Bulughul Maram 335
Dari Fadla’ah Bin Ubaid ia berkata : Rasulullah SAW mendengar seorang mendu’a dalam Sholatnya, dengan tidak memuji Allah dan tidak berShalawat kepaada Nabi SAW, maka sabdanya : “ Orang ini terburu-buru “ Kemudian ia panggil-dia, lalu bersabda :
Apabila seorang dari kamu bershalat,, hendaklah ia memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjungnya, kemudian ia bershalawat atas nabi SAW, kemudian ia berdo’a dengan apa yang ia suka “
Diriwayatkan-dia oleh Ahmad dan “TIGA” dan dishahkan-dia oleh Tarmizi dan Ibnu Habban dan hakim
Keterangan :
1. Hadits ini, oleh sebab ada padanya sebutan memuji, menyanjung, bershalawat, dn berdo’a maka tempatnya tidak lain melainkan di ATTAHIYYAT “
2. Memuji dan menyanjung itu maksudnya ialah Attahiyyatulillah…………. Allahumma Shalli ‘ala Muhammad………………, berdo’a itu maksudnya ialah dua di akhir Attahiyyat yang dimulai dengan kalimah Allahumma dan sebangsanya
3. Jadi maksud Hadits tersebut bahwa didalam ATTAHIYYAT hendaklah ada tiga perkara : PUJIAN KEPADA ALLAH, SHALAWAT, dan DO’A
Bulughul Maram 336
Dari Abi Mas’ud. Ia berkata : Telah berkata Basyir bin Sa’d : Ya Rasulullah ! Allah perintah kami bershalawat atas paduka tuan, maka bagaimanakah (cara) kami bershalawat atas paduka tuan?. Maka ia diam kemudian ia bersabda : “ Cátala : Allahumma Shalli ‘ala Muhammad ……………..sampai innaka hamidum majid” yang artinya : Ya Rabku ! Berilah rahmat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah beri rahmat atas keluarga Ibrahiem, dan berilah kurnia atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah beri kurnia atas Ibrahim di (lidah-lidah) mahluk yang berakal, karena sesungguhnya Engkau yang amat terpuji, amat mulia “ Dan salam sebagaimana kamu telah tahu”
Diriwayatkan-dia Oleh Muslim, dan ditambah oleh Ibnu Khuzaimah padanya :…
……, Maka bagaimana ( cara ) kami bershalawat atas paduka tuan apabila kami hendak bershalawat aras paduka tuan di dalam shalat kami………?
Keterangan :
Hadits ini menerangkan Lafazh Shalawat, ada lain lagi hadits meriwayatkan dengan sedikit perubahan, Kita boleh menggunakan mana yang kita suka asal riwayatnya sahih, disemua riwayat shalawat itu, tidak ada didalam kalimah SAYYIDINA MUHAMMAD atau SAYYIDINA IBRAHIM. Dari itu janganlah kita ada adakan apa apa yang tidak diriwayatkan dari nabi SAW
Yayasan Madinatul Ummah mengharapkan terciptanya Kota Duri atau Kec. Mandau menjadi kota berperadaban, dimana nilai-nilai kemanusiaan dijaga dan dibela, kota intelektual dimana ilmu dan pengamalannya dijunjung tinggi, kota produktif dimana prestasi, inovasi dan kemandirian adalah karakter kehidupannya.
8.05.2011
TAHLILAN YANG DILESTARIKAN MAYORITAS MASYARAKAT
HUKUM TAHLILAN
Ditinjau dari segi bacaan: ayat-ayat suci Alquran, tahlil, tahmid, takbir, tasbih, shalawat,doa dll semua itu sangat dianjurkan oleh Islam untuk membacanya.
Ditinjau dari sisi hidangan yang disediakan oleh keluarga mayyit , hal ini bertentangan dengan hadits:
a. Jafar bin Abi Thalib.
b. Maqasid Syariah: Bahwa Islam selalu menganjurkan untuk peduli dan membantu orang yang sedang susah. Namun realitanya sebaliknya orang yang kena musibah yang memberi bantuan kepada orang yang tidak kena musibah.
c. Banyak orang miskin memaksakan diri untuk menyediakan hidangan sekalipun dengan hutang.
d. Ditinjau dari sisi waktu : Bahwa tahlilan hari pertama, ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100, haul (ulang tahun kematian), dan ke-1000. Ini adalah sisa-sisa agama Animisme, Hindu dan Budha yang dibawa oleh pemeluk agama Islam dari kalangan mereka
SIKAP DAI TERHADAP TAHLILAN YANG DILESTARIKAN MAYORITAS MASYARAKAT
Jika mengikutinya dengan maksud untuk membawa misi perbaikan dan amar maruf nahi munkar dengan bijak, merubah sisa-sisa jahiliyah menjadi Islam, maka hal itu tugas mulia bagi setiap muslim terutama para daI, namun jika tidak, berarti menyetujui bahkan melegitimasi perbuatan itu, hal ini sangat tercela menurut Islam.
SOLUSI
Merubah hari-hari yang ditentukan oleh Animisme, Hindu dan Budha,1,3,7,40,100, 1 tahun 1000 menjadi hari lainnya, hari libur jumat atau lainnya. Yang penting tidak terfokus hari tertentu seakan-akan ketentuan agama.
Hidangan dapat dikordinir oleh majelis talim, atau yayasan atau, RT untuk membantu setiap keluarga yang kena musibah.
Di laksanakan di masjid setelah sholat Jumat tanpa hidangan, keluarga mayyit dapat bersedekah semampunya untuk mayyit.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh
Ditinjau dari segi bacaan: ayat-ayat suci Alquran, tahlil, tahmid, takbir, tasbih, shalawat,doa dll semua itu sangat dianjurkan oleh Islam untuk membacanya.
Ditinjau dari sisi hidangan yang disediakan oleh keluarga mayyit , hal ini bertentangan dengan hadits:
a. Jafar bin Abi Thalib.
b. Maqasid Syariah: Bahwa Islam selalu menganjurkan untuk peduli dan membantu orang yang sedang susah. Namun realitanya sebaliknya orang yang kena musibah yang memberi bantuan kepada orang yang tidak kena musibah.
c. Banyak orang miskin memaksakan diri untuk menyediakan hidangan sekalipun dengan hutang.
d. Ditinjau dari sisi waktu : Bahwa tahlilan hari pertama, ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100, haul (ulang tahun kematian), dan ke-1000. Ini adalah sisa-sisa agama Animisme, Hindu dan Budha yang dibawa oleh pemeluk agama Islam dari kalangan mereka
SIKAP DAI TERHADAP TAHLILAN YANG DILESTARIKAN MAYORITAS MASYARAKAT
Jika mengikutinya dengan maksud untuk membawa misi perbaikan dan amar maruf nahi munkar dengan bijak, merubah sisa-sisa jahiliyah menjadi Islam, maka hal itu tugas mulia bagi setiap muslim terutama para daI, namun jika tidak, berarti menyetujui bahkan melegitimasi perbuatan itu, hal ini sangat tercela menurut Islam.
SOLUSI
Merubah hari-hari yang ditentukan oleh Animisme, Hindu dan Budha,1,3,7,40,100, 1 tahun 1000 menjadi hari lainnya, hari libur jumat atau lainnya. Yang penting tidak terfokus hari tertentu seakan-akan ketentuan agama.
Hidangan dapat dikordinir oleh majelis talim, atau yayasan atau, RT untuk membantu setiap keluarga yang kena musibah.
Di laksanakan di masjid setelah sholat Jumat tanpa hidangan, keluarga mayyit dapat bersedekah semampunya untuk mayyit.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD S A W SEBAGAI PENUNJUK JALAN LURUS
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALAM SEBAGAI PENUNJUK
JALAN LURUS
Allah berfirman :
"Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa". [Al-An'am : 153]
Dia telah mengajarkan kepada umat manusia sebagaimana tertera dalam Surat Al-Fatihah, yaitu "Al-Hamdu" maknanya ; hendaklah mereka memohon hidayah kepada Allah agar Dia memberi petunjuk shirathal mustaqim. Adapun shirathal mustaqim adalah agama-Nya, yaitu agama yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia adalah Al-Islam, Al-Iman, hidayah, taqwa dan kebaikan.
Allah berfirman :
"Artinya : Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha pemurah lagi Maha Pengasih. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan". [Al-Fatihah : 1-4]
Ini semua adalah sanjungan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sekaligus merupakan pengarahan bagi hamba agar mengakui bahwa sesungguhnya Dia adalah "Al-Ma'bud (yang berhak diibadahi)". dengan sebenar-benarnya. Dia pula tempat memohon pertolongan dalam seluruh urusan. Kemudian Allah mengajarkan kepada mereka agar mengucap :
"Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus".
