا لاَ في عَمَلِ دُنْـيَا وَلاَ آخِرَةٍ
Sesungguhnya aku benci kepada seseorang yang menganggur, tidak bekerja untuk kepentingan dunia juga tidak untuk keuntungan akhirat. H.R. At Thabrani dalam kitab Al Kabir.

Bahkan Rosulullah menghargai seorang hamba yang sanggup mandiri, hidup dengan hasil kemampuannya sendiri:
حدثنا إبراهيم بن موسى أخبرنا عيسى عن ثور عن خالد بن معدان عن المقدام رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده
Makanan yang terbaik yang dimakan seseorang adalah dari hasil karya tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabi Dawud AS. Pun makan dari hasil kerjanya sendiri. (H.R. Bukhory : 1966)

Dalam keterangan lain, beliau menyebutkan bahwa sebaik baik usaha adalah apa yang merupakan ekspresi dari keterampilan dirinya, dan segenap tanggung jawab ekonomi yang dia berikan kepada ahli keluarganya, dinilai sebagai sedekah yang terus menerus menghasilkan pahala:
حدثنا هشام بن عمار ثنا إسماعيل بن عياش عن بجير بن سعد عن خالد بن معدان عن المقدام بن معد يكرب الزبيدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أطْيَبُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ
Pekerjaan terbaik seseorang adalah apa yang dikerjakan berdasarkan keterampilannya, dan apapun yang dinafkahkan seseorang untuk dirinyaوkeluarganya, anaknya dan pembantunya adalah sedekah. H.R. Ibnu Majah.
إنَّ اللهَ يُحِبُّ المُـؤمِنَ الْمُحْتَرِفَ الضَّعِيْفَ الْمُتَعَفِفَ وَيَـبْـغَضُ السَّائِلَ الْمُلْحِفَ
Sesungguhnya Allah mencintai seorang beriman yang sekalipun lemah, tetapi ia produktif dan selalu menjaga harga dirinya (tidak mau meminta-minta) dan Allah membenci tukang peminta-minta yang pemaksa. Di dalam Tafsir Al Qurthubi Juz 11 hal 321.

Produktivitas itu tetap harus dipertahankan dalam segala situasi dan kondisi, dengan sebuah penggambaran yang ekstrim, bahkan sekalipun anda tahu besok akan kiamat, tidak boleh membuat kita tidak berkarya dan produktif hari ini. Sebagaimana sabda Rosulullah saw:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنْ قَامَتِ السَّاعَةِ وَفي يَدِ أحَدِكُمْ فَسِيْلَةٌ فَلْيَغْرِسْهَا
Andaipun besok kiamat, sedang di tangan salah seorang di antara kamu ada tunas pohon kurma, maka tanamlah ia ! H.R. Al Bazaar, rijalnya tsiqot.

Demikian besarnya penghargaan Islam atas produktivitas, sampai –sampai disebutkan dalam Al Hadits, bahwa produktivitas juga erat kaitannya dengan jalan untuk memperoleh pengampunan dari dosa-dosa, yang justru malah tidak akan bisa mendapatkan pengampunan dengan cara yang lainnya.
وعن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبًالاَ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَلاَ الصِّيَامُ وَلاَ الْحَجُّ وَلاَ الْعُمْرَةُ قَالُوْا فَمَا يُكَفِّرُهَا يا رسولَ اللهِ قال اَلْهُمُوْمُ في طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ
Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada beberapa dosa yang tidak akan terhapus dengan sholat, shoum, haji dan umroh. Para shahabat bertanya, dengan apa menghapuskannya ya Rosulallah? Jawab beliau: dengan semangat dan bersungguh-sungguh mencari nafkah. H.R Ath Thabrani dalam kitab Al Ausath.
Tentu ini disampaikan agar muslimin tidak hanya melulu terfokus pada rutinitas ritual semata, tetapi mereka diingatkan bahwa ada aktivitas lain yang juga harus mereka tekuni, jika mereka ingin agar dosa-dosa mereka diampuni. Bahwa mereka pun mesti memiliki semangat yang tinggi untuk mencari nafkah bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

Bahkan Rosulullah saw. amat menganjurkan terkumpulnya harta yang baik, halal di tangan orang-orang yang baik. Dan tentu hal tersebut tidak akan terwujud jika mereka tidak produktif:
فقال يا عُمَرُ وَ نَعِمًا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
Berkata Rosul saw. Wahai Umar, sesungguhnya sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki oleh orang yang sholeh. HR. Ahmad