Ketika manusia memuji dan menyanjung-Nya serta mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa Allah adalah tempat memohon pertolongan, maka Allah mengajarkan mereka agar mengucapkan :
"Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat". [Al-Fatihah :5 -7]
Pengertian Ash-Shirath Al-Mustaqim adalah Dienullah, yaitu Al-Islam, Al-Iman, ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Ia adalah jalannya orang-orang yang mendapat nikmat dari kalangan ahlul ilmi dan amal,mereka adalah para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik serta pendahulu dari kalangan Rasul beserta pengikutnya.
Inilah shirathal mustaqim, jalan-jalan orang yang Allah telah karuniakan nikmat kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengerti hakekat kebenaran dan beramal dengannya,
sebagaimana firman Allah :
"Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya". [An-Nisaa : 69]
Inilah shirathal mustaqim, jalan para rasul dan para pengikut mereka (semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka) pada khususnya adalah jalan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Berkenan dengan ini kita diperintahkan agar mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, berjalan diatas manhajnya dan manhaj yang ditempuh para sahabat Radhiyallahu anhum (semoga Allah meridhai mereka dan meridhai ilmu dan amalnya).
Allah berfirman :
"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". [At-Tubah : 100]
Yang dimaksud shirath adalah dienullah, ia merupakan wujud apa yang Allah utus bagi Rasul-Nya (risalah Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam) yang berupa ilmu dan amal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.
Ia juga merupakan al-huda dan dienul haq yang dengannya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus. Ash-Shirath adalah apa yang ada pada kitab Allah Jalla wa 'Ala. inilah shirath yang agung, ia merupakan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan upaya menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an yang agung dan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang terpercaya.
Oleh karena itu, maka wajiblah bagi setiap pemeluk Islam agar mendalami Kitabullah, dan mempelajari Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta istiqamah padanya. Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, tercantum penjelasan tentang perintah-perintah dan larangan yang dibawa dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alihi wasallam.
Dan di dalamnya terkandung pula penjelasan tentang akhlak mulia yang dipuji dan disanjung Allah Ta'ala sebagai akhlak mukminin dan mukminat serta memuliakan sifat-sifat dan amal perbuatan mereka yang baik.
JALAN LURUS
Allah berfirman :
"Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa". [Al-An'am : 153]
Dia telah mengajarkan kepada umat manusia sebagaimana tertera dalam Surat Al-Fatihah, yaitu "Al-Hamdu" maknanya ; hendaklah mereka memohon hidayah kepada Allah agar Dia memberi petunjuk shirathal mustaqim. Adapun shirathal mustaqim adalah agama-Nya, yaitu agama yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia adalah Al-Islam, Al-Iman, hidayah, taqwa dan kebaikan.
Allah berfirman :
"Artinya : Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha pemurah lagi Maha Pengasih. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan". [Al-Fatihah : 1-4]
Ini semua adalah sanjungan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sekaligus merupakan pengarahan bagi hamba agar mengakui bahwa sesungguhnya Dia adalah "Al-Ma'bud (yang berhak diibadahi)". dengan sebenar-benarnya. Dia pula tempat memohon pertolongan dalam seluruh urusan. Kemudian Allah mengajarkan kepada mereka agar mengucap :
"Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus".
Ketika manusia memuji dan menyanjung-Nya serta mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa Allah adalah tempat memohon pertolongan, maka Allah mengajarkan mereka agar mengucapkan :
"Artinya : Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat". [Al-Fatihah :5 -7]
Pengertian Ash-Shirath Al-Mustaqim adalah Dienullah, yaitu Al-Islam, Al-Iman, ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih. Ia adalah jalannya orang-orang yang mendapat nikmat dari kalangan ahlul ilmi dan amal,mereka adalah para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik serta pendahulu dari kalangan Rasul beserta pengikutnya.
Inilah shirathal mustaqim, jalan-jalan orang yang Allah telah karuniakan nikmat kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengerti hakekat kebenaran dan beramal dengannya,
sebagaimana firman Allah :
"Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi, para shidiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya". [An-Nisaa : 69]
Inilah shirathal mustaqim, jalan para rasul dan para pengikut mereka (semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka) pada khususnya adalah jalan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Berkenan dengan ini kita diperintahkan agar mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, berjalan diatas manhajnya dan manhaj yang ditempuh para sahabat Radhiyallahu anhum (semoga Allah meridhai mereka dan meridhai ilmu dan amalnya).
Allah berfirman :
"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". [At-Tubah : 100]
Yang dimaksud shirath adalah dienullah, ia merupakan wujud apa yang Allah utus bagi Rasul-Nya (risalah Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam) yang berupa ilmu dan amal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.
Ia juga merupakan al-huda dan dienul haq yang dengannya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus. Ash-Shirath adalah apa yang ada pada kitab Allah Jalla wa 'Ala. inilah shirath yang agung, ia merupakan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan upaya menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an yang agung dan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang terpercaya.
Oleh karena itu, maka wajiblah bagi setiap pemeluk Islam agar mendalami Kitabullah, dan mempelajari Sunnah-sunnah Rasul-Nya serta istiqamah padanya. Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, tercantum penjelasan tentang perintah-perintah dan larangan yang dibawa dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alihi wasallam.
Dan di dalamnya terkandung pula penjelasan tentang akhlak mulia yang dipuji dan disanjung Allah Ta'ala sebagai akhlak mukminin dan mukminat serta memuliakan sifat-sifat dan amal perbuatan mereka yang baik.
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEMBIMBING IBADAH KEPADANYA
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM SEBAGAI PEMBIMBING IBADAH KEPADANYA
Inilah kenyataan dien yang agung dan inilah keadaan Nabi yang mulia yang mendapat keutamaan dari Rabbnya.
Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil 'alamin untuk jin dan manusia, untuk laki-laki dan wanita, untuk Arab dan non Arab. Bahkan dia diutus sebagai rahmat juga bagi mahluk melata,karena Allah perintahkan kepadanya agar berlaku baik, kasih sayang dan santun kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada-Nya.
Allah berfirman :
"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku".[Adz-Dzariyat : 56]
Maknanya : Melainkan agar mereka beribadah dengan ikhlas untuk-Ku, mengesakan Aku, mentaati perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Ini semua akan terwujud dengan pelaksanaan ibadah, yaitu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dengan harap-harap cemas (berharap karunia-Nya dan cemas terhadap adzab-Nya), dengan mengikhlaskan (niat) kepada-Nya, atas dasar iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dengan membenarkan khabar-Nya (Al-Qur'an) dan khabar Nabi-Nya (Al-Hadits) serta memelihara batas-batas aturan-Nya.
Allah memerintahkan hal itu dengan firman-Nya :
"Artinya : Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah Menciptakanmu dan orang sebelum kamu,agar kamu bertaqwa". [Al-Baqarah : 21]
Perintah untuk ibadah ini bersifat menyeluruh, yaitu untuk laki-laki dan wanita, jin dan manusia serta Arab dan non Arab :
Allah berfirman :
Artinya : Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau menserikatkan Allah dengan sesuatu". [An-Nisaa': 36]
Allah berfirman :
"Artinya : Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya ..." [Al-Isra': 23]
Inilah kenyataan dien yang agung dan inilah keadaan Nabi yang mulia yang mendapat keutamaan dari Rabbnya.
Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil 'alamin untuk jin dan manusia, untuk laki-laki dan wanita, untuk Arab dan non Arab. Bahkan dia diutus sebagai rahmat juga bagi mahluk melata,karena Allah perintahkan kepadanya agar berlaku baik, kasih sayang dan santun kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan bahwa diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada-Nya.
Allah berfirman :
"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku".[Adz-Dzariyat : 56]
Maknanya : Melainkan agar mereka beribadah dengan ikhlas untuk-Ku, mengesakan Aku, mentaati perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Ini semua akan terwujud dengan pelaksanaan ibadah, yaitu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dengan harap-harap cemas (berharap karunia-Nya dan cemas terhadap adzab-Nya), dengan mengikhlaskan (niat) kepada-Nya, atas dasar iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dengan membenarkan khabar-Nya (Al-Qur'an) dan khabar Nabi-Nya (Al-Hadits) serta memelihara batas-batas aturan-Nya.
Allah memerintahkan hal itu dengan firman-Nya :
"Artinya : Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah Menciptakanmu dan orang sebelum kamu,agar kamu bertaqwa". [Al-Baqarah : 21]
Perintah untuk ibadah ini bersifat menyeluruh, yaitu untuk laki-laki dan wanita, jin dan manusia serta Arab dan non Arab :
Allah berfirman :
Artinya : Beribadahlah kepada Allah dan janganlah engkau menserikatkan Allah dengan sesuatu". [An-Nisaa': 36]
Allah berfirman :
"Artinya : Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya ..." [Al-Isra': 23]
8.03.2011
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD SAW SEBAGAI PEMBAWA HIDAYAH
Segala puji bagi Allah Rabbul 'Alamin, segala kebaikan teruntuk para muttaqin, shalawat dan salam tercurah bagi hamba-Nya, Rasul-Nya dan makhluk pilihan serta kepercayaan untuk menerima wahyu-Nya, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib Al-Makki Al-Madani. Demikian juga shalawat dan salam tercurah bagi para kerabat dan sahabat serta siapa saja yang meniti jejak di atas jalannya dan mengikuti
petunjuknya hingga akhir zaman.
Amma ba'du.
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM SEBAGAI PEMBAWA
HIDAYAH DAN DIENUL HAQ SERTA PENYEMPURNA AKHLAK
Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Al-Huda dan Dienul Haq.
Al-Huda adalah khabar yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Dienul Haq adalah syari'at dan hukum yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah berfirman :
"Artinya :Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang-orang musyrik benci". [Ash-Shaff : 9]
Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk jin dan manusia, untuk orang Arab dan non Arab, untuk laki-laki dan perempuan. Allah mengutusnya kepada seluruh penduduk dunia sebagai rahmatan (karunia) dan imaman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Diutusnya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengajarkan dan memahamkan manusia tentang agama-Nya, menjelaskan penyebab
keselamatan dan kebinasaan hidup di dunia dan di akhirat, Allah mengutusnya dengan Dienul Islam.
Allah berfirman :
"Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam". [Ali Imran : 19]
Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa hidayah dan Dienul Haq, yaitu dengan membawa kabar yang benar, ilmu yang bermanfaat, syari'at yang lurus serta hukum-hukum yang adil.
Allah mengutusnya untuk menyeru kepada seluruh kebaikan dan mencegah kejahatan. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada akhlak yang mulia dan pebuatan yang baik serta mencegah rendahnya akhlak dan buruknya amal perbuatan.
Allah berfirman :
"Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan". [Saba' : 28]
Allah berfirman :
"Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". [Al-Anbiya' : 107]
Allah berfirman :
"Artinya : Katakanlah : 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi ; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu
mendapat petunjuk". [Al-A'raf : 158]
"Artinya : Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung". [Al-A'raf :157]
petunjuknya hingga akhir zaman.
Amma ba'du.
ALLAH MENGUTUS MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM SEBAGAI PEMBAWA
HIDAYAH DAN DIENUL HAQ SERTA PENYEMPURNA AKHLAK
Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Al-Huda dan Dienul Haq.
Al-Huda adalah khabar yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Dienul Haq adalah syari'at dan hukum yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah berfirman :
"Artinya :Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang-orang musyrik benci". [Ash-Shaff : 9]
Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk jin dan manusia, untuk orang Arab dan non Arab, untuk laki-laki dan perempuan. Allah mengutusnya kepada seluruh penduduk dunia sebagai rahmatan (karunia) dan imaman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Diutusnya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengajarkan dan memahamkan manusia tentang agama-Nya, menjelaskan penyebab
keselamatan dan kebinasaan hidup di dunia dan di akhirat, Allah mengutusnya dengan Dienul Islam.
Allah berfirman :
"Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam". [Ali Imran : 19]
Allah mengutus Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa hidayah dan Dienul Haq, yaitu dengan membawa kabar yang benar, ilmu yang bermanfaat, syari'at yang lurus serta hukum-hukum yang adil.
Allah mengutusnya untuk menyeru kepada seluruh kebaikan dan mencegah kejahatan. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada akhlak yang mulia dan pebuatan yang baik serta mencegah rendahnya akhlak dan buruknya amal perbuatan.
Allah berfirman :
"Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan". [Saba' : 28]
Allah berfirman :
"Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". [Al-Anbiya' : 107]
Allah berfirman :
"Artinya : Katakanlah : 'Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi ; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu
mendapat petunjuk". [Al-A'raf : 158]
"Artinya : Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung". [Al-A'raf :157]
Maafkan dan Berkasihsayanglah
Suatu ketika Rasululah sedang memimpin shalat jama'ah. Tidak seperti biasa, kali ini sujudnya panjang sekali. Para sahabat yang berada di belakangnya mulai resah, terpikir oleh mereka pasti ada sesuatu yang menimpa pada Rasulullah. Ketika shalat usia, mereka bertanya tentang hal tersebut. Nabi menjelaskan bahwa ketika ia sedang bersujud, tiba-tiba Hasan dan Husain cucunya naik ke atas punggungnya. Ia tak segera berdiri sampai sang cucu turun sendiri. Ia khawatir bila ia paksakan berdiri sang cucu akan terjatuh ke lantai.
Di lain waktu Rasulullah sedang berkhutbah. Di tengah khutbahnya tiba-tiba sang cucu berlari menuju ke mimbar. Rasulullah turun dari mimbarnya dan menyambut kedatangan cucunya sembari memberi isyarat agar sang cucu kembali tenang. Tak lama kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya.
Rasulullah adalah manusia yang dipilih Allah dengan sifat yang penuh dengan kasih sayang. Sifat kasihnya tidak terbatas hanya untuk anggota keluarganya, tapi melingkupi seluruh manusia.
Suatu ketika ada seorang ibu sedang menggendong anaknya. Tiba-tiba Rasulullah mendekat dan ingin memangkunya. Maka beralihlah sang anak dari pangkuan ibu kepada pangkuan Rasulullah. Tak disangka-sangka sang anak itu kencing hingga membasahi jubah Rasulullah. Melihat kejadian itu sang ibu langsung merenggut sang anak dari tangan Rasulullah. Sambil mengumpat, sang ibu tak lupa memukul pantat sang anak. Rasulullah mencegahnya, tapi sang ibu tetap memaksa. Atas kejadian tersebut Rasulullah mengingatkan bahwa kotornya jubah bisa dicuci di rumah, tapi kemarahan ibu tetap akan membekas dalam hati sang anak sampai ia menginjak dewasa, dapatkan ibu membersihkannya?
Begitulah sosok manusia yang bernama Muhammad. Beliau tak ingin seorangpun yang terluka hatinya, kecewa, sedih, marah, dan benci kepada sesamanya. Beliau ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain, dengan sekuat daya dan kemampuannya.
Menyayangi keluarga, istri, anak atau cucu, itu hal biasa. Binatang buas sekalipun memberikan kasih sayangnya kepada anggota keluarganya. Macan tetap menyusui anaknya, demikian pula binatang buas lainnya. Untuk itu Rasulullah bersabda:
Tidak sempurna iman kalian sehingga kalian saling berkasih sayang. Para sahabat berkata: Kami sudah saling kasih sayang. Nabi bersabda: "Bahwa sayang yang dimaksud di sini bukan saja sayang sekadar kepada salah seorang temannya, dalam ruang lingkup terbatas, tetapi sayang (yang dimaksud) adalah sayang yang bersifat menyeluruh. (HR. Ath-Thabrani)
Karenanya ia mengajari manusia untuk bersikap lembut dan kasih sayang kepada semua yang melata di muka bumi. Beliau bersabda:
Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya kamu disayang oleh orang yang di langit (yakni para malaikat). (HR. Thabrani)
Bukankah hidup kita di dunia ini atas kasih sayang Allah? Tanpa kasih sayang-Nya tak mungkin kita bisa hidup dan menikmati kehidupan seperti saat ini. Udara disiapkan secara gratis, tanpa ada tagihan rekening. Air disediakn melimpah untuk siapa saja. Matahari, bulan, bintang, dan bumi yang kita injak ini adalah berkat rahmat Allah swt. Sedikit saja rahmat Allah dicabut, hidup kita sangat sengsara. Saluran nafas kita diberi sumbatan sedikit saja sudah kalang kabut hidup kita. Belum lagi jika denyut jantung kita dihentikan sejenak, maka matilah kita.
Suatu ketika 'Aisyah menceritakan kepada Rasulullah saw sebuah peristiwa yang baru saja dilihatnya. Ia melihat seorang ibu dengan dua orang anaknya yang sedang kelaparan. Dalam keadaan seperti itu seseorang memberikan tiga potong roti. Dua diberikan kepada anaknya sedangkan yang sepotong disisakan untuk dirinya. Karena kelaparan sang anak langsung melahap dan menghabiskannya. Tak tega terhadap keinginan kedua anaknya tersebut, sepotong roti bagiannya dibagi dua untuk mereka. Sang ibu rela kelaparan demi anak-anaknya.