Demikian pentingnya usaha mencari nafkah, sehingga Rosulullah menyatakannya sebagai sebuah kewajiban bagi setiap muslim, artinya ketika seseorang tidak berusaha untuk menjadi produktif, maka selama itu pula ia menanggung dosa (melalaikan kewajiban yang seharusnya dikerjakan dengan sebaik-baiknya):
وعن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال طَلَبُ الْحَلاَلِ وَاجِبٌ عَلىَ كُلَّ مُسْلِمٍ
Mencari nafkah yang halal itu wajib bagi setiap muslim. HR. Ath Thabrani dalam kitab Al Ausath

Namun demikian, usaha mencari nafkah yang halal itu, diharus ditempuh dengan cara yang halal dan tidak mendzalimi manusia. Dan bila sikap demikian dilaksanakan secara konsisten, Rosulullah menjamin mereka dengan Syurga:
وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ أكَلَ طَيـِّـبًا وَعَمِلَ في سُـنَّةٍ وَأمِنَ النَّاسَ بَـوَائِـقَهُ دَخَلَ الْجَـنَّةِ
Barang siapa yang mendisiplinkan diri, ia hanya memakan makanan yang (halal) lagi baik saja, dan beramal dalam sunnah (Nabi saw) dan membuat orang lain aman dari keburukan dirinya, maka (pasti) akan masuk syurga. HR. At Tirmidzi (hasan-shohieh) dan HR. Al Hakim (shohihul Isnad)

Rosulullah saw. menekankan satu bentuk integritas moral kepada seluruh muslim, agar seluruh tindakan mereka tetap berada dalam aktivitas yang santun dan beradab. Tidak merugikan manusia lain dalam setiap aktivitasnya, muslimin tidak boleh mencari keuntungan dengan cara-cara yang curang dan merugikan pihak lain. Kehadiran muslimin harus memberi kontribusi pada kemajuan peradaban dunia. Bahkan Rosulullah Saw, menyatakan:
وعن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أرْبَعٌ إذَا كُنَّ فِيْكَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدّ ُنْـيَا حِفْظُ أمَانَـةٍ وَصِدْقُ حَدِيْثٍ وَحُسْنُ خَلِيْـقَةٍ وَعِفَةُ في طُعْمَةٍ
Ada empat hal yang bila semuanya ada pada dirimu, maka (dijamin) kamu tidak akan kehilangan (manfa’at dunia): [1] memelihara amanah [2] jujur dalam perkatakan [3] baik akhlaq [4] dan menjaga diri (memelihara integritas moral) dalam (mencari) sumber-sumber makanan. HR. Ahmad dan Ath Thabrani dengan isnad hasan.

Bahkan Rosulullah menjamin, setiap usaha yang dilaksanakan dengan “fair” yang kemudian hasil usahanya itu digunakan untuk menafkahi seluruh orang yang berada dalam tanggung jawabannya, maka semua itu bernilai “zakat” pensucian bagi dirinya:
وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال أيـُّمَا رَجُلٍ اِكْـتَسَبَ مَالاً مِنْ حَلاَلٍ فَأطْـعَمَ نَـفْسَهُ أوْ كَسَاهَا فَمَنْ دُوْنَهُ مِنْ خَلْقِ اللهِ كَانَ لَهُ بِـهِ زَكَاةً
Siapapun orangnya yang mencari harta yang halal, yang kemudian dengannya ia belanjakan untuk memenuhi keperluan pangan dan sandangnya, serta untuk memenuhi kepeerluan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, maka semua itu menjadi “pensuci” bagi dirinya. HR. Ibnu Hibban di dalam shahihnya.