Setelah mendengar cerita tersebut, beliau bersabda: Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu yang baru anda ceritakan tadi. Sang ibu yang dikisahkan oleh 'Aisyah itu benar-benar telah menghayati nilai kasih sayang. Ia telah meresapi nilai kasih sayang Tuhan, yang dimplementasikan kepada anak-anaknya. Namun demikian, kasih sayang Allah jauh melebihi demonstrasi kasih sayang ibu tersebut. Atas kasih sayang-Nya kita hidup, dengan kasih sayang-Nya pula kita dapat menikmati kehidupan dunia, dan insya-Allah akan menikmati pula kehidupan akherat, suatu kehidupan yang sesungguhnya. Rasulullah sayang membenci orang-orang yang bersifat kasar, tak berperasaan. Beliau bersabda:
Bahwasanya sejauh-jauh manusia dengan Allah ialah orang-orang yang keras hatinya. (HR. At-Tirmidzi)
Sebagai Rasul yang membawa ajaran baru, beliau tentu saja menghadapi tantangan dan permusuhan yang sangat berat. Caki maki, hinaan, teror mental dan fisik, serta kejaran musuh, serta ancaman pembunuhan selalu menyertai kehidupannya. Akan tetapi dalam menghadapi mereka, Rasululah justru diperintahkan untuk tetap bersikap lemah lembut. Beliau berpantang untuk bersikap keras. Allah berfirman:
"Maka disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka." (QS. Ali Imraan: 159)
Itulah sebanya, ketika beliau berniat hijrah ke Thaif, disambut hujan batu dan pengusiran yang sangat kejam, beliau tetap bersikap lemah lembut. Tak sedikitpun kemarahan nampak pada wajahnya. Ketika Malaikat Jibril datang menawarkan bantuan untuk menghancurkan bani Thaif dengan batu-batu gunung, beliau justru menjawab:
"Allahummahdii qaumii fainnahum laa ya'lamuun, Ya Allah, berilah kaumku petunjuk, sebab mereka belum mengerti." Bani Thaif ketika itu belumlah menjadi kaumnya, bahkan mereka saat itu adalah musuhnya. Akan tetapi dalam do'anya, beliau menyebut mereka sebagai kaumnya. Itulah bentuk kasih sayang Rasulullah yang besar kepada ummat manusia.
Sesungguhnya sifat kasih sayang itu ada dalam jiwa manusia. Besar kecilnya tergantung kepada setiap individu untuk menumbuhkan dan merawatnya. Ada orang-orang yang berhasil membesarkannya, tapi banyak yang gagal sehingga kasih sayangnya tertutupi oleh rasa benci, sombong, dan ambisinya Sebagaimana sifat-sifat yang lain, sifat kasih sayang hendaknya juga dilatih.
Pertama, dengan mengasah kepekaan sosial. Tumbuhkan rasa simpati dan empati kepada sesama.
Kedua, ulurkan tangan, berikanlah bantuan kepada orang-orang yang lemah dan memerlukan bantuan. Ketiga, hiasi penampilan dengan seyum yang manis, perangai yang halus, dan perilaku yang menyenangkan.
Keempat, jaga lisan dari kata-kata kasar, kotor, dan menyakitkan perasaan. Lebih baik diam jika tidak bisa berkata manis dan menyenangkan. Dengan empat langkah di atas, insya-Allah kita tampil menawan, penuh pesona dan wibawa. Semoga.•
Di lain waktu Rasulullah sedang berkhutbah. Di tengah khutbahnya tiba-tiba sang cucu berlari menuju ke mimbar. Rasulullah turun dari mimbarnya dan menyambut kedatangan cucunya sembari memberi isyarat agar sang cucu kembali tenang. Tak lama kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya.
Rasulullah adalah manusia yang dipilih Allah dengan sifat yang penuh dengan kasih sayang. Sifat kasihnya tidak terbatas hanya untuk anggota keluarganya, tapi melingkupi seluruh manusia.
Suatu ketika ada seorang ibu sedang menggendong anaknya. Tiba-tiba Rasulullah mendekat dan ingin memangkunya. Maka beralihlah sang anak dari pangkuan ibu kepada pangkuan Rasulullah. Tak disangka-sangka sang anak itu kencing hingga membasahi jubah Rasulullah. Melihat kejadian itu sang ibu langsung merenggut sang anak dari tangan Rasulullah. Sambil mengumpat, sang ibu tak lupa memukul pantat sang anak. Rasulullah mencegahnya, tapi sang ibu tetap memaksa. Atas kejadian tersebut Rasulullah mengingatkan bahwa kotornya jubah bisa dicuci di rumah, tapi kemarahan ibu tetap akan membekas dalam hati sang anak sampai ia menginjak dewasa, dapatkan ibu membersihkannya?
Begitulah sosok manusia yang bernama Muhammad. Beliau tak ingin seorangpun yang terluka hatinya, kecewa, sedih, marah, dan benci kepada sesamanya. Beliau ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain, dengan sekuat daya dan kemampuannya.
Menyayangi keluarga, istri, anak atau cucu, itu hal biasa. Binatang buas sekalipun memberikan kasih sayangnya kepada anggota keluarganya. Macan tetap menyusui anaknya, demikian pula binatang buas lainnya. Untuk itu Rasulullah bersabda:
Tidak sempurna iman kalian sehingga kalian saling berkasih sayang. Para sahabat berkata: Kami sudah saling kasih sayang. Nabi bersabda: "Bahwa sayang yang dimaksud di sini bukan saja sayang sekadar kepada salah seorang temannya, dalam ruang lingkup terbatas, tetapi sayang (yang dimaksud) adalah sayang yang bersifat menyeluruh. (HR. Ath-Thabrani)
Karenanya ia mengajari manusia untuk bersikap lembut dan kasih sayang kepada semua yang melata di muka bumi. Beliau bersabda:
Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya kamu disayang oleh orang yang di langit (yakni para malaikat). (HR. Thabrani)
Bukankah hidup kita di dunia ini atas kasih sayang Allah? Tanpa kasih sayang-Nya tak mungkin kita bisa hidup dan menikmati kehidupan seperti saat ini. Udara disiapkan secara gratis, tanpa ada tagihan rekening. Air disediakn melimpah untuk siapa saja. Matahari, bulan, bintang, dan bumi yang kita injak ini adalah berkat rahmat Allah swt. Sedikit saja rahmat Allah dicabut, hidup kita sangat sengsara. Saluran nafas kita diberi sumbatan sedikit saja sudah kalang kabut hidup kita. Belum lagi jika denyut jantung kita dihentikan sejenak, maka matilah kita.
Suatu ketika 'Aisyah menceritakan kepada Rasulullah saw sebuah peristiwa yang baru saja dilihatnya. Ia melihat seorang ibu dengan dua orang anaknya yang sedang kelaparan. Dalam keadaan seperti itu seseorang memberikan tiga potong roti. Dua diberikan kepada anaknya sedangkan yang sepotong disisakan untuk dirinya. Karena kelaparan sang anak langsung melahap dan menghabiskannya. Tak tega terhadap keinginan kedua anaknya tersebut, sepotong roti bagiannya dibagi dua untuk mereka. Sang ibu rela kelaparan demi anak-anaknya.
Setelah mendengar cerita tersebut, beliau bersabda: Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu yang baru anda ceritakan tadi. Sang ibu yang dikisahkan oleh 'Aisyah itu benar-benar telah menghayati nilai kasih sayang. Ia telah meresapi nilai kasih sayang Tuhan, yang dimplementasikan kepada anak-anaknya. Namun demikian, kasih sayang Allah jauh melebihi demonstrasi kasih sayang ibu tersebut. Atas kasih sayang-Nya kita hidup, dengan kasih sayang-Nya pula kita dapat menikmati kehidupan dunia, dan insya-Allah akan menikmati pula kehidupan akherat, suatu kehidupan yang sesungguhnya. Rasulullah sayang membenci orang-orang yang bersifat kasar, tak berperasaan. Beliau bersabda:
Bahwasanya sejauh-jauh manusia dengan Allah ialah orang-orang yang keras hatinya. (HR. At-Tirmidzi)
Sebagai Rasul yang membawa ajaran baru, beliau tentu saja menghadapi tantangan dan permusuhan yang sangat berat. Caki maki, hinaan, teror mental dan fisik, serta kejaran musuh, serta ancaman pembunuhan selalu menyertai kehidupannya. Akan tetapi dalam menghadapi mereka, Rasululah justru diperintahkan untuk tetap bersikap lemah lembut. Beliau berpantang untuk bersikap keras. Allah berfirman:
"Maka disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka." (QS. Ali Imraan: 159)
Itulah sebanya, ketika beliau berniat hijrah ke Thaif, disambut hujan batu dan pengusiran yang sangat kejam, beliau tetap bersikap lemah lembut. Tak sedikitpun kemarahan nampak pada wajahnya. Ketika Malaikat Jibril datang menawarkan bantuan untuk menghancurkan bani Thaif dengan batu-batu gunung, beliau justru menjawab:
"Allahummahdii qaumii fainnahum laa ya'lamuun, Ya Allah, berilah kaumku petunjuk, sebab mereka belum mengerti." Bani Thaif ketika itu belumlah menjadi kaumnya, bahkan mereka saat itu adalah musuhnya. Akan tetapi dalam do'anya, beliau menyebut mereka sebagai kaumnya. Itulah bentuk kasih sayang Rasulullah yang besar kepada ummat manusia.
Sesungguhnya sifat kasih sayang itu ada dalam jiwa manusia. Besar kecilnya tergantung kepada setiap individu untuk menumbuhkan dan merawatnya. Ada orang-orang yang berhasil membesarkannya, tapi banyak yang gagal sehingga kasih sayangnya tertutupi oleh rasa benci, sombong, dan ambisinya Sebagaimana sifat-sifat yang lain, sifat kasih sayang hendaknya juga dilatih.
Pertama, dengan mengasah kepekaan sosial. Tumbuhkan rasa simpati dan empati kepada sesama.
Kedua, ulurkan tangan, berikanlah bantuan kepada orang-orang yang lemah dan memerlukan bantuan. Ketiga, hiasi penampilan dengan seyum yang manis, perangai yang halus, dan perilaku yang menyenangkan.
Keempat, jaga lisan dari kata-kata kasar, kotor, dan menyakitkan perasaan. Lebih baik diam jika tidak bisa berkata manis dan menyenangkan. Dengan empat langkah di atas, insya-Allah kita tampil menawan, penuh pesona dan wibawa. Semoga.•
Bahayanya Ahli Bid'ah
Bahayanya Ahli Bid'ah
Penulis: Musthafa Mahmud Adam Al Buthani
Manhaj, 23 - September - 2003, 10:27:10
Di antara fitnah yang sangat berbahaya terhadap dakwah salafiyah adalah seruan pada persatuan antara Ahli Sunnah dengan ahli bid’ah dengan alasan bahwa mereka masih memiliki banyak kebaikan, masih memberikan banyak saham terhadap Islam, demi keadilan, dan alasan-alasan lain yang tidak dapat diterima oleh akal yang sehat lebih-lebih secara naql (nash atau dalil, ed.).
Namun aneh, mereka yang mempunyai pemahaman seperti ini berani menyalahkan ulama Ahli Sunnah ketika para ulama tersebut mengkritik ahli bid’ah sementara mereka sendiri memperalat para ulama Ahli Sunnah dalam hal tazkiyah (pemberian rekomendasi) terhadap ulama mereka.
Mungkin kita sempat tertarik dengan manhaj mereka ini karena kita menganggapnya baik. Akan tetapi kalau kita menelaah kitab para ulama Ahli Sunnah barulah kita mengetahui kebathilan manhaj mereka karena tidak ada seorang ulama pun dari para ulama Ahli Sunnah mempunyai pemahaman seperti itu. Bahkan mereka sangat keras terhadap kebid’ahan dan ahli bid’ah. Di antara pendapat-pendapat mereka tentang ahli bid’ah yaitu :
1. Abu Fadhl Al Hamadzani berkata : “Ahli bid’ah serta orang-orang yang memalsukan hadits lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menentang Islam. Orang-orang kafir bermaksud menghancurkan Islam dari luar sedangkan ahli bid’ah bermaksud menghancurkan Islam dari dalam. Mereka seperti penduduk suatu kampung yang ingin menghancurkan keadaan kampung tersebut sedangkan kaum kuffar bagaikan musuh yang sedang menunggu di luar benteng sampai pintu benteng tersebut dibuka oleh ahli bid’ah. Sehingga ahli bid’ah lebih jelek akibatnya terhadap Islam dibanding orang yang menentang secara terang-terangan.” (Al Maudlu’at Ibnul Jauzi lihat kitab Naqdur Rijal halaman 128)
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya As Siyasah Asy Syar’iyyah halaman 123 mengatakan : “Sekelompok dari kalangan pengikut Imam Syafi’i, Ahmad, dan selainnya memperbolehkan membunuh orang yang berdakwah pada kebid’ahan yang menyelisihi Al Qur’an. Demikian pula pengikut Imam Malik, mereka mengatakan bahwa Imam Malik membolehkan membunuh Qadariyah bukan karena mereka murtad (keluar dari Islam) tetapi karena mereka menyebarkan kerusakan di muka bumi.” (Naqdur Rijal halaman 127)
3. Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata tentang tafsir ayat :
“Hari yang pada waktu itu putih wajah-wajah.”
Yaitu Ahli Sunnah Wal Jamaah dan ayat :
“Dan hitam wajah-wajah.”
Yaitu ahli furqah dan ahli bid’ah. Kita katakan kepada ahli bid’ah:
“Apakah kalian berani kembali pada kekafiran setelah kalian beriman?”
[ Lihat kitab Ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabi oleh Syaikh Ahmad Salam halaman 187 dan Tafsir Ibnu Katsir tafsir surat Ali Imran ayat 106 ]
4. Allah berfirman :
“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat Kami maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang dhalim itu sesudah teringat.” (Al An’am : 68)
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Thabari menyebutkan dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali radliyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata :
“Janganlah kalian duduk dengan orang yang suka berdebat karena mereka itulah orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah.”
5. Fudhail bin ‘Iyadl berkata : “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah niscaya Allah akan menggugurkan amalnya dan mengeluarkan cahaya Islam dari hatinya. Barangsiapa menikahkan anak perempuannya dengan ahli bid’ah maka dia telah memutuskan silaturahminya. Barangsiapa duduk dengan ahli bid’ah maka dia tidak akan diberi hikmah. Dan kalau Allah telah mengetahui bahwa seseorang telah memiliki rasa benci kepada ahli bid’ah maka saya berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.”
6. Sebagian ahli bid’ah berkata kepada Abi ‘Imran An Nakha’i : “Dengarlah dariku satu kata!” Lalu Abu ‘Imran berpaling darinya seraya berkata : “Saya tidak mau mendengar sekalipun setengah kata.” (Lihat Al Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam Al Qurthubi jilid 7 halaman 11)
7. Yahya bin Abi Katsir berkata : “Jika engkau bertemu dengan ahli bid’ah di satu jalan maka carilah jalan lain.” (Asy Syari’ah Al Ajurri. Lihat pula kitab Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan halaman 298)
8. Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki yang dilaporkan kepada Al Auza’i bahwa dia berkata : “Saya duduk bersama Ahli Sunnah dan suatu ketika juga saya duduk dengan ahli bid’ah.” Maka Al Auza’i berkata : “Orang ini ingin menyamakan antara yang haq dengan yang bathil.” (Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan halaman 300)
9. Sebagian ahli bid’ah datang kepada Ibnu Taimiyah dengan niat ingin memperindah dan menghiasi bid’ah mereka di hadapan beliau. Mereka berkata : “Ya Syaikh, betapa banyak orang yang bertaubat karena dakwah kami!” Ibnu Taimiyah berkata : “Mereka taubat dari perbuatan apa?” Kata mereka : “Mereka taubat dari mencuri, merampok, dan lain-lainnya.” Lalu Ibnu Taimiyah menjawab : “Keadaan mereka sebelum bertaubat (karena dakwah kalian, ed.) lebih baik daripada keadaan mereka sekarang, karena sesungguhnya mereka dahulu dalam keadaan fasiq dan meyakini keharaman apa yang mereka kerjakan sehingga mereka selalu mengharap rahmat dari Allah dan mereka ingin bertaubat. Adapun sekarang mereka menjadi sesat dan musyrik akibat dakwah kalian bahkan mereka keluar dari Islam dan mencintai apa yang dibenci Allah dan membenci apa yang disukai Allah … .” Kemudian Ibnu Taimiyah menjelaskan kepada mereka bahwa bid’ah yang mereka kerjakan lebih jelek daripada kemaksiatan lainnya. (Lihat pula kitab Ilmu Ushulil Bida’ halaman 220)
Demikianlah beberapa pendapat ulama Ahli Sunnah tentang hukum bershahabat dengan ahli bid’ah. Dari sini jelaslah bagi kita tentang kebathilan manhaj yang diistilahkan dengan manhaj al inshaf (sururiyah) terhadap ahli bid’ah karena kita lihat begitu keras sikap para ulama Ahli Sunnah terhadap ahli bid’ah. Demikian pula sikap mereka terhadap kitab-kitab ahli bid’ah sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa ahli bid’ah itu lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang Islam. Maka marilah kita menyelamatkan diri kita dari ‘kalajengking-kalajengking’ yang menyembunyikan kepala dan tangan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya, kapan saja mereka mempunyai kesempatan maka mereka langsung menyengat[1] sedangkan kita tidak menyadarinya. Demikianlah perumpamaan ahli bid’ah yang sangat halus caranya untuk menipu umat kepada kebid’ahannya. Tidak ada jalan bagi kita untuk menelaah buku-buku mereka sekarang karena masih tipis ilmu yang kita miliki dan begitu halus politik dan tipu daya mereka.
Kita baru mengetahui politik-politik ahli bid’ah tersebut kalau kita sudah menelaah kitab-kitab mereka yang telah dibantah oleh para ulama Ahli Sunnah.