Agar segala manfaat dari hasil usaha kita berfungsi sebagai pembersih nurani, maka kehalalan cara memperolehnya harus dijaga, sebab hasil usaha yang didapat dari cara-cara yang kotor, bukan hanya merusak karakter kemanusiaan kita (character assasination) tetapi juga membuat amal ibadah kita menjadi terhambat dari penerimaan Ilahi. Kredibilitas (Ash Shidqu) dan sikap penuh tanggung jawab (responsibilitas) diakui sebagai hal terberat yang harus tetap dipertahankan, dalam keadaan apapun, sebab itu berkait langsung dengan diterima atau tidaknya amal ibadah kita. Sekali lagi bukan urusan syah atau tidaknya amal ibadah, tetapi diterima atau tidaknya. Sebab syah atau tidak diukur dengan terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat ibadah, tetapi diterima atau tidak, itu tidak hanya dilihat dari segi ibadahnya saja, tetapi dari dampak ibadah tersebut:
وروي عن علي رضي الله عنه قال كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَطَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٍ مِنْ أهْلِ العَالِـيَةِ فقال يا رسول الله أخْـبَرَنِي بِأشَدِّ شيءٍ في هَذَا الدِّينِ وألِـيْـنِهِ فَقَالَ ألِـيْـنُـهُ شهادةُ أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وأشَدُّهُ يا أخا العَالية الأمَانَـةُ إنَّـهُ لاَ دِينَ لِمَنْ لاَ أمَانَةَ لَهُ وَلاَ صَلاَةَ لَهُ وَلاَ زَكاَةَ لَهُ يا أخا العالية إنَّـهُ مَنْ أصَابَ مَالاً مِنْ حَرَامٍ فَلَـبِسَ مِنْهُ جِلْـبَابًا يَعْنِي قَمِيْصًا لَمْ تُـقْبَلْ صَلاَتُهُ حَـتَّى يُنْحَى ذَلِكَ الْجِلْباَبَ عَنْـهُ إنَّ اللهَ عز وجل أكْرَمُ وأجَلُّ يا أخا العالية مِنْ أنْ يَقْـبَلَ عَمَلَ رَجُلٍ أوْ صَلاَتَهُ وَعَلَيْهِ جِلْبَابٌ مِنْ حَرَامً
Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata kami tengah duduk-duduk bersama Rosulullah saw. Tiba-tiba muncul seseorang dari mereka yang berkedudukan tinggi (status sosialnya), kemudian dia berkata: Ya Rosulullah, kabarkan kepadaku apa yang paling sulit dilaksanakan dalam agama ini dan apa yang paling ringan daripadanya? Maka berkata Rosulullah saw. Yang paling ringan untuk dilaksanakan adalah “Syahadat Lailaha Illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluhu” adapun yang paling berat, wahai saudara yang berkedudukan tinggi, adalah “Amanah”. Sesungguhnya tidak (bernilai) agama (nya) orang yang tidak amanah, demikian juga tidak bernilai sholat dan zakatnya. Wahai saudara yang berkedudukan tinggi, sesungguhnya siapa yang mendapatkan harta dari hal yang haram, kemudian dia membeli pakaian dengannya maka tidak akan diterima sholatnya hingga ia melepaskan pakaiannya yang (berasal dari) yang haram itu. Sesungguhnya Allah terlalu mulia dan tinggi (tidak mungkin) akan menerima amal seseorang, demikian juga sholatnya sedang padanya ada pakaian yang berasal dari yang haram. H.R Al Bazaar

Ini menunjukkan bahwa seorang muslim bukan saja harus professional dalam mencari nafkah, tetapi juga harus menghindari kecurangan. Bahkan setiap energi yang didapatnya dari makanan yang haram, akan menghambat diterimanya sholat dan jika dia tidak bertobat maka akhir kehidupannya akan sangat mengerikan:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِـيَدِهِ إنَّ الْعَبْدَلَـيَقْـذِفُ اللُـقْمَةَ الْحَرَامِ في جَوْفِـهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلٌ أربَعِيْنَ يَوْمًا و أيـُّمَا عَبْدٍ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أوْلَى بِهِ
Demi Jiwa Muhammad yang ada dalam genggamanNya, barangsiapa yang memasukkan satu suapan dari yang haram ke dalam mulutnya dari barang yang haram, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama empat puluh hari, dan bagian manapun dari seorang hamba yang tumbuh dagingnya dari barang yang haram, maka api nerakalah yang paling berhak membakarnya. H.R Ath Thabrani dalam kitab Ashoghir

اَلْحَـمْـدُ لِـلَّـهِ رَبِّ الْعَـلَـمِـيْـنَ

[1] Harianto, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penerbit Ketaping Surabaya, tt, halaman 467.

12.17.2008

Gaya Belajar Anak

Oleh H. Firdaus
Psikologi Anak
Keunikan Gaya Belajar dan Kecerdasan Anak Reseptif