Contoh Pertama : Seperti seorang sufi yang bernama Hasan Al Banna ketika memberikan muhadlarah (kuliah) di Mesir, dia mengatakan : [ Di sini saya tegaskan bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah karena agama karena Al Qur’an telah menganjurkan kepada kita untuk berkasih sayang dan berteman dengan mereka. Al Qur’an juga telah membuat kesepakatan antara kita dengan mereka. Sebagaimana firman Allah :
“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang terbaik … .” (Al Ankabut : 46)
Juga ketika Al Qur’an menyinggung Yahudi selalu dalam rangka penetapan hukum sebagaimana firman Allah :
“Maka disebabkan kedhaliman orang-orang yahudi Kami haramkan atas mereka (memakan makanan yang baik-baik) yang dahulu dihalalkan bagi mereka … .” (An Nisa’ : 160) ]
Lihat betapa bahaya perkataan semacam ini. Kita harus memahami bahwa jika yang dimaksud oleh Hasan Al Banna di atas ialah permusuhan antara kelompoknya (Ikhwanul Muslimin (IM), ed.) dengan orang yahudi maka benar perkataan di atas (permusuhan IM dengan orang yahudi bukan karena agama, ed.). Akan tetapi jika yang ia maksud ialah seluruh kaum Muslimin, maka hal ini menunjukkan kesesatan yang jelas. Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al Maidah : 82)
“Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al Baqarah : 120)
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa permusuhan antara kita dengan orang yahudi ialah karena agama. Di samping itu juga perlu kita ketahui bahwa orang yahudi adalah kufar sekalipun Hasan Al Banna tidak mengakuinya. (Lihat Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam halaman 153-154)
Contoh Kedua : Seorang mu’tazili yang bernama Yusuf Qardlawi. Kita lihat keberaniannya menolak hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam hanya karena tidak cocok dengan perasaan dan pemikirannya seperti dia menolak hadits :
“Orang yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup tempatnya di neraka.” (HR. Imam Ahmad dari Abi Salamah dan haditsnya shahih. Lihat Kaifa Nata’malu Ma’as Sunnah halaman 96. Lihat pula Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam halaman 186-187[2])
Karena tidak cocok dengan perasaannya dia mengatakan : “Ketika saya membaca hadits ini maka dada saya merasa sempit/goncang, kemudian saya mengatakan : ‘Mungkin hadits ini lemah’.”
Hadits lain yang diingkarinya yaitu riwayat Bukhari Muslim :
Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Jika penduduk Surga telah menempati Surga dan penduduk neraka telah menempati neraka maka maut pun didatangkan di antara Surga dan neraka kemudian disembelih. Kemudian tukang panggil mengumumkan : ‘Wahai penduduk Surga sesungguhnya tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka sesungguhnya tidak ada lagi kematian’. Sehingga penghuni Surga pun bertambah senang dan penghuni neraka pun bertambah sedih.” (HR. Bukhari Muslim)
Qardlawi mengomentari : “Bagaimana mungkin maut disembelih? Apakah mungkin maut mati?” Kemudian dia mengatakan : “Pantas saja Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan demikian kepada para shahabatnya yang memang akal mereka kemampuannya rendah. Sedangkan sekarang, khurafat semacam ini tidak pantas lagi diceritakan karena tidak dapat diterima oleh akal orang sekarang (moderen).” (Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam halaman 196)
Masih banyak lagi perkataan Yusuf Qardlawi yang sangat menyimpang dari kebenaran, seperti terjadinya ikhtilat di madrasah-madrasah Qathr dan lain-lainnya yang juga akibat dari fatwanya. (Lihat Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam)
Contoh Ketiga : Yaitu seorang rafidli (syiah ekstrim) yang mutasattir (berpura-pura) dengan sunnah yang bernama Abul A’la Al Maududi yang tidak hanya mencerca shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahkan para Nabi dan Rasul pun dicercanya sebagaimana dalam kitabnya Al Khilafah wal Mulk. Di antaranya dia menyatakan dalam kitabnya Qur’an Kaifa Jara Baina Yadai Istilahain halaman 156 : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam agar meminta ampun karena kekurangannya dalam menyampaikan risalah Nubuwah[3].”
Dia juga menjelek-jelekkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah, dan ‘Aisyah radliyallahu 'anhuma ajma’in (sebagaimana dalam kitabnya Al Khilafah wal Mulk). Untuk lebih lengkapnya lihat kitab Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam oleh Farid bin Ahmad bin Manshur Alul Bait halaman 84.
Setelah kita melihat perkataan-perkataan di atas timbul pertanyaan di benak kita : “Senangkah kita jika agama dan Nabi kita dihina seperti ini?” Tentu kita tidak senang, bahkan kita harus membelanya dari pelecehan-pelecehan seperti itu. Sekarang timbul pertanyaan lagi setelah itu : “Maukah kita diajak bekerjasama atau menutup mata dari pelecehan semacam itu dengan alasan ‘ala kulli hal (secara umum, ed.) mereka juga masih banyak kebaikan terhadap Islam? Atau dengan alasan karena mereka juga mujtahid? Atau dengan alasan inshaf dan adil?” Tentu akal sehat akan menjawab sebagai berikut :
1. “ … sesungguhnya mereka itulah musuh! Maka waspadalah terhadap mereka.” (Al Munafiqun : 4)
2. “ … maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan atas Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu? … .” (Al An’am : 144)
3. “Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan sesuatu kecuali dusta.” (Al Kahfi : 5)
Atau paling tidak kita menjawab dengan jawaban yang pernah dilontarkan para ulama Ahli Sunah Wal Jamaah seperti :
1. Ucapan Asy Syathibi : “Ahlul bid’ah ialah musuh dan penghancur syariat.” (Al I’tisham jilid 1 halaman 65 tahqiq Salim Al Hilali)
2. Ucapan Umar bin Khaththab radliyallahu 'anhu : “Hati-hatilah kalian dari ashhabir ra’yi (kaum yang menilai kebenaran dengan akalnya) karena sesungguhnya mereka itu adalah musuh-musuh sunnah. Mereka merasa sulit untuk menghapal hadits sehingga mereka berkata dengan akalnya dan akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (Sunan Ad Daruquthni, Al Washaya 4/146, Jami’ Bayanil Ilmi 2/123, dan Al Lalika’i 1/123. Lihat kitab Muqaddimat fil Ahwa’ wal Bida’ oleh Nasir bin Abdul Karim Al ‘Aql halaman 61)
3. Ucapan Said bin Jubair radliyallahu 'anhu : “Kalau seandainya anakku berteman dengan perampok yang sunni maka lebih aku sukai daripada dia berteman dengan ahli ibadah yang mubtadi’ (ahli bid’ah).” (Lihat kitab Ilmu Ushulil Bida’ halaman 218)
4. Perkataan Ibnu Taimiyah : “Sesunguhnya ahli bid’ah itu lebih jelek daripada ahli maksiat yang berupa syahwat. Karena dosa ahli maksiat karena mengerjakan larangan seperti mencuri, zina, minum khamr, atau memakan harta secara bathil. Sedangkan dosa ahli bid’ah yaitu karena meninggalkan perintah untuk mengikuti sunah dan ijma’ kaum Mukminin.” (Ilmu Ushulil Bida’ halaman 219)
Inilah jawaban yang seharusnya kita ucapkan terhadap orang yang mengajak kita untuk berbasa-basi terhadap ahli bid’ah. (Lihat Dakwah Ikhwanul Muslimin halaman 68)
Demikianlah beberapa bahaya ahli bid’ah yang telah menjalar ke dalam tubuh umat ini serta beberapa sikap tegas para ulama dalam rangka menutup pintu bagi bahaya tersebut. Bimbingan para ulama adalah cahaya bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memelihara umat ini dari rongrongan bid’ah dan ahli bid’ah. Amin.
Wallahu A’lam Bis Shawab.
Maraji’ :
1. Al Jami’ li Ahkamil Qur’an. Imam Al Qurthubi.
2. Al I’tisham. Imam Asy Syathibi.
3. Ilmu Ushulil Bida’. Syaikh Ali Hasan.
4. Manhaj Ahli Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali.
5. Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam. Farid bin Ahmad bin Manshur Alul Bait.
6. Muqaddimah fil Ahwa’ wal Bida’. DR. Nashir bin Abdil Karim Al ‘Aql.
7. Ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabi. Syaikh Ahmad Salam.
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Perumpamaan ini ialah perumpamaan bagi ahli bid’ah. Mereka seperti kalajengking maksudnya mereka bergaul dengan orang banyak dengan mencari kesempatan kapan saja untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan (kebid’ahannya, ed.). (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ halaman 291)
[2] Kalaupun seandainya hadits ini dlaif, penilaian Yusuf Qardlawi seperti itu tetap tidak dapat diterima karena para ulama menilai hadits dengan ilmu Musthalahul Hadits, bukan dengan perasaan (seperti caranya Qardlawi, ed.). Maksud hadits tersebut sebenarnya berlaku khusus bagi Mulaikah dan orang yang dikuburnya hidup-hidup sebagaimana pada lafadh seterusnya dalam hadits di atas.
[3] Padahal maksudnya ialah : “Mintalah ampun kepada Allah dengan senantiasa berdzikir kepada-Nya.” (Lihat Al Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 20 oleh Al Qurthubi)
(Oleh Ustadz Musthafa Mahmud Adam Al Buthani, sekarang belajar di Yaman, red. [Dinukil dari majalah SALAFY XXIV/1418/1998/NASEHATI])
Penulis: Musthafa Mahmud Adam Al Buthani
Manhaj, 23 - September - 2003, 10:27:10
Di antara fitnah yang sangat berbahaya terhadap dakwah salafiyah adalah seruan pada persatuan antara Ahli Sunnah dengan ahli bid’ah dengan alasan bahwa mereka masih memiliki banyak kebaikan, masih memberikan banyak saham terhadap Islam, demi keadilan, dan alasan-alasan lain yang tidak dapat diterima oleh akal yang sehat lebih-lebih secara naql (nash atau dalil, ed.).
Namun aneh, mereka yang mempunyai pemahaman seperti ini berani menyalahkan ulama Ahli Sunnah ketika para ulama tersebut mengkritik ahli bid’ah sementara mereka sendiri memperalat para ulama Ahli Sunnah dalam hal tazkiyah (pemberian rekomendasi) terhadap ulama mereka.
Mungkin kita sempat tertarik dengan manhaj mereka ini karena kita menganggapnya baik. Akan tetapi kalau kita menelaah kitab para ulama Ahli Sunnah barulah kita mengetahui kebathilan manhaj mereka karena tidak ada seorang ulama pun dari para ulama Ahli Sunnah mempunyai pemahaman seperti itu. Bahkan mereka sangat keras terhadap kebid’ahan dan ahli bid’ah. Di antara pendapat-pendapat mereka tentang ahli bid’ah yaitu :
1. Abu Fadhl Al Hamadzani berkata : “Ahli bid’ah serta orang-orang yang memalsukan hadits lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menentang Islam. Orang-orang kafir bermaksud menghancurkan Islam dari luar sedangkan ahli bid’ah bermaksud menghancurkan Islam dari dalam. Mereka seperti penduduk suatu kampung yang ingin menghancurkan keadaan kampung tersebut sedangkan kaum kuffar bagaikan musuh yang sedang menunggu di luar benteng sampai pintu benteng tersebut dibuka oleh ahli bid’ah. Sehingga ahli bid’ah lebih jelek akibatnya terhadap Islam dibanding orang yang menentang secara terang-terangan.” (Al Maudlu’at Ibnul Jauzi lihat kitab Naqdur Rijal halaman 128)
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya As Siyasah Asy Syar’iyyah halaman 123 mengatakan : “Sekelompok dari kalangan pengikut Imam Syafi’i, Ahmad, dan selainnya memperbolehkan membunuh orang yang berdakwah pada kebid’ahan yang menyelisihi Al Qur’an. Demikian pula pengikut Imam Malik, mereka mengatakan bahwa Imam Malik membolehkan membunuh Qadariyah bukan karena mereka murtad (keluar dari Islam) tetapi karena mereka menyebarkan kerusakan di muka bumi.” (Naqdur Rijal halaman 127)
3. Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata tentang tafsir ayat :
“Hari yang pada waktu itu putih wajah-wajah.”
Yaitu Ahli Sunnah Wal Jamaah dan ayat :
“Dan hitam wajah-wajah.”
Yaitu ahli furqah dan ahli bid’ah. Kita katakan kepada ahli bid’ah:
“Apakah kalian berani kembali pada kekafiran setelah kalian beriman?”
[ Lihat kitab Ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabi oleh Syaikh Ahmad Salam halaman 187 dan Tafsir Ibnu Katsir tafsir surat Ali Imran ayat 106 ]
4. Allah berfirman :
“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat Kami maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang dhalim itu sesudah teringat.” (Al An’am : 68)
Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Thabari menyebutkan dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali radliyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata :
“Janganlah kalian duduk dengan orang yang suka berdebat karena mereka itulah orang yang memperolok-olok ayat-ayat Allah.”
5. Fudhail bin ‘Iyadl berkata : “Barangsiapa mencintai ahli bid’ah niscaya Allah akan menggugurkan amalnya dan mengeluarkan cahaya Islam dari hatinya. Barangsiapa menikahkan anak perempuannya dengan ahli bid’ah maka dia telah memutuskan silaturahminya. Barangsiapa duduk dengan ahli bid’ah maka dia tidak akan diberi hikmah. Dan kalau Allah telah mengetahui bahwa seseorang telah memiliki rasa benci kepada ahli bid’ah maka saya berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.”
6. Sebagian ahli bid’ah berkata kepada Abi ‘Imran An Nakha’i : “Dengarlah dariku satu kata!” Lalu Abu ‘Imran berpaling darinya seraya berkata : “Saya tidak mau mendengar sekalipun setengah kata.” (Lihat Al Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam Al Qurthubi jilid 7 halaman 11)
7. Yahya bin Abi Katsir berkata : “Jika engkau bertemu dengan ahli bid’ah di satu jalan maka carilah jalan lain.” (Asy Syari’ah Al Ajurri. Lihat pula kitab Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan halaman 298)
8. Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki yang dilaporkan kepada Al Auza’i bahwa dia berkata : “Saya duduk bersama Ahli Sunnah dan suatu ketika juga saya duduk dengan ahli bid’ah.” Maka Al Auza’i berkata : “Orang ini ingin menyamakan antara yang haq dengan yang bathil.” (Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan halaman 300)
9. Sebagian ahli bid’ah datang kepada Ibnu Taimiyah dengan niat ingin memperindah dan menghiasi bid’ah mereka di hadapan beliau. Mereka berkata : “Ya Syaikh, betapa banyak orang yang bertaubat karena dakwah kami!” Ibnu Taimiyah berkata : “Mereka taubat dari perbuatan apa?” Kata mereka : “Mereka taubat dari mencuri, merampok, dan lain-lainnya.” Lalu Ibnu Taimiyah menjawab : “Keadaan mereka sebelum bertaubat (karena dakwah kalian, ed.) lebih baik daripada keadaan mereka sekarang, karena sesungguhnya mereka dahulu dalam keadaan fasiq dan meyakini keharaman apa yang mereka kerjakan sehingga mereka selalu mengharap rahmat dari Allah dan mereka ingin bertaubat. Adapun sekarang mereka menjadi sesat dan musyrik akibat dakwah kalian bahkan mereka keluar dari Islam dan mencintai apa yang dibenci Allah dan membenci apa yang disukai Allah … .” Kemudian Ibnu Taimiyah menjelaskan kepada mereka bahwa bid’ah yang mereka kerjakan lebih jelek daripada kemaksiatan lainnya. (Lihat pula kitab Ilmu Ushulil Bida’ halaman 220)
Demikianlah beberapa pendapat ulama Ahli Sunnah tentang hukum bershahabat dengan ahli bid’ah. Dari sini jelaslah bagi kita tentang kebathilan manhaj yang diistilahkan dengan manhaj al inshaf (sururiyah) terhadap ahli bid’ah karena kita lihat begitu keras sikap para ulama Ahli Sunnah terhadap ahli bid’ah. Demikian pula sikap mereka terhadap kitab-kitab ahli bid’ah sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa ahli bid’ah itu lebih berbahaya daripada orang-orang kafir yang jelas-jelas menentang Islam. Maka marilah kita menyelamatkan diri kita dari ‘kalajengking-kalajengking’ yang menyembunyikan kepala dan tangan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya, kapan saja mereka mempunyai kesempatan maka mereka langsung menyengat[1] sedangkan kita tidak menyadarinya. Demikianlah perumpamaan ahli bid’ah yang sangat halus caranya untuk menipu umat kepada kebid’ahannya. Tidak ada jalan bagi kita untuk menelaah buku-buku mereka sekarang karena masih tipis ilmu yang kita miliki dan begitu halus politik dan tipu daya mereka.
Kita baru mengetahui politik-politik ahli bid’ah tersebut kalau kita sudah menelaah kitab-kitab mereka yang telah dibantah oleh para ulama Ahli Sunnah.