Anak yang reseptif adalah anak yang “nrimo” dia mudah menerima apa yang ditawarkan kepadanya
TIPE TEMPERAMEN RESEPTIF
1. Selalu mau tahu apa yang akan terjadi berikutnya dan juga harus tahu apa yang dapat diharapkan. Jika mereka mengerti alirannya, mereka lebih mudah diajak kerja sama
2. Tidak suka situasi baru. Mereka membutuhkan rutinitas, pengulangan dan segala hal harus ada ritmenya
3. Butuh waktu makan, waktu tidur, main, waktu khusus dengan pendidik, dll yang jelas. Mereka senang dengan kata-kata "sekarang waktunya makan" atau "sekarang kita akan melakukan”.
4. Tidak bisa cepat mengambil keputusan dan tidak dapat menjawab apa yang mereka inginkan, pikirkan atau rasakan. Mereka butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan harus diberitahu harus bagaimana. Namun mereka tidak senang dipaksa atau disuruh cepat-cepat.
5. Tidak bisa mengarahkan dirinya, kreatif atau inovatif.
6. Tidak tertarik untuk menjadi pemimpin atau terlibat, mereka cukup hanya melihat dan mengamati. Bagi anak reseptif, mengamati berarti terlibat.
7. Tidak akan tertarik untuk mengerjakan sesuatu yang baru hanya dengan alasan. Berikan kegiatan spesial pada waktu spesial.

CONTOH KASUS

Si reseptif berusia 4 tahun akan mengamati dengan seksama kegiatan temannya tanpa merasa diabaikan. Ini bukan masalah. Karena pada akhirnya, anak juga akan terlibat. Untuk merangsangnya terlibat, jangan katakan "Kamu mau ikutan?" tapi katakan "Ayo Abang, sudah waktunya kamu ikut main yuk?" Jika menolak katakan "Baik, ibu lihat kamu masih lebih senang melihat. Beritahu ibu ya jika kamu sudah siap ikut main."

DISIPLIN

Anak reseptif akan mau terlibat jika diberikan suasana ritual yaitu agar anak merasa spesial maka ia butuh kegiatan spesial pada waktu yang spesial pula. Ritual menyenangkan ini akan membentuk ingatan yang menyenangkan bagi anak sehingga anak menjadi aman sepanjang hidupnya.

Anak reseptif juga butuh sesuatu yang menumbuhkan rasa aman tapi tidak terlalu spesial yaitu ritme (ada waktu aktif, ada waktunya istirahat, ada waktu memulai tapi ada juga waktu untuk membereskan).
Segala tingkah laku yang berulang-ulang, rutinitas, atau ritual akan memberikan rasa ritme dalam kehidupan. Anak menjadi nyaman jika dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya

YANG HARUS DIPERHATIKAN

1. Anak reseptif seringkali terabaikan oleh guru karena pendiam dan tidak menuntut. Anak ini perlu diberi motivasi dan tantangan karena mereka sebenarnya lebih suka tidur atau tinggal di rumah.

2. Anak reseptif harus diberi pekerjaan, kalau tidak mereka tidak akan mengembangkan minatnya. Tapi hal ini harus disertai dengan rutinitas, ritual dan ritme yang dapat mendukung mereka untuk berani secara bertahap mengambil resiko karena mengerjakan sesuatu yang baru

KEPRIBADIAN SAAT DEWASA

Anak reseptif jika mendapatkan ritme yang mereka butuhkan, dapat mengembangkan kekuatan mereka dalam melakukan pengaturan (organizing). Mereka dapat menciptakan keteraturan dan mempertahankannya, tenang, damai dan praktis. Mereka pun dapat mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan dan sangat berbakat dalam menenangkan/membuat nyaman dengan dukungan yang penuh cinta. Mereka bergerak dengan lambat tapi mantap dan solid.

CARA BELAJAR

1. VISUAL

Ciri-ciri: Mudah mengingat gambar, rapi, terorganisir, pengamat dan penampilannya ok, mengingat dengan gambar dan lebih suka membaca sendiri daripada dibacakan

Untuk Meningkatkan Daya Serap

Anak membutuhkan gambar untuk dilihat dan diamati, seperti foto, diagram, grafik, poster dan gambar yang berwarna warni.

2. AUDITORI

Ciri-ciri: Mudah mengingat suara dan berbagai variasi kata, Konsentrasi mudah pecah, Senang berbicara dalam hati atau dengan orang lain, Belajar melalui mendengar, Bisa menangkap instruksi verbal tanpa diulang.

Untuk Meningkatkan Daya Serap

- Anak butuh mendengar cerita, pelajaran yang dikemas dalam bentuk nasyid, puisi, diskusi.

- Anak juga membutuhkan kaset tilawah, kaset cerita atau suara-suara lain.

3. KINESTETIK

Ciri-ciri: mudah mengingat gerakan dan ungkapan wajah/ekspresi emosi, kalau berbicara senang menyentuh orang lain, berdiri dekat dengan orang yang diajak berbicara, banyak bergerak, belajar langsung dengan mengerjakan, membaca sambil menunjuk, senang dengan kegiatan fisik, menghafal dengan berjalan mondar-mandir dan mengamati.