Contoh Pertama : Seperti seorang sufi yang bernama Hasan Al Banna ketika memberikan muhadlarah (kuliah) di Mesir, dia mengatakan : [ Di sini saya tegaskan bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah karena agama karena Al Qur’an telah menganjurkan kepada kita untuk berkasih sayang dan berteman dengan mereka. Al Qur’an juga telah membuat kesepakatan antara kita dengan mereka. Sebagaimana firman Allah :
“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang terbaik … .” (Al Ankabut : 46)
Juga ketika Al Qur’an menyinggung Yahudi selalu dalam rangka penetapan hukum sebagaimana firman Allah :
“Maka disebabkan kedhaliman orang-orang yahudi Kami haramkan atas mereka (memakan makanan yang baik-baik) yang dahulu dihalalkan bagi mereka … .” (An Nisa’ : 160) ]
Lihat betapa bahaya perkataan semacam ini. Kita harus memahami bahwa jika yang dimaksud oleh Hasan Al Banna di atas ialah permusuhan antara kelompoknya (Ikhwanul Muslimin (IM), ed.) dengan orang yahudi maka benar perkataan di atas (permusuhan IM dengan orang yahudi bukan karena agama, ed.). Akan tetapi jika yang ia maksud ialah seluruh kaum Muslimin, maka hal ini menunjukkan kesesatan yang jelas. Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al Maidah : 82)
“Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al Baqarah : 120)
Dua ayat di atas menunjukkan bahwa permusuhan antara kita dengan orang yahudi ialah karena agama. Di samping itu juga perlu kita ketahui bahwa orang yahudi adalah kufar sekalipun Hasan Al Banna tidak mengakuinya. (Lihat Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam halaman 153-154)
Contoh Kedua : Seorang mu’tazili yang bernama Yusuf Qardlawi. Kita lihat keberaniannya menolak hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam hanya karena tidak cocok dengan perasaan dan pemikirannya seperti dia menolak hadits :
“Orang yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup dan yang dikubur hidup-hidup tempatnya di neraka.” (HR. Imam Ahmad dari Abi Salamah dan haditsnya shahih. Lihat Kaifa Nata’malu Ma’as Sunnah halaman 96. Lihat pula Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam halaman 186-187[2])
Karena tidak cocok dengan perasaannya dia mengatakan : “Ketika saya membaca hadits ini maka dada saya merasa sempit/goncang, kemudian saya mengatakan : ‘Mungkin hadits ini lemah’.”
Hadits lain yang diingkarinya yaitu riwayat Bukhari Muslim :
Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Jika penduduk Surga telah menempati Surga dan penduduk neraka telah menempati neraka maka maut pun didatangkan di antara Surga dan neraka kemudian disembelih. Kemudian tukang panggil mengumumkan : ‘Wahai penduduk Surga sesungguhnya tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk neraka sesungguhnya tidak ada lagi kematian’. Sehingga penghuni Surga pun bertambah senang dan penghuni neraka pun bertambah sedih.” (HR. Bukhari Muslim)
Qardlawi mengomentari : “Bagaimana mungkin maut disembelih? Apakah mungkin maut mati?” Kemudian dia mengatakan : “Pantas saja Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan demikian kepada para shahabatnya yang memang akal mereka kemampuannya rendah. Sedangkan sekarang, khurafat semacam ini tidak pantas lagi diceritakan karena tidak dapat diterima oleh akal orang sekarang (moderen).” (Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam halaman 196)
Masih banyak lagi perkataan Yusuf Qardlawi yang sangat menyimpang dari kebenaran, seperti terjadinya ikhtilat di madrasah-madrasah Qathr dan lain-lainnya yang juga akibat dari fatwanya. (Lihat Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam)
Contoh Ketiga : Yaitu seorang rafidli (syiah ekstrim) yang mutasattir (berpura-pura) dengan sunnah yang bernama Abul A’la Al Maududi yang tidak hanya mencerca shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bahkan para Nabi dan Rasul pun dicercanya sebagaimana dalam kitabnya Al Khilafah wal Mulk. Di antaranya dia menyatakan dalam kitabnya Qur’an Kaifa Jara Baina Yadai Istilahain halaman 156 : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam agar meminta ampun karena kekurangannya dalam menyampaikan risalah Nubuwah[3].”
Dia juga menjelek-jelekkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah, dan ‘Aisyah radliyallahu 'anhuma ajma’in (sebagaimana dalam kitabnya Al Khilafah wal Mulk). Untuk lebih lengkapnya lihat kitab Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam oleh Farid bin Ahmad bin Manshur Alul Bait halaman 84.
Setelah kita melihat perkataan-perkataan di atas timbul pertanyaan di benak kita : “Senangkah kita jika agama dan Nabi kita dihina seperti ini?” Tentu kita tidak senang, bahkan kita harus membelanya dari pelecehan-pelecehan seperti itu. Sekarang timbul pertanyaan lagi setelah itu : “Maukah kita diajak bekerjasama atau menutup mata dari pelecehan semacam itu dengan alasan ‘ala kulli hal (secara umum, ed.) mereka juga masih banyak kebaikan terhadap Islam? Atau dengan alasan karena mereka juga mujtahid? Atau dengan alasan inshaf dan adil?” Tentu akal sehat akan menjawab sebagai berikut :
1. “ … sesungguhnya mereka itulah musuh! Maka waspadalah terhadap mereka.” (Al Munafiqun : 4)
2. “ … maka siapakah yang lebih dhalim daripada orang-orang yang membuat kedustaan atas Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu? … .” (Al An’am : 144)
3. “Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan sesuatu kecuali dusta.” (Al Kahfi : 5)
Atau paling tidak kita menjawab dengan jawaban yang pernah dilontarkan para ulama Ahli Sunah Wal Jamaah seperti :
1. Ucapan Asy Syathibi : “Ahlul bid’ah ialah musuh dan penghancur syariat.” (Al I’tisham jilid 1 halaman 65 tahqiq Salim Al Hilali)
2. Ucapan Umar bin Khaththab radliyallahu 'anhu : “Hati-hatilah kalian dari ashhabir ra’yi (kaum yang menilai kebenaran dengan akalnya) karena sesungguhnya mereka itu adalah musuh-musuh sunnah. Mereka merasa sulit untuk menghapal hadits sehingga mereka berkata dengan akalnya dan akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (Sunan Ad Daruquthni, Al Washaya 4/146, Jami’ Bayanil Ilmi 2/123, dan Al Lalika’i 1/123. Lihat kitab Muqaddimat fil Ahwa’ wal Bida’ oleh Nasir bin Abdul Karim Al ‘Aql halaman 61)
3. Ucapan Said bin Jubair radliyallahu 'anhu : “Kalau seandainya anakku berteman dengan perampok yang sunni maka lebih aku sukai daripada dia berteman dengan ahli ibadah yang mubtadi’ (ahli bid’ah).” (Lihat kitab Ilmu Ushulil Bida’ halaman 218)
4. Perkataan Ibnu Taimiyah : “Sesunguhnya ahli bid’ah itu lebih jelek daripada ahli maksiat yang berupa syahwat. Karena dosa ahli maksiat karena mengerjakan larangan seperti mencuri, zina, minum khamr, atau memakan harta secara bathil. Sedangkan dosa ahli bid’ah yaitu karena meninggalkan perintah untuk mengikuti sunah dan ijma’ kaum Mukminin.” (Ilmu Ushulil Bida’ halaman 219)
Inilah jawaban yang seharusnya kita ucapkan terhadap orang yang mengajak kita untuk berbasa-basi terhadap ahli bid’ah. (Lihat Dakwah Ikhwanul Muslimin halaman 68)
Demikianlah beberapa bahaya ahli bid’ah yang telah menjalar ke dalam tubuh umat ini serta beberapa sikap tegas para ulama dalam rangka menutup pintu bagi bahaya tersebut. Bimbingan para ulama adalah cahaya bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memelihara umat ini dari rongrongan bid’ah dan ahli bid’ah. Amin.
Wallahu A’lam Bis Shawab.
Maraji’ :
1. Al Jami’ li Ahkamil Qur’an. Imam Al Qurthubi.
2. Al I’tisham. Imam Asy Syathibi.
3. Ilmu Ushulil Bida’. Syaikh Ali Hasan.
4. Manhaj Ahli Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali.
5. Da’watul Ikhwanil Muslimin fi Mizanil Islam. Farid bin Ahmad bin Manshur Alul Bait.
6. Muqaddimah fil Ahwa’ wal Bida’. DR. Nashir bin Abdil Karim Al ‘Aql.
7. Ma Ana ‘Alaihi wa Ashhabi. Syaikh Ahmad Salam.
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Perumpamaan ini ialah perumpamaan bagi ahli bid’ah. Mereka seperti kalajengking maksudnya mereka bergaul dengan orang banyak dengan mencari kesempatan kapan saja untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan (kebid’ahannya, ed.). (Lihat Ilmu Ushulil Bida’ halaman 291)
[2] Kalaupun seandainya hadits ini dlaif, penilaian Yusuf Qardlawi seperti itu tetap tidak dapat diterima karena para ulama menilai hadits dengan ilmu Musthalahul Hadits, bukan dengan perasaan (seperti caranya Qardlawi, ed.). Maksud hadits tersebut sebenarnya berlaku khusus bagi Mulaikah dan orang yang dikuburnya hidup-hidup sebagaimana pada lafadh seterusnya dalam hadits di atas.
[3] Padahal maksudnya ialah : “Mintalah ampun kepada Allah dengan senantiasa berdzikir kepada-Nya.” (Lihat Al Jami’ li Ahkamil Qur’an jilid 20 oleh Al Qurthubi)
(Oleh Ustadz Musthafa Mahmud Adam Al Buthani, sekarang belajar di Yaman, red. [Dinukil dari majalah SALAFY XXIV/1418/1998/NASEHATI])
Langganan:
Postingan (Atom)