Untuk Meningkatkan Daya Serap

Anak membutuhkan hands-on learning. Benda yang dapat langsung disentuh, dipegang dan dirasakan anak.

KECEPATAN BELAJAR

1. Jenis PELARI

Ciri-ciri: belajar dengan cepat l melihat, mencoba dan langsung bisa

Contoh: Anak melihat anak lain belajar naik sepeda. Tak lama kemudian, dia akan meminjam sepeda dan jangan kaget! dia langsung bisa

2. JENIS PEJALAN KAKI

Ciri-ciri: membutuhkan waktu untuk mempelajari sesuatu, setiap kali diberi pelajaran selalu dapat menunjukkan kemajuan pujaan pendidik karena pendidik merasa berguna, menyenangkan dan tipe anak mudah

Contoh: Untuk dapat naik sepeda, anak harus diajarkan secara bertahap. Selangkah demi selangkah, anak akhirnya akan mampu naik sepeda.

3. JENIS PELONCAT

Ciri-ciri: anak yang paling sulit dan memberikan banyak tantangan pada pendidik, butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar karena mudah lupa, kalau diberi pelajaran seperti tidak ada kemajuan, namun tiba-tiba saja secara misterius anak bisa seperti orang meloncat saja

Contoh: Berbulan-bulan diajar selalu lupa dan tidak menampakkan kemajuan. Ketika pendidik mulai kesal dan malas untuk mengajar anak naik sepeda. Tiba-tiba suatu hari (yang juga tidak dapat ditebak kapannya) anak dapat naik sebeda dengan baik. Wallahu alam bishowab. Jadi anak ini sangat membutuhkan dukungan pendidik.

MACAM-MACAM KECERDASAN

1. KECERDASAN AKADEMIK

Keterangan: prestasi sekolah baik, dapat duduk, mendengar dan belajar di kelas dengan tenang, mampu menyerap, memahami dan mengulang pelajaran, senang membaca, menulis dan mendengarkan ceramah

2. KECERDASAN EMOSIONAL

Keterangan: mampu mempertahankan persahabatan yang harmonis, sadar dan mampu merasakan perasaan orang lain dan mengerti sudut pandang orang lain (empatik)

3. KECERDASAN FISIK

Keterangan: menonjol dalam bidang olah raga, sehat, kuat dan penuh semangat, tahu bahwa tubuhnya butuh olah raga dan makanan yang sehat, senang merasa sehat dan tampil sehat

4. KECERDASAN KREATIF

Keterangan: memiliki kemampuan imajinasi yang lebih dibanding orang lain, mampu berfikir berbeda, tidak masalah jika harus bermain sendirian

5. KECERDASAN SENI

Keterangan: lebih menyukai kegiatan; menyanyi; mendesain; menggambar; drama; akting

6. KECERDASAN PRAKTIS

Keterangan: tidak suka mendengar ceramah, senang dengan informasi praktis, senang belajar hal yang berguna untuk hidup dan ada hubungannya dengan kehidupan

7. KECERDASAN INTUITIF

Keterangan: mampu memahami dan menangkap yang tersirat dari yang tersurat dengan mudah, senang belajar agama, biasanya memiliki indra ke enam

8. KECERDASAN KEBERBAKATAN

Keterangan: menonjol hanya di salah satu bidang saja dan kurang mampu di bidang lain, mudah bosan dan tidak termotivasi jika rangsangan kurang menantang.
Banyak hal ditawarkan untuk dapat memahami anak, namun orangtua tetap menjadi subjek yang paling tahu tentang anak mereka. Gunakanlah hati untuk mendidik anak dan meminta fatwa. Caranya mudah dan murah kok, cukup dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah swt, serta rela diatur oleh Allah, Al-Qur an dan Hadits. Wallahua’ lam bishowa

12.09.2008

Qurban 1429 H

Yayasan Madinatulummah Duri memotong 4 ekor Sapi dan 1 ekor Kambing menghasilkan 270 kantong plastik yang berisi daging sapi dan 15 kantong plastik yang berisi daging kambing dan tiap kantong beratnya 2-3 Kg, pemotongan ini bertempat di Jalan Kayangan Gg. Pari.

Ini merupakan bentuk kepedulian dari para jemaah Madinatulummah dan simaptisan masyarakat kota Duri untuk memperkuat tali silaturahmi dan ukuwah Islamiah, membantu kaum dhuafa, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